
"Mama, Liam tidak mau bobo sendiri!" teriak Liam.
Bocah berusia 4 tahun itu terus mengedor-gedor pintu yang terkunci dengan rapat tanpa memperdulikan akan membangunkan penghuni lainnya.
"Mama!" Suara tangisan Liam mulai terdengar, membuat Liora yang baru saja terlelap setelah melayani keganasan sang suami, mau tidak mau harus membuka matanya meski sangat mengantuk. Wanita itu bergerak pelan agar tidak membangnnkan suaminya. Bergegas mengambil kaos kebesaran Cakra dan memakainya, barulah setelah itu membuka pintu kamar.
"Mama?" Air mata Liam terus berjatuhan tanpa diminta, membuat Liora sedikit khawatir dengan putranya yang tiba-tiba terbangun tengah malam.
"Sini mama peluk!" Liora memeluk putranya cukup erat, mengelus kepala bagian belakang Liam untuk menenangkan. "Putra mama mimpi buruk, hm?" tanyanya dan dijawab anggukan oleh Liam.
"Mimpi buruk cuma bunga tidur, Sayang. Jadi jangan takut. Malam ini Liam bobo sama mama." Liora mengacak-acak rambu putranya hingga semakin berantakan. Dia mengendong balita 4 tahun itu kemudian membaringkannya di tengah ranjang.
"Mama jangan tinggalin, Liam. Liam mau ikut mama," gumam Liam menatap wajah cantik mamanya dengan rambut tergerai. Tangan mungil itu bergerak mengelus pipi mulus Liora.
"Mama tidak mungkin meninggalkan, Liam."
"Mama pergi."
Liora tersenyum. "Memangnya mama pergi ke mana hm?"
"Liam tidak tahu, tapi mama pergi sendirian. Mama tidak mengajak Liam, papa dan dedek kembar."
__ADS_1
"Sudah, Sayang. Mama tidak akan pergi, janji." Liora semakin mendekap tubuh putranya. Mengelus punggung putranya agar bisa terlelap dengan cepat. Liora tidak ingin Liam sedih hanya karena mimpi buruk itu.
...
Senyuman Cakra merekah, ketika terbangun di pagi hari mendapati putranya tidur sambil memeluknya. Alih-alih bangun, dia malah membungkus tubuh Liam dengan selimut dan kembali memejamkan mata, tanpa memperdulikan jarum jam terus bergerak dan matahari kian naik.
"Sayang, sudah jam 7 pagi," ujar Liora yang baru saja masuk ke kamar setelah mengurus si kembar dan sekarang diasuh oleh nani, lantaran dia harus memberikan pelayanan pada dua pangeran kesayangannya.
"Mas tahu," sahu Cakra enggang membuka matanya. "Oh iya, kenapa Liam tiba-tiba ada di kamar? Bukannya semalam aku membacakan dongen di dalam kamarnya?" tanya Cakra tanpa merubah posisinya, memeluk putra sulungnya yang nantinya kan menjadi pewaris terbanyak kekayaanya.
"Semalam Liam mimpi buruk, Mas, makanya lari ke kamar ini sambil nangis," jawab Liora yang sibuk menyiapkan pakaian suaminya. Wanita iitu telah cantik dan rapi karena mandi sebelum subuh.
"Iya, katanya dia mimpi buruk aku meninggalkan kalian. Memangnya aku mau ke mana sampai harus meninggalkan orang-orang yang aku cintai?"
Cakra terdiam, mendengar kalimat Liora tentang mimpi buruk Liam. Jika itu sampai terjadi di kehidupan nyata, bukan hanya Liam yang akan menangis, tetapi Cakra juga. Jika Liora hanya berpindah hati, maka itu tidak masalah. Cakra bisa mengurung istrinya di rumah agar tidak kemana-mana dan meninggalkannya dan anak-anak. Tetapi berbeda jika meninggalkan dalam artian lain.
Cakra langsung turun dari ranjanng, berjalan menghampiri sang istri dan memeluknya dari belakang cukup serat. "Mas tidak mau ke kantor hari ini. Mas akan menemanimu di rumah," ucap Cakra.
"Mas Cakra, ayolah jangan begini! Mas bisa menghabiskan waktu berasamaku kapan saja, tapi jangan lalai sama tanggung jawab di kantor," pinta Liora.
"Ada Rocky dan Eril. AKu akan mengutus mereka berdua. Lagi pula hari ini tidak ada pertemuan penting." Cakra masih tetap memeluk istrinya.
__ADS_1
Liora menghela napas panjang. "Baiklah terserah mas saja. Aku siapkan pakaian santai kalau begitu. Oh iya hari ini kalau bisa ajak Liam jalan-jalan ya Mas? Takutnya dia masih mengingat mimpi itu."
"Iya, Sayang. Kita jalan-jalan sama anak-anak hari ini," sahut Cakra.
Pria itu melepaskan pelukannya setelah berhasil mengambil kecupan di pagi hari. Dia berjalan menuju nakas untuk mengambil ponselnya. Mengabari Eril dan Rocky tentang rencananya hari ini.
Cakra lebih dulu menghubungi Rocky yang selalu mengurus perusahaan.
"Iya, Tuan," ucap Rocky di seberang elpon.
"Tidak perlu mampir ke rumah untuk menjeput saya. Lakukan pekerjaan di kantor dengar baik."
"Bagaimana jika Tuan Zayn menghubungi kita dan setuju untuk bekerja sama?" tanya Rocky.
"Maka bertemulah dengannnya, bawa Eril bersamamu nanti, untuk menggantikan saya."
"Baiklah, Tuan."
Cakra segera mengakhiri panggilan lantaran tidak ada yang perlu di bahas lagi. Pria itu bergegas ke kamar mandi sebelum Liora kembali ke kamar dan mengomelinya yang sangat lelet jika di pagi hari. Sebelum asuk ke kamar mandi, Cakra mengecup pipi putranya.
"Jangan khawatir, Sayang. Mama tidak akan meninggakan kita apapun yang terjadi."
__ADS_1