
Dua tahun kemudian
Liora kembali menjalani harinya seperti sediakala sebelum bertemu Cakra, bedanya kini ada makhluk lucu yang selalu menemani dirinya. Membuatnya tertawa di kala lelah, membuatnya menanggis di saat-saat tersulit.
Liora menggunakan uang pemberian Cakra sebagai modal usaha. Wanita itu kembali menjual ikan, namun bukan di pasar yang sebelumnya, melainkan di jalan raya. Bu Fatimah memberinya lahan di pinggir jalan dekat toko sembako, pendapatan Liora lumayan perharinya, terlebih banyak pengendara lalu-lalang sengaja singgah untuk membeli, sebab ikan-ikan yang dia jual terkenal segar.
Setiap pagi Liora akan berkunjung ke laut memilih ikan-ikan segar, meninggalkan putranya sendiri di rumah, saat pulang, wanita itu akan mendapati putranya duduk di atas tempat tidur memainkan mobil-mobil kesukaanya. Sangat lucu bukan?
Liora sengaja membongkar ranjangnya agar putranya tidak dalam bahaya saat ditinggalkan.
"Papa!" pekik bocah kecil di samping Liora.
"Itu bukan papa Liam," tegur Liora.
Selalu saja putranya akan memanggil seseorang dengan sebutan papa jika ada yang lewat, mungkin karena usianya baru dua tahun.
"Papa?" Mata Liam mengerjap lucu, menatap wajah mamanya.
"Liam cuma punya Mama," jelas Liora, berjongkok di depan putranya yang duduk di kursi kecil.
Sekarang mereka masih ada di pinggir jalan menjual ikan, Liora selalu membawa anaknya. Untung saja Liam tidak pernah rewel.
"Mimi," ucap Liam.
"Tunggu ya." Liora segera bergegas membuatkan susu formula untuk putranya, kemudian memerikan. "Liam haus ya? Mau bobo?"
Bocah dua tahun itu mengangguk lucu, matanya telah sayu, sebab sudah jam 11 siang.
"Mama beresin jualan dulu."
Liora segera membereskan semua jualannya, ikan-ikannya memang tidak habis, tapi dia sudah memperoleh keuntungan lumayan.
Liora pulang kerumah menggunakan motor tuanya, di depan ada Liam dan di boncengannya tempat ikan untuk besok. Jarak rumah dan tempat jualnya lumayan jauh, bisa di tempuh kurang lebih setengah jam.
Sesampainya dirumah, Liora menyiapkan tempat tidur, kemudian menidurkan putranya.
"Kalau miminya udah habis, tidur ya. Mainnya setelah tidur siang."
Liam mengangguk lucu, di mulutnya ada dot, sementara tangannya memeluk guling bersiap untuk tidur. Liora mempergunakan hal tersebut untuk membereskan rumah, mencuci baju dan yang lainnya.
***
"Liam!" pekik Liora saat terbangun, putranya sudah tidak ada, padahal tadi bocah kecil itu terlelap di sampingnya.
Liora berlari keluar rumah, dia bernafas lega melihat putranya memasuki pagar bambu bersama seorang pria yang sangat dia kenal. Dia langsung menarik tangan putranya.
__ADS_1
"Mama udah bilang, jangan keluar rumah tanpa mama Liam! Kamu dapat dari mana ini?" Liora menarik roti di tangan Liam, membuat bocah itu menangis.
"Lio, jangan terlalu kasar!" tegur Wildan.
"Bukan urusan mas Wildan."
"Berikan roti itu Lio, kamu nggak kasian sama Liam yang menangis?"
"Masuk!" Setelah menyuruh Liam masuk, Liora kembali menemui Wildan.
"Udah aku bilang jangan bersikap baik pada putraku, aku bisa mengurusnya sendiri!"
"Sikap kamu terlalu kesar sama anak kecil Lio, jangan batasi pergerakannya. Aku liat dia berkeliaran di jalan sendiri, makanya aku bawa kesini sekalian beliin dia ...."
"Aku bisa membelikannya sendiri!" bentak Liora. "Jangan mengasihi putraku apa lagi peduli padanya, ini terakhir kalinya!"
"Apa aku salah jika menyayanginya?" Wildan senyum kecut, padahal dia hanya ingin membuat Liam tertawa dan bermain bersama anak-anak lainnya, tetapi Liora selalu marah akan hal itu.
