Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 165 ~ Ayah Arhan


__ADS_3

Eril kembali duduk di samping istrinya yang setia menunggu di kursi rotan. Pria itu menyerahkan kotak kecil kepada Rahma, sementara dia membuka map coklat yang entah apa isinya. Pria itu meneliti dua benda persegi panjang berwarna biru langit dan kertas putih yang terdapat coretan tinta hitam di dalamnya. Kening Eril mengerut seiring membaca surat itu dengan seksama. Mulutnya terbuka lebar ketika melihat namanya tertera di sana sebagai pemilik properti berserta tanahnya.


Rahma yang melihat ekspresi Eril tentu saja penasaran, dia menatap suaminya sebelum akhirnya bicara. "Isinya apa, Mas?" tanyanya.


"Rumah."


"Rumah?" Kening Rahma mengerut.


Eril menganggukkan kepalanya cepat, pria itu meletakkan tiga lembar kertas tersebut, kemudian membalas tatapan istrinya penuh haru. Eril meraih tangan Rahma dan mengecupnya berulang kali. Ternyata rezeki tidak ada yang tahu dan datangnya bisa dari mana saja. Di saat Eril sedang memikirkan tabungan untuk membeli sebuah rumah, Cakra malah memberikan untuknya bahkan rumah dan tanah atas nama dirinya.


Meski bukan diberima secara cuma-cuma tetap saja Eril sangat bahagia.


"Mas?"

__ADS_1


"Sekarang kita punya rumah, Rahma. Kita tidak perlu mengontrak dan membayar setiap bulannya."


"Serius?" Mata Rahma ikut berbinar, dia bahagia mendengar kabar baik tersebut.


"Iya, Sayang," jawab Eril.


Pria itu memeluk tubuh istrinya cukup erat. Kini dengan memiliki rumah itu Eril bisa menghemat waktu lantaran rumahnya berhadapan langsung dengan sang atasan.


Dua benda persegi panjang dan satu kertas dengan tulisan tangan yang ada di dalam map coklat itu adalah setifikat tanah dan sertifikat rumah berserta keterangan asuransi tidak resmi dari Cakra. Dalam catatan tulisan tangan itu, Cakra akan memotong gaji Eril 5% setiap bulannya tanpa ada persyaratan lain.


"Kita harus berterimakasih sama Tuan Cakra, Mas. Dia sangat baik sehingga mau memberikan kita rumah." Rahma mengelus punggung kekar suaminya yang masih terlihat kegirangan.


"Pasti."

__ADS_1


***


Cakra dan Eril sedang berbahagia bersama keluarga kecilnya malam ini di temani oleh langit yang indah karena bintang-bintang tengah menemaninya. Namun, di bawah lagit yang sama pula, ada seorang pria yang duduk di balkon kamarnya sambil menatap bintang itu dengan perasaan kalut dan tidak menentu. Pria itu adalah pria berkacamata yang Wildan temui tadi sore.


Di pikiran pria itu dipenuhi oleh foto seorang wanita yang sangat dia kenali.


"Wanita itu ada di kota ini dan telah melahirkan benih yang kau telantarkan. Benih yang telah membuat hidupnya hancur hingga citranya sebagai gadis suci dan guru mengaji yang dermawan, hancur dalam hitungan menit."


Ucapan Wildan terus menari-narik di pikiran pria itu tanpa ingin menghilang meski sedikitpun. Dia jadi teringat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu, di mana dia mabuk dan menyeret seorang wanita secara acak menuju sebuah hotel tengah malam. Wanita itu tidak lain adalah Rahma. Dia memaksa wanita tersebut masuk ke sebuah kamar hotel kemudian menguncinya hanya untuk memuaskan sesuatu dalam dirinya.


Namun, saat dia terbangun dari tidurnya di pagi hari, dia sudah tidak menemukan wanita itu di sampingnya. Dia terus mencari kemana wanita itu pergi untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya, tetapi tidak menemukan wanita itu.


Hari ini, dia kembali kejutkan akan kabar wanita yang telah dia nodai, di saat dia sedang menunggu detik-detik kelahiran istrinya.

__ADS_1


__ADS_2