Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 129 - Pengantin baru


__ADS_3

Resmi menjadi seorang istri tidak membuat Rahma begitu terbuka pada Eril yang kini menjadi suaminya. Sejak tadi wanita itu hanya menunduk dan duduk di sisi ranjang. Sementara Eril, sejak tadi memperhatikan wajah Rahma penuh cinta dan senyuman yang tidak pernah surut dari wajahnya. Pria itu ikut duduk di samping Rahma yang terlihat gelisah. Dia memberanikan untuk mengenggam tangan yang terus saling meremas.


"Apa kamu tidak senang dengan pernikahan ini?" tanya Eril.


Rahma mengelengkan kepalanya. Wanita itu menerima Eril dengan sepenuhnya, hanya saja dia merasa tidak pantas bersanding dengan pria sebaik Eril, sebab dia adalah perempuan kotor yang hamil di luar nikah.


"Lalu kenapa terus menunduk? Apa kamu tidak ada niatan untuk menatap wajah tampan suami mu ini?" tanya Eril sekalian menggoda istrinya untuk mencairkan suasana.


Siapa yang menyangka, perlahan-lahan Rahma mengangkat kepalanya kemudian menatap Eril cukup lama sebelum akhirnya kembali menunduk karena salah tingkah, padahal Eril hanya tersenyum. Mungkin karena ini pertama kalinya Rahma menatap wajah seorang pria secara langsung dan sangat dekat. Jika Rahma boleh jujur, Eril sangat tampan.


"Aku cium boleh?" tanya Eril.


Rahma terkesiap, tetapi tidak lama menganggukkan kepalanya, membuat Eril tidak ingin membuang kesempatan yang ada. Pria itu semakin merapatkan tubuhnya, memegang kedua sisi kepala Rahma, kemudian mengecup keningnya cukup lama.

__ADS_1


"Jika boleh jujur, aku jatuh cinta kepadamu sejak pertama kali meihatmu keluar dari masjid bersama anak-anak. Aku memilih mundur saat tahu kamu akan menikah dengan pria bernama Wildan. Aku mengira itu akhir dari kisah cintaku, ternyata salah. Itu adalah awal dari kisah kita berdua," gumam Eril yang kini memeluk tubuh Rahma.


"Mas tahu sendiri apa yang membuat pernikahan aku dan mas Wildan batal," balas Rahma.


"Tahu banget, tapi pria yang benar-benar mencintai akan selalu memperjuangkan sesuatu untuk mendapatkan perempuan yang dia cintai. Makasih Rahma karena sudah bersedia menerima aku yang bahkan menginjak masjid saja sangat jarang."


"Terimakasih juga karen mau menerima aku yang tidak suci ini, Mas."


Eril mengelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. "Kamu sudah berusaha menjaga apa yang harusnya kamu jaga, hanya saja takdir membawamu seperti sekarang."


"Kamu kenapa?" tanya Eril.


Rahma mengelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja, Mas. Aku hanya tidak menyangka masih ada pria yang bersedia menerimaku bersama anak yang kini aku kandung."

__ADS_1


"Ah aku kira sesuatu yang serius," cengir Eril sambil mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Pria itu melerai pelukannya ketika merasakan Rahma ingin menyudahi sesi pelukan tersebut. Dia mengusap air mata yang terdapat di pipi mulus istrinya. "Mandilah atau ganti bajumu, aku yakin kamu merasa kegerahan sekarang," ucap Eril.


Pria itu beranjak dari duduknya kemudian keluar dari kamar sempit tersebut, dia menghampiri pak Somat yang tengah berbincang dengan pak Ridwan juga ibu Fatimah di teras rumah..


"Nah yang kita bicarakan datang," seru pak Ridwan. Kebetulan mereka sedang membahas Eril dan Cakra yang jodohnya sama-sama ada di desa. Yang berbeda hanya dua, yaitu Cakra di desa nelayan, sementara Eril di desa luwut.


"Kenapa membicarakan saya?" tanya Eril.


"Hanya membicaraka bahwa Rahma beruntung mendapatkan kamu yang baik hati," sahut pak Ridwan.


"Pak Ridwan bisa saja. Yang beruntung sebenarnya saya, Pak." Telinga Eril seketika berubah merah karena salah tingkah dipuji oleh bapak-bapak. Terlebih selama ini Eril selalu salah di mata Cakra dan Rocky.


"Nak Eril, Neng Rahma itu hatinya lembut banget, dia perasa dan mudah tersinggung. Apa-apa selalu disembunyikan sendiri, terlebih jika menyangkut sesuatu yang mungkin akan merepotkan semua orang. Jadi abah harap kamu bisa mengimbangi atau setidaknya ubah kebiasan buruk itu dari diri istri kamu," ucap pak Somat.

__ADS_1


Jika saja dulu Rahma menceritakan pada abahnya tentang kejadian yang menimpanya saat berkunjung ke kota dua bulan sebelum pernikahan, mungkin ini tidak akan terjadi. Pak Somat bisa mendiskusikannya dengan orang tua Wildan agar tidak merasa ditipu. Namun karena Rahma tipe pendiam jika mendapatkan masalah, jadilah seperti ini.


__ADS_2