"Salah karena kamu bukan ayahnya!"
"Lalu kemana ayahnya?"
Tenggerokan Liora tercekat, dia terdiam, lagi dia teringat tentang Cakra yang belum berhasil dia lupakan walau sudah dua tahun lamanya.
Tanpa mengatakan apapun, Liora masuk kerumah kemudian menutup pintu, dia menghampiri putranya yang masih menangis.
Tersadar apa yang baru saja dia lakukan, Liora langsung memeluk putranya. "Maafin mama Nak, mama kelepasan, jangan keluar rumah tanpa mama lagi."
Bukan tanpa alasan Liora mengurung anaknya. Dia pernah membebaskan putranya bermain bersama anak-anak yang lain, tetapi Liam selalu saja di perlakukan tidak adil, entah ada yang mukulnya karena nakal, atau menghina dirinya.
"Jangan nangis Nak, Liam mau makan apa? Mama buatin ya?" bujuk Liora.
Liam mengeleng, anak itu tidak lagi menangis, dia berlari menjauhi Liora kemudian menarik kotak sedang dan menghaburkan isinya, disana terdapat beberapa mainan yang sengaja Liora beli, tidak mahal apa lagi mewah, dia membelinya di pasar agar putranya tidak kesepian bermain sendiri.
Karena lelah, Liora lupa mengunci pintu tadi, itulah mengapa Liam bisa lolos keluar rumah.
***
Wildan memandangi berbagai mainanan mobil-mobilan yang sengaja dia beli diam-diam saat keluar kota, niat hati ingin memberikan pada Liam, tapi dia urungkan karena teringat pada Liora yang melarangnya memberi perhatian.
"Kenapa kamu keras kepala banget sih Lio?" tanya Wildan entah pada siapa. Laki-laki itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Lima bulan yang lalu, Wildan sempat melamar Liora untuk menjadi istrinya, dia rela menjadi ayah sambung Liam, tapi apa daya Liora menolak lamarannya. Sejak saat itulah, Liora melarang dirinya untuk mendekati Liam.
Padahal, ibunya sudah tidak lagi mengurusi urusanya. Bahkan saat tahu Wildan akan melamar Liora, wanita paruh baya itu tidak keberatan lagi. Itu semua terjadi setelah pertengkaran kedua orang tuanya. Pak Soleh marah pada bu Firda sebab melihat dengan mata kepalanya sendiri menyakiti Liora juga Liam.
__ADS_1
Teringat sesuatu, Wildan langsung bangun dari tidurnya, dia menemui ibunya yang sedang menonton Tv.
"Nyak?" panggil Wildan langsung duduk di samping bu Firda.
"Kenapa Dan? Mau nikah? Ya sudah ajak calon kamu kesini, usia kamu nggak muda lagi, Nyak pengen cucu."
Wildan mendes*ah pasrah mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut ibunya. Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Wildan beli banyak mainan, rencananya buat Liam, tapi Liora pasti nolak," curhat Wildan.
"Terus?"
"Nyak yang kasih gimana?"
"Nggak!"
"Nyak." Wildan manarik-narik baju ibunya. "Wildan janji bakal lupaian Liora dan nyari perempuan lain, tapi Nyak harus baikan sama Liora, bukan cuma berhenti ngehina dia."
"Jangan kelewatan kamu Wildan!"
"Ya sudah, Wildan nggak bakal nikah kalau Nyak nggak baikan sama Liora, udah untung nggak jadi mantu."
***
Bu Firda menenteng dua kantong besar, kini wanita paruh baya itu berdiri di depan rumah Liora seperti perintah Wildan tadi.
Dia rela menurunkan egonya demi mendapatkan calon menantu, dia iri pada warga lain yang sudah memiliki cucu.
Kedatangannya membuat Liora terkejut.
"Bu-bu Firda, saya ...."
"Ini!" Bu Firda langsung menyerahkan mainan tersebut pada Liora. "Saya lagi bagi-bagi mainan sama anak-anak," bohongnya.
"Beneran bu?" tanya Liora tidak percaya.
"Jangan lupa pemilihan desa, pilih suami saya!"
Sebenarnya itu bukan tujuan bu Firda, tapi dia mengatakan hal tersebut agar tidak terlihat baik di depan Liora.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
__ADS_1
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo