
Cakra, pria itu diam-diam memperhatikan ruangan Zayn yang cukup luas dan sangat tertata rapi. Dia duduk di sofa di dampingi oleh Rocky yang setia berdiri di belakangnya. Di depan pria itu, ada Zayn yang duduk dengan angkuhnya seolah-olah yang butuh di sini adalah Cakra, padahl malah sebaliknya.
Cakra merubah posisinya menjadi tegap. Menyatukan kedua tangannya dengan jari-jari saling mengunci satu sama lain. Tatapan pria itu terhunus tajam tanpa ada rasa takut pada ceo Z Group yang ternyata mempunyai beberapa catatan hitam di masa lalu, hanya saja tertutupi karena kekuasaan papanya.
"Sebuah kehormatan perusahaan Z gorup dihadiri oleh ceo Alexander yang jaringannya ada di mana-mana," ucap Zayn memulai pembicaraan karena Cakra tidak kunjung bicara.
"Tidak perlu berbasa-basi. Kedatangan saya ke sini untuk menawarkan kerjasama antar perusahaan, itupun jika Anda setuju Tuan Zayn," ucap Cakra dengan senyum menawannya.
"Kerjasama?" Zayn tertawa. Dia merasa lucu akan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Cakra. Pria arogan, berbaik hati menolongnya? Itu menjadi tanda tanya besar untuk Zayn sebagai pengusaha muda yang cukup serakah. "Yang benar saja, Tuan. Kita itu Rival dalam bisni, saya curiga akan sesuatu," ucap Zayn.
"Terserah apa keputuan Anda, kebaikan hati saya bisa berubah kapan saja sesuai mood dan perilaku orang-orang di sekitar. Kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali, jadi pikirkanlah dengan matang. Lagi pula, saya bukan tipe pengusaha yang mencampuradukkan perusahaan dengan masalah pribadi."
Cakra mengancingkan jasnya yang sengaja dia lepas tadi, pria itu berdiri ketika merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, terlebih dia bukan orang yang punya kesabaran seluas samudra untuk membujuk seseorang.
__ADS_1
"Berikan kontraknya!" perintah Cakra pada Rocky.
Rocky dengan sigap meletakkan berkas yang sejak tadi dia bawa ke atas meja. "Waktu berpikir Anda 24 jam," ujar Rocky dan berlalu pergi menyusul atasannya yang telah keluar dari ruangan Zayn. Diam-diam Rocky tersenyum licik, dia yakin cara jual mahal dan arogan Cakra akan membuahkan hasil yang memuaskan, terlebih para pemegang saham yang tersisa mulai berpihak padanya.
"Kau mencari seseorang?" tanya Cakra ketika mereka berada di dalam lift yang akan membawa keduanya ke basamen bawah tanah.
Rocky terkesiap mendengar pertanyaan atasnnya yang cukup ambigu. "Maksud Anda?"
"Saya bertanya bukan ingin menjawab," ujar Cakra dengan lirikan mata setajam pisau yang siap membelah tubuh Rocky detik itu juga.
"Jika tidak menjawab, saya menganggap kau berkhianat," ujar Cakra. Pria itu melangkah keluar dari lift, berjalan menuju mobill putih yang terparkir cukup jauh dari lift.
Sementara Rocky yang ditanya masih saja terdiam lantaran tidak tahu harus menjawab apa. Dia benci mengakui telah membuat kesahalan sebesar itu, terlebih selama ini di jarang membuat kesalahan. Rocky berjalan cepat, bahkan mendahului Cakra untuk membukakan pintu, setelahnya menyusul dan mengemudikan benda besi itu meninggalkan linkungan perusahaan Z group.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, terjadi keheningan beberapa saat, hingga akhirnya terpecah kerena deringan telpon salah satu dari mereka. Cakra yang mendengar itu melirik gerak-gerik Rocky yang sangat mencurigakan, bahkan untuk pertama kalinya menolak telpon di hadapanya.
"Sepertinya kau butuh istirahat beberapa hari. Besok, Eril yang akan menggantikan posisi mu hingga beberapa hari ke depan.
"Tidak, Tuan. Saya baik-baik saja, ini hanya masalah kecil antara saya dengan seorang pencuri," jawab Rocky cepat terlebih saat menyadari raut wajah Cakra yang sangat tidak bersahabat.
"Kalau begitu antar saya pulang!"
"Bakik, Tuan."
Rocky menambah kecepatan mobilnya ketika melihat jalanan di depannya cukup lenggang. Sesekali dia melirik ponselnya yang tadi berdering. Panggilan itu dari orang yang mencari Alea ke mana-mana. Sejak satu bulan terakhir, Rocky mengalami insomnia karena rasa bersalah yang menumpuk pada Alea.
"Baru kali ini saya mendengar seorang Rocky kecolongan oleh pencuri. Semoga apa yang orang itu curi segera kau dapatkan, itupun jika benda. Yang saya takutkan, sesuatu yang orang itu curi adalah bagian dari dirimu," celetuk Cakra sebelum turun dari mobil setelah sampai di depan istananya yang dihuni oleh permaisuri, dua pangeran dan satu seorang putri yang sangat cantik.
__ADS_1
Pria itu berjalan memasuki rumah tanpa menoleh sedikiput pada Rocky yang telah melajukan mobilnya untuk pulang ke apartement, padahal dia bisa saja singgah di rumah adiknya untuk menemui Arumi yang masih tinggal bersama Rahma dan Eril.