
Eril membuka pintu secara perlahan setelah berhasil memasukkan sandi dengan benar di rumah kakaknya. Pria tampan beralis tebal itu menunduk untuk melepas sepatunya dan mengambil sendal rumah di sebuah rak. Kening Eril mengerut mendapati ada sepatu perempuan di sana. Itu tidak mungkin nani Arumi, karena usia nani Arumi yang Eril tahu berumur 40 an gayanya sangat kuno.
Merasa penasaran dengan isi rumah kakaknya, dia melangkahkan kaki menjelajahi lebih masuk lagi hingga menemukan dua perempuan berbeda generasi sedang duduk di ruang tamu dengan mainan berserakan ke sana kemari.
Arumi yang lebih dulu menyadari keberadaan Eril, segera merangkak dan menghampiri pria tampan itu. Aksi Arumi berhasil membuat Alea yang pura-pura tidak tahu kedatangan seseorang segera menoleh. Gadis berambut panjang itu mengerutkan keningnya melihat Eril, pria yang tidak pernah dia tamui sebelumnya.
"Tidak mungkin bukan tuan Rocky operasi plastik dalam hitungan jam?" batin Alea.
Gadis itu beranjak, menghampiri Eril yang juga menatap bingung seolah ingin bertanya tetapi tidak kunjung mengeluarkan suara.
"Siapa kau?" tanya Alea tidak sopan, gadis itu bahkan berkacak pinggang dengan wajah jutek yang sengaja dia buat seseram mungkin. Takut kalau pria dihadapannya adalah perampok, sehingga tahu kata sandi rumah seseorang.
Namun pertanyaanya, adakah perempok setampan pria di hadapan Alea? Jika iya, gadis itu rela menjadi istri seorang perampok.
__ADS_1
"Seharusnya saya yang bertanya, siapa kamu? Kenapa kamu ada di rumah kak Rocky?" tanya Eril balik. Di gendongan pria itu ada Arumi yang bergelayut manja dengan nyaman. Sepertinya tubuh Eril memang tercipta untuk disukai oleh anak-anak yang bukan darah dagingnya.
"Ka-kak?" Mata Alea membola. "Jangan mengaku-mengaku, kamu!" Todong Alea seraya menunjuk wajah tampan Eril. Gadis itu harus memasang badan agar rumah bosnya tidak dirampok. Mungkin saja jika berhasil menyelamatkan rumah itu, dia bisa dipekerjakan secara tetap. "Jangan mentang-mentang saya nani baru di rumah ini, kamu mau ngaku-ngaku!"
Eril tertawa, pria itu akhirnya mengerti kenapa gadis cantik bin aneh itu ada di rumah kakaknya. Tapi tunggu, sejak kapan Rocky mempekerjakan gadis lebih mudah dari umur pria itu? Selama ini Rocky selalu mencari seorang pekerja 29 tahun keatas.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Alea.
Pria itu berjalan menuju kamar yang berada tepat di samping Rocky. Dia mengeluarkan kunci kemudian memasukkan sebuah lubang kecil lalu memutarnya. Dia mengerakkan knop pintu hingga akhirnya kamar yang sejak tadi ingin Alea masuki terbuka lebar. Hal itu membuat Alea percaya bahwa Eril memang adik Rocky, lantaran pria itu mempunyai sebuah kunci.
Tidak ingin ikut campur, gadis itu kembali membaringkan tubuhnya di sofa layaknya tuan rumah, sementara Eril yang berada di kamar, masih setia menggendong Arumi yang sangat anteng. Sebelah tangan Eril mengeluarkan beberapa setelan jas, juga benda-benda yang dia butuhkan di rumah kontrakan. Memang itulah tujuan Eril berkunjung sebelum berangkat kerja.
Setelah berhasil mengambil semua barang yang dia perlukan, Eril menurunkan Arumi dari gendongannya, dan membiarkan duduk di ranjang. Pria itu mengemas barang-barang ke dalam dus besar sambil memperhatikan Arumi yang mulai nakal mengambil satu persatu barang yang ingin Eril kumpulkan. Usai semuanya terkemas dengan rapi, dia kembali mengendong Arumi memudian menemui Alea yang ternyata sudah terlelap di sofa.
__ADS_1
Eril menghela napas panjang, sepertinya kali ini kakaknya salah memilih seseorang masuk ke rumah.
"Hey nona!" panggil Eril. Pria itu menyentuh pipi Alea menggunakan tangan mungil Arumi.
"Hm."
"Kau niat bekerja atau tidak? Ini masih jam 9 pagi!" peringatan Eril. "Kak Rocky tidak suka orang pemalas dan tidur di luar jam tidur," jelasnya.
Seketika mata Alea membola mendengar nama Rocky disebut. Nama itu sangat menyeramkan ditelinga Alea untuk saat ini.
"A-ada apa?" tanya Alea dengan mata setengah terbuka.
"Saya buru-buru!" Eril meletakkan Arumi di pangkuan Alea, kemudian menuju kamar untuk mengambil dus besar berisi barang-barangnya.
__ADS_1