
Liora memejamkan matanya sembari memeluk Cakra dari belakang. Menikmati angin malam tengah wanita cantik itu lakukan.
Karena Cakra gagal menjadi tukang ojek, laki-laki tampan itu menawarkan tumpangan untuk Liora dengan motor.
"Senang banget bisa naik motor sama Mas lagi," ucap Liora menyandarkan pipinya di punggung sang suami.
"Pegang yang erat Sayang nanti jatuh," sahut Cakra.
"Gimana mau jatuh kecepatan motor mas aja, lebih cepat sepeda," cibir Liora.
Wanita cantik itu tidak habis pikir dengan isi pikiran suaminya. Sudah hampir setengah jam tapi mereka belum sampai juga ke indoapril, padahal jaraknya tidak jauh.
"Demi keamanan bersama Sayang, kalau perut kamu keguncang gimana?"
Liora tidak menyahut, melainkan mencibir tanpa laki-laki itu sadar. Dia menghembuskan nafas lega setelah sampai di indoapril setelah perjalanan penuh drama.
Tanpa menunggu sang suami, dia berjalan masuk lebih dulu dan menuju rak-rak mie yang dia ingingkan. Mengambil beberapa untuk di bawa ke kasir.
Atensinya teralihkan ketika mie di gendongannya di kembalikan oleh seseorang. "Mas kok di kembaliin?" kesal Liora.
"Cuma satu kan? Ya sudah itu aja. Lagian mie instan nggak sehat Sayang," jawab Cakra.
Laki-laki itu menarik tangan istrinya menuju rak-tak lain setelah meletakkan satu bungkus mie di dalam keranjang.
"Ngapain ke sini?" tanya Liora.
__ADS_1
"Sekalian belanja cemilan tengah malam kamu." Cakra mengambil beberapa cemilan sehat lalu memasukkan ke keranjang.
"Susu hamil masih ada?" tanya Cakra pada Liora.
"Masih banyak."
"Berapa?"
"Dua," jawab Liora.
Cakra memutar bola mata malas, tanpa banyak bicara dia mengambil beberapa dus susu hamil.
"Dua itu nggak banyak Ra, berhenti iritin leher sendiri, mas nggak suka!" tegur Cakra.
Satu tangan laki-laki itu mengenggam tangan Liora satunya lagi menenteng keranjang. Cakra akan melepaskan tangan Liora jika mengambil barang saja.
"Sayang jangan jauh-jauh, kalau anak kita kenapa-napa gimana?" ucap Cakra dengan suara sedikit keras. Secara tidak langsung mengatakan bahwa dia sudah mempunyai seorang istri.
"Delapan ratus tujuh puluh ribu,Tuan," ucap sang kasir.
Cakra segera menyerahkan kartunya lalu pergi setelah menyelesaikan transaksi.
"Coba aku yang beli sendiri, pasti paling habis 50 ribu," gumam Liora.
"Makanya mas nggak mau kamu pergi sendiri."
__ADS_1
***
Sesampaikan di rumah, Liora langsung memasak mie instan seraya tersenyum karena sangat ingin. Tidak lupa menambahkan telur, sosis dan suwiran daging ayam yang ada di kulkas.
Senyumnya melebar ketika mienya siap untuk di santap. Duduk di meja pantri dimana Cakra menunggunya.
"Mas minta ya Sayang," pinta Cakra hendak menyendok mie tapi tangannya dipukul oleh Liora.
"Punya aku apa-apan sih, tadi katanya satu aja," jawab Liora.
Wanita cantik itu berpindah tempat membelakangi Cakra dan makan tanpa manawarkan pada suaminya.
Liora menyandarkan tubuhnya setelah merasaya kenyang. Mengelus perutnya penuh senyuman. "Akhirnya terkabul juga nak."
"Mama pelit," gumam Cakra menangkup kedua pipinya sendiri.
"Biarin daripada mas bau," ledek Liora.
"Kok bau?"
"Memang bau!" Liora segera berlari menghindari Cakra setelah mengatai laki-laki tampan tersebut.
Namun, langkahnya kurang cepat hingga Cakra bisa menangkapnya begitu saja. "Mas!" pekik Liora langsung mengalungkan tangannya di leher sang suami.
"Makanya jangan nakal sama Mas. Ck, sepertinya kamu harus dihukum Sayang," decak Cakra mengecup bibir Liora yang berminyak karena mie.
__ADS_1
"Dihukum?"
"Hm, tenang aja hukumannya enak kok Sayang."