Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 98


__ADS_3

"Jangan bicara apapun pada Nyonya Liora! Tugasmu hanya menjaga jangan terlalu lancang! Jangan mengatakan hal-hal seperti tadi, karena itu sudah resiko kita di sini!" ucap Rocky penuh ketegasan.


"Iya Bang, aku salah," lirih Eril menundukkan kepalanya, selain takut dengan Cakra, dia juga takut pada kakaknya itu.


"Memang salah!" Rocky segera meninggalkan Eril seorang diri, laki-laki berwajah datar tapi peka itu datang untuk menemui tuannya.


Memang Eril dan Rocky berbeda pekerjaan, tempat saja mereka sangat berbeda. Rocky berada di luar rumah, sementara Eril ada di dalam rumah. Dengan kata lain jika terjadi sesuatu di dalam rumah, maka Eril yang bertangung jawab, begitu pula sebaliknya.


Rocky berdehem sebentar setelah berada si ruang kerja Cakra.


"Semua proyek yang ada di desa luwut sudah selesai Tuan," lapor Rocky.


"Jangan sampai semua rencana yang sudah saya susun sejak lama berantakan! Ah iya apa kau sudah mengganti ukuran gaun?"


"Saya sudah mengabari desainernya Tuan. Perkiraan saat ulang tahun istri Anda, usia kandungannya memasuki lima bulan."


"Kamu memang bisa di andalkan, selalu tahu apa yang saya ingingkan tanpa saya katakan."


"Terimakasih atas pujiannya Tuan, tapi apa boleh saya meminta sesuatu?"


"Silahkan!"


"Apakah Anda bisa memecat Eril sekarang? Saya sudah kembali," pinta Rocky.


Alis Cakra saling bertaut. Memecat? Sungguh itu tidak pernah ada dalam rencananya, terlebih Rocky dan Eril sudah dia anggap sebagai saudara.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Saya ingin dia melanjutkan S2 nya di luar kota, itupun jika anda mengizinkan."


"Ah saya kira ada sesuatu yang serius. Itu tidak masalah, kirim saja Eril, saya yang akan membiayai semua ...."


"Maaf Tuan bukannya saya ingin menolak kebaikan Anda, tapi sepertinya itu tidak perlu, kami sudah banyak menyusahkan Anda."


Cakra menghembuskan nafas panjang. "Terserah kamu saja."


Cakra bangkit dari duduknya. "Belilah kucing yang menurut kamu lucu untuk Liam!" Usai mengatakan hal tersebut, Cakra meninggalkan ruang kerjanya dan menuju kamar untuk menemui sang istri.


Sudah jam 9 malam, jadi waktunya untuk istirahat sejenak.


Senyuman Cakra mengembang ketika melihat istrinya di dalam kamar, sayangnya wanita cantik itu tidak menyadari keberadaanya karena sibuk mondar mandir seperti mencari sesuatu.


"Sayang, lagi cariin apa?"


"Mas? Mas tidur duluan saja, aku mau kedapur dulu!" jawab Liora tidak sesuai dengan pertanyaan Cakra.


Wanita cantik itu berjalan menuju dapur dan membuka satu persatu laci mencari sesuatu.


"Tidak ada satupun, padahal pengen banget," guman Liora dengan raut wajah sedih.


Dia kembali ke kamar untuk menemui Cakra. "Mas aku minta uang boleh?" tanya Liora duduk di pinggir ranjang menghadap Cakra yang tengah bersandar di kepala dipan.

__ADS_1


"Berapa Sayang?"


"Lima."


"Liam juta? Tunggu mas Tf dulu." Cakra meraih ponselnya di atas nakas. "Untuk apa uangnya?"


"Bukan lima juta," selak Liora.


"Lima belas juta? Lima puluh juta?" Liora mengeleng sebagai jawaban.


"Lima ribu, aku mau beli sesuatu."


"Kok cuma lima ribu? Memangnya cukup buat apa Sayang?" heran Cakra sekaligus gemas. Bisa-bisanya Liora meminta uang lima ribu, harusnya lima puluh lah paling dikit.


"Beli indomie goreng, aku kangen sama mie instan yang ada di kedai-kedai. Pernah nyuruh pelayan buat malah di buatin yang mewah-mewah rasanya beda," ucap Liora dengan bibir manyun.


Sudah satu minggu lamanya Liora ingin makan mie goreng, setiap kali meminta tolong pada pelayan rasanya tidak sama. Sejak tadi dia mondar mandir mencari mie atau uang kembalian tapi juga tidak mendapatkan apapun, alhasil meminta pada sang suami.


"Ayo!"


"Kemana?" tanya Liora tapi tetap saja mengikuti langkah Cakra keluar dari kamar.


"Beli mie, biar anak kita nggak ileran."


"Udah ileran soalnya mas gagal jadi tukang ojek!"

__ADS_1


__ADS_2