
"Liora!"
Tidur nyengak Liora harus terganggu dengan teriakan Cakra jam 3 dini hari. Dengan mata sedikit terbuka, wanita cantik itu bangun dan duduk sila di atas ranjang.
Liora menguncang tubuh Cakra yang terus berteriak memanggil namanya berulang kali.
"Mas, bangun ih, berisik banget, aku ngantuk," ucap Liora tidak henti-hentinya menguncang tubuh Cakra.
Tidak sia-sia Liora melakukannya, terbukti Cakra langsung membuka mata. Mulut Liora terbuka lebar ketika laki-laki tampan itu bangun dan langsung memeluknya sangat erat dengan tubuh bergetar hebat.
"Mas kenapa? Mas mimpi buruk?" tanya Liora sangat lembut seraya mengusap punggung kekar Cakra.
Cakra mengangguk sebagai jawaban. "Mimpi yang sangat buruk sampai aku tidak ingin mendapatkannya lagi," guman Cakra masih memeluk Liora. "Jangan tinggalin mas Sayang, mas janji tidak akan buat kamu menangis," lanjutnya.
Liora tertawa menanggapi sikap suaminya itu. Susah paya Liora mendorong tubuh Cakra hingga pelukan laki-laki tampan itu terlepas.
"Memangnya mas mimpi apa, hah?"
"Mimpi kamu nikah sama Wildan," jawab Cakra dengan bibir manyun, itu membuat tawa Liora semakin kencang.
"Mas? Jadi mimpi buruknya cuma itu?" tanya Liora berusaha menahan tawa tapi itu sama sekali tidak berhasil. Bukan apanya Liora ingin berhenti tertawa, dia tidak mau Cakra ngambek. Wajah tampan suaminya sudah merah padam entah karena apa.
Masih setengah tertawa, Liora menangkup kedua pipi suaminya kemudian membenamkan bibirnya di bibir Cakra tapi hanya sejenak.
"Suamiku Sayang, sekarang aku di sini sama kamu. Ada Liam dan calon anak kita. Tidak mungkin aku menikah sama Wildan bagaimana sih. Ini pasti karena mikirin kata-kata aku tadi, hayo ngaku?" goda Liora. Rasa kantuk wanita cantik itu langsung menghilang karena tertawa.
"Tau ah, mas males sama kamu. Orang lagi mimpi buruk malah di ketawain." Cakra menghempaskan tangan Liora pelan.
Benarkan dugaan Liora? Cakra ngambek hanya karena hal sepele seperti ini? Sungguh Cakra melebih sikap Liam. Mungkun sikap Liam lebih manusiawi dibading Cakra.
__ADS_1
"Utu-utu suami tampan aku ngambek. Sini peluk Sayang!" Liora merentangkan tangannya seraya tersenyum manis. "Ayo jengkuk dedeknya Liam sebelum adzan, biar sekalian mandi!" Ajak Liora tanpa menurunkan rentangan tangannya.
Salah satu alis Liora terangkat ketika melihat Cakra hanya bergeming, tidak turun di ranjang, tidak menyambut pelukannnya juga.
"Ya sudah aku tidur la ...."
Hap
Tawa Liora pecah ketika Cakra langsung menyambut pelukannya seperti anak kecil.
"Sudah berselera sama suami kamu ini?" tanya Cakra menempelkan pipinya di dada Liora.
"Iya, ayo jengkuk dedeknya sebelum adzan Sayang!" Ajak Liora membuat senyuman Cakra merekah seketika.
Tanpa menunggu Cakra, Liora langsung merebahkan tubuhnya menunggu Cakra untuk menindihnya. Senyuman Liora lagi-lagi kembali mengembang ketika Cakra sudah berada di atas tubuhnya.
Wanita cantik itu langsung melingkarkan tangannya di leher Cakra kemudian mengangkat kepalanya untuk membenamkan bibirnya di sana. Dia menunggu balasan dari sang suami.
"Mulai nakal kamu, hm?" tanya Cakra mengusap bibir Liora yang kini basah karena air luar mereka sendiri.
"Sama suami sendirikan tidak apa-apa," ucap Liora sengaja mendesah tepat di telinga Cakra, membuat sesuatu yang ada bawah sana ikut terpancing.
"Ck." Cakra berdecak kasar.
Dengan tidak sabaran, laki-laki tampan itu langsung melepas baju kaos yang dia kenakan, kemudian kembali meraup bibir Liora yang terlihat sangat menggoda.
Sebelah tangan Cakra merayal masuk ke piyama Liora lalu meremas benda kenyal tidak bertulang tersebut, membuat pemiliknya semakin menggila dan membusungkan dadanya.
"Merdu banget suara kamu Sayang," bisik Cakra semakin melakukan hal lebih pada tubuh istrinya.
__ADS_1
Cakra semakin aktif di atas tubuh Liora hingga tidak sadar keduanya sudah tidak memakai apapun selain selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.
Liora mengigit bibir bawahnya ketika Cakra terus bergerak sangat pelan, itu sudah berlangsung lama yang membuat Liora seperti ingin menjerit saja.
"Mas?"
"Hm."
"Ak-aku."
"Katanya pelan-pelan," bisik Cakra dengan senyum simpulnya.
.
.
.
.
.
.
Mas aku boleh minta uang?
...****************...
Hayo loh Papa bucin lagi ngapain?
__ADS_1