Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 106


__ADS_3

Cakra terus mengelus kepala istrinya yang tengah bersandar di pundak. Laki-laki tampan itu memilih pulang karena tidak ingin membuat istrinya stres. Yang dia takutnya Liora trauma dan takut akan melahirkan, bagaimanapun itu akan mempengaruhi kesehatan istrinya.


"Baby papa baik-baik ya di dalam perut Mama, jangan nakal apa lagi nyiksa Mama," gumam Cakra mengelus perut sang istri yang tengah tertidur pulas, mungkin karena lelah.


Jenazah Rissa tengah diurus oleh Rocky jadi Cakra tidak perlu repot-repot turun tangan, terlebih itu bukan lagi urusannya. Mungkin jika bukan karena kebesaran hati Liora, mana mungkin Cakra ingin menyusahkan diri seperti ini.


"Cantik banget istri mas kalau lagi tidur gini," gumam Cakra tersenyum geli ketika Liora merubah posisi dan malah semakin memeluknya erat.


Sekarang keduanya berada di dalam taksi menuju rumah. Cakra sengaja meninggalkan mobilnya karena ingin menenangkan sang istri di perjalan pulang.


"Langsung masuk saja, istri saya tidur!" perintah Cakra ketika sopir taksi berhenti tepat di depan rumahnya.


Sopir taksi tersebut hanya menganggukkan kepala dan membanting setir kemudi memasuki halaman rumah yang sangat luas tersebut.


Meski matahari sudah terbenam, itu tidak membuat halaman rumah Cakra kurang pencahayaan. Jangankan jalan, bunga saja di beri lampu agar terlihat cantik jika di malam hari.


Setelah taksi berhenti dengan aman, barulah Cakra mengendong istrinya memasuki rumah. Membaringkan perlahan-lahan di atas ranjang lalu membalutnya dengan selimut tebal.


"Istri mas terlalu baik, ck," decak Cakra mengelus pipi Liora yang semakin cabi.


Laki-laki tampan itu seger beranjak ketika teringat pada putranya, seharian ini dia sama sekali tidak melihat Liam. Cakra langsung saja menuju kamar Liam dan mendapati bocah 3 tahun itu tengah bermain dengan Eril.


"Ekhem," dehem Cakra.


Liam yang berada di atas pungung Eril segera menoleh, senyuman bocah 3 tahun itu semakin lebar.

__ADS_1


"Papa puyang, Liam tanen!" teriak Liam berlari menghampiri papanya.


Langsung saja Cakra mengendong putra kecilnya tersebut, tidak lupa mengecup seluruh wajah. "Liam udah mandi sore?" tanya Cakra dengan tatapan penuh kasih sayang.


Liam mengangguk antusias. "Dudah, ama om Eyil. Papa, Liam puna duda," ceritanya.


"Duda?"


Liam menganggukkan kepala. "Om Eyil dadi duda Liam."


Cakra menaiikkan alisnya sejenak, berpikir apa sebenarnya yang diceritakan Liam untuknya.


"Oh om Eril jadi kuda Liam?"


Cakra sontak mengelengkan kepalanya seraya mengoyang-goyangkan jari telunjuk. "Lain kali nggak boleh om Eril dijadiin kuda Sayang. Kan kuda sama mobil-mobil Liam banyak," tegur Cakra.


Sementara yang menjadi kuda Liam tengah berdiri dengan tegak setelah di perbudak seharian oleh anak kecil. Ralat, tidak sepenuhnya diperbudak, karena Eril juga suka sebab hanya bermain-main semata. Lagian laki-laki itu suka dengan anak kecil.


"Nda oleh Papa?" Liam mengercap-erjapkan matanya.


"Iya nggak boleh."


"Oceh Papa." Liam memberi jempol pada Cakra sebelum memeluk leher papanya cukup erat.


"Sudah jam 8 malam."

__ADS_1


"Ah ya Tuan, saya pamit dulu." Eril segera undur diri. Lagipula profesinya adalah asisten dan pengawal bagi Liam, bukan pembantu.


Sepeninggalan Eril, Cakra membawa putranya ke kamar utama dan membaringkan tepat di samping Liora yang masih tertidur pulas. Dia menempelkan jari di bibir.


"Jangan berisik, Mama sama Dedek lagi bobo," bisik Cakra. "Liam tunggu bentar ya, Papa ambil susu dan ganti baju dulu," lanjutnya dan dijawab anggukan oleh Liam.


Bocah tiga tahun itu merubah posisinya menghadap sang mama lalu mengulurkan tangan untuk memegang hidung mancung Liora. Tidak sampai di situ saja, dia bahkan memasukkan jarinya di lubang hidung mamanya itu.


"Mas jangan iseng deh," gumam Liora tanpa membuka mata.


"Mama manun?"


"Huh?" Liora mengecap-erjapkan matanya perlahan dan tersenyum melihat siapa yang berbaring di sampingnya.


"Anak Mama ternyata," ucap Liora.


Mengingat sesuatu, Liora langsung membalik tubuhnya dan mengambil tisu basah di atas nakas, kemudian melap tangan Liam.


"Liam nggak boleh masukin tangannya ke hidung Mama! Nggak baik sayang, banyak kuman."


"Bole."


"Nggak boleh!" ulang Liora.


"No ... no ... no." Liam mengerak-gerakkan tangannya dengan bibir manyun.

__ADS_1


__ADS_2