
"Bagaimana, apa kau menemukan sesuatu tentang perempuan itu?" tanya Rocky pada seseorang di seberang telpon.
Pria itu mendorong pintu apartemannya dengan sebelah tangan, sementara sebelahnya lagi masih sibuk menempelkan benda pipih di telingannya. Rocky sengaja menelpon balik orang suruhannya lantaran penasaran hasil yang pria itu dapatkan.
"Sudah, Tuan. Namanya Alea bukan? Dia sedang ada di Bandung dan kebetulan bekerja di anak cabang Alexander group. Dia bekerja di bagian admistrasi."
Senyuman Rocky seketika megembang mendegar kabar baik itu setelah menunggu satu bulan lamanya. Entah kenapa jantung Rocky berdetak cukup cepat, padahal hanya menemukan seseorang yang telah membawa lari uangnya hingga puluhan juta.
"Dia baik-baik saja? Apa dia pernah berkunjung ke dokter?" tanya Rocky lagi.
"Sejauh ini tidak ada yang aneh dengan gerak-geriknya, Tuan."
"Terus pantau dia, tapi jangan sampai ketahuan."
"Baik, Tuan."
Rocky segera memutuskan sambungan telpon setelah selesai bicara dengan orang suruhannya. Pria itu mendaratkan bokongnya di sofa dengan senyuman lebar dan perasaan lega mendengar gadis yang telah dia rengut hal berharganya baik-baik saja.
"Malam ini saya bisa tidur dengan tenang," gumam Rocky.
...
"Sayang?"
__ADS_1
Panggil seorang wanita cantik yang baru saja keluar dari ruangan pribadi suaminya, setelah memastikan tamu suaminya telah pergi. Wanita itu tidak lain adalah istri Zayn. Dia langsung duduk di pangkuan suaminya yang sedang meneliti berkas yang diserahkan oleh Rocky tadi.
"Astaga aku lupa bahwa kamu masih ada di sini, Sayang," ucap Zayn. Pria itu meletakkan berkasnya di atas meja, kemudian melingkarkan tangan di pinggang ramping sang istri. Mengecup bibir istrinya beberapa kali.
"Siapa tadi? Kenapa pembicaraannya singkat sekali?"
"Ceo Alexander group."
"Alexander Group?" Mata istri Zayn membola mengetahui hal tersebut. "Kenapa dia menemuimu?" tanyanya lagi.
Zayn menunjuk berkas yang tergelak di atas meja dengan dagunya, sehingga lirikan sang istri tertuju ke sana. Bahkan wanita itu mengambil berkas tersebut dan membacanya secara seksama.
"Ini kontrak kerja sama, Sayang!" Istri Zayn terpekik setelah membaca isi berkas tersebut. Dia menatap suaminya yang masih terlihat tenang sambil mengecup leher putihnya.
"Lalu tunggu apa lagi? Kamu akan menyia-nyiakan kesempatan ini, Sayang? Kamