Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 169 ~ Pemimpin bodoh


__ADS_3

Suara barang berjatuhan terdengar silih berganti di dalam sebuah ruangan yang berlapiskan dinding kaca tanpa penghalang apapun. Ruangan itu tidak lain adalah ruangan Ceo Z Group. Ruangan itu terlihat sangat kacau lantaran pemiliknya mengamuk habis-habisan setelah koferensi pers selesai.


Zayn sangat kesal lantaran proyek yang sangat dia idam-idamkan lenyap begitu saja karena perbuatan Ceo Alexander group yang mempermalukannya di depan umum. Tangan Zayn terkepal, meninju meja sekuat tenaga hingga meja tersebut bergetar sakin kuatnya.


"Lihat saja apa yang akan saya lakukan, Cakra. Kau telah berani mengusik saya," ucap Zayn penuh dendam.


Pria itu mendaratkan tubuhnya di sofa tanpa peduli pada keadaan ruangan yang sangat berantakan, seperti pikiran hatinya. Dia kehilangan banyak dana karena membeli desain tersebut cukup mahal. Desain yang bahkan tidak dia ketahui bahwa telah dibeli lebih dulu oleh Alexander Group.


Zayn melonggarkan dasi di lehernya, berusaha meredam amarah yang masih saja meluap-luap. Pria itu merasa tidak punya masalah dengan Cakra, tetapi ceo Alexander group seakan ingin menjatuhkannya hingga dasar paling dalam.


Zayn melirik pintu ruangannya ketika mendengar sebuah ketukan. "Masuk!" perintah Zayn, sehingga seseorang yang berada di balik pintu segera mendorong benda persegi panjang itu. "Ada apa?" tanya Zayn pada asistennya.


"Sejak konferensi pers berakhir beberapa jam yang lalu, harga saham terus turun, Tuan. Bahkan ada situs web yang mengatakan bahwa kita adalah penipu. Kita tidak sebanding dengan Alexander group bahkan hanya untuk bersaing," jelas sang asisten.


"Pergilah! Saya ingin sendiri!" ucap Zayn semakin tidak bersemangat.


Pria itu memejamkan matanya untuk menenangkan diri, tetapi tidak berlangsung lama karena ponsel yang ada di atas meja berdering. Awalnya dia tidak ingin menjawab, tetapi melihat itu dari presdir Z Group, Zayn terpaksa menjawabnya.


"Apa yang kau lakukan hah? Lihat? Kau telah mengacaukan perusahaan padahal baru beberapa bulan memimpin!" Suara bentakan itu mengelegar tepat saat Zayn menjawab panggilan dari papanya.


"Maaf, Pa, ini di luar kendali Zayn."

__ADS_1


"Itu karena kau bodoh! Papa sudah memperingatkan jangan bermain-main dengan mereka!"


"Zayn sama sekali tidak ingin bermain-main dengan mereka, Pa. Hanya saja takdir membawa Zayn ke jalan ini."


"Sudahlah, jangan bawa-bawa takdir dalam bisnis. Kau memang tidak becus memimpin. Jika dalam satu bulan perusahaan tidak kembali normal, maka adikmu yang akan memimpin!"


Tut


Zayn mengeram kesal sambil memandangi ponselnya yang menampilkan riwayat panggilan sang papa. Pria itu melempar benda pipih itu ke sudut ruangan hingga hancur lebur. Bahkan mustahil benda pipih itu bisa berfunsi dengan semestinya nanti.


"Saya harus menemui, wanita itu," gumam Zayn yang teringat pada wanita yang telah dia perkosa beberapa bulan yang lalu. Dari kabar yang dia dengar, wanita itu telah melahirkan darah dagingnya. Berita yang paling menyenangkan, bayi itu ternyata seorang laki-laki, cucu yang sangat didambakan oleh papanya. Terlebih calon anak Zayn seorang perempuan, begitu pun keponakannya.


Alih-alih memulihkan perusahaan, dia akan membawa bayi itu ke hadapan Papanya hingga mau mambantu kekacauan yang terjadi. Zayn yakin papanya bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat, hanya saja ingin mengetes dirinya. Namun, jika dia mempunyai seorang putra, maka dia akan menguasai kerajaan bisnis papanya tanpa diganggu oleh adik yang selalu papanya bangga-banggakan.


"Tuan mau ke mana?" tanya asistennya.


"Saya ada urusan penting, utus pengawal untuk mengikuti saya!" perintah Zayn sebelum memasuki lift.


***


Mengasuh dua bayi yang hanya berbeda satu tahun tidak membuat Rahma begitu kewalahan, bahkan wanita itu merasa sangat senang karena dikelilingi oleh malaikat-malaikat kecil yang sangat mengemaskan. Wanita berhijab sebatas dada itu sedang berbaring menatap kedua bayi yang tengah terlelap di sampingnya. Arumi mau pun Arhan terlihat sangat nyenyak setelah makan siang.

__ADS_1


"Sehat-sehat kesayangan mama. Kalian berdua adalah malaikat yang dititipkan Allah untuk mama," guman Rahma. Wanita itu bergerak untuk mengecup pipi Arumi dan Arhan secara bergantian, sebelum bangun dari tidurnya.


Rahma berencana menggunakan waktu senggang itu untuk makan dan melajutkan pekerjaan yang belum selesai sejak pagi. Pergerakan Rahma yang hendak keluar kamar terhenti lantaran mendengar ponselnya berdering. Wanita itu langsung menjawab sebab tidak ingin membangunkan dua malaikatnya.


"Mas Eril baik-baik saja?" tanya Rahma setelah mengucapkan salam pada suaminya di seberang telpon.


"Baik, kalian sudah makan?"


"Anak-anak sudah, Mas. Ini aku baru mau makan, mumpung anak-anak lagi tidur. Mas mau pulang? Kalau iya, aku buatkan makan siang."


"Iya, aku mau pulang, bisa tunggu aku pulang dan kita makan siang bersama? Tapi jangan masak, biar aku yang beli."


"Bisa, Mas." Senyuman Rahma merekah, dia paling suka jika mendengar Eril berbicara. Alasannya cukup simpel, suara Eril sangat lembut dan nyaman didengar.


"Istirahatlah, mungkin setengah jam lagi aku sampai."


"Iya."


Rahma meletakkan ponselnya setelah selesai bertukar kabar dengan sang suami. Wanita itu tetep melanjutkan langkahnya menuju dapur, tetapi bukan untuk makan, melainkan mengambil roti juga segelas air minum untuk menahan lapar setengah jam kemudian.


Wanita itu duduk di kursi rotan, menikmati rotinya sambil menghadap jendela yang hordennya sengaja Rahma singkap untuk menunggu sang suami. Kening Rahma mengerut ketika melihat mobil hitam memasuki halaman kontrakan.

__ADS_1


"Bukannya tadi mas Eril bilang setengah jam?" gumam Rahma.


__ADS_2