Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 134 ~ Kunjungan Cakra


__ADS_3

Seperti janji yang telah Cakra ucapkan pada istrinya, pria itu berkunjung ke rumah sakit setelah pulang kerja, namun sebelum itu, dia tidak lupa menjemput Liam yang sejak kemarin terus mempertanyakan Eril. Cakra mengendong putranya di koridor rumah sakit, di belakang ada Rocky yang lagi-lagi terpaksa ikut lantaran Cakra menyuruhnya membawa sesuatu.


Sepanjang jalan, ketiga pria tampan berbeda generasi itu sama-sama memasang wajah datar, tetapi sayangnya sangat tampan. Langkah Cakra memelan setelah sampai di depan ruangan perawatan Rahma. Rocky yang menyadarinya bergerak cepat untuk membukakan pintu dengan sebelah tangan, sementara sebelahnya lagi membawa buah-buahan dan skincare dan printilan-printilan lainnya yang dikhususkan untuk bayi.


"Tuan Cakra?" Eril membulatkan matanya, tidak percaya akan kedatangan Cakra juga kakaknya di rumah sakit tersebut. Dia tersenyum, segera mengambil alih barang bawaan yang ada di tangan Rocky.


"Om Eyil!" seru Liam sambil merentangkan tangannya. Eril yang melihat itu langsung saja mengambil alih Liam dari gendongan Cakra. Keduanya bertos ria seakan teman yang sangat akrab. "Om Eyil mana? Om Eyil malah sama Liam?" tanya bocah kecil yang kini berada di gendongan Eril.


"Mana mungkin saya berani marah sama Tuan muda, hm? Saya hanya mengambil cuti karena lagi nemenin tante cantik sama dedeknya," ucap Eril antusias.


Pria itu menundukkan kepalanya pada Cakra yang beralih duduk di sofa, kemudian membawa Liam menuju Rahma yang sedang membelakangi Cakra dan Rocky, sebab bayi itu sedang menyusu di balik kain.


"Om Eyil punya dedek?" tanya Liam mencari keberadaan makhluk mungil seperti yang ada di rumahnya, tetapi tidak menemukan. Yang hanya bocah kecil itu temui adalah tante cantik yang sedang tersenyum.


"Dedeknya lagi bobo," ucap Rahma. Wanita itu bergerak pelan untuk memperbaiki pakaiannya agar tidak ada aurat yang terlihat, kemudian membuka kain tipis yang menutupi tubuhnya juga sang bayi.

__ADS_1


Tepat saat kain tipis itu terbuka, mata sipit Liam membola. Bocah kecil itu melebarkan senyumnya lantaran melihat makhluk mungil.


"Dedek Liam!" pekik Liam. Bocah itu meronta meminta diturunkan. Berdiri di atas kursi dan meraih tangan mungil bayi tanpa nama tersebut. "Liam bawa pulang?" Liam mendongak untuk menatap Eril.


"Liam punya dedek di rumah," celetuk Cakra.


"Mau banyak!" sahut Liam.


"Ntar papa buat lagi, ayo sini! Dedeknya mau bobo."


Sementara Eril membantu Rahma turun dari brangkar secara hati-hati, kemudian mengendong bayi laki-laki yang sampai sekarang belum diberi nama. Eril ikut bergabung dengan Cakra dan Rocky, begitupun dengan Rahma meski cukup berjarak.


"Terimakasih sudah bersedia menjenguk saya dan bayi saya, Tuan," ucap Rahma ramah, tetapi urung mengangkat kepalanya.


"Sama-sama. Ah ya, istri saya nitip salam, katanya tidak bisa datang."

__ADS_1


"Sampaikan terimakasih saya, sama Mbak Liora," sahut Rahma lagi.


Berbeda dengan Rocky yang sejak tadi tatapannya tertuju pada sang adik yang sangat asik bermain bersama bayi mungil yang dia gendong. Sampai sekarang dia tidak akan terima jika adiknya bekerja keras hanya untuk membesarkan darah daging pria brengs*ek yang tidak tahu asal usulnya.


"Istri kamu keluar kapan?" tanya Cakra setelah lama terdiam.


"Besok atau lusa, Tuan. Ada apa?"


"Setelah istri kamu keluar dari rumah sakit, maka langsung masuk bekerja. Ada banyak pekerjaan yang harus kamu tangani," ucap Cakra dengan wajah datarnya.


"Baik, Tuan," sahut Eril cepat meski belum rela membiarkan Rahma beraktivitas sendirian padahal baru melahirkan. Tetapi apa boleh buat, dia hanya seorang bawahan yang harus mendengarkan dan melaksanakan setiap perintah Cakra.


Pria itu ikut beranjak ketika Cakra dan Rocky berdiri. Sebenarnya sampai saat ini Eril masih menunggu ucapan selamat dari kakaknya, tetapi mulut Rocky seakan terkunci dan bersikap seolah-olah mereka bukanlah keluarga.


"Kak Rocky, apa kakak tidak melupakan sesuatu?" tanya Eril.

__ADS_1


"Tidak ada!"


__ADS_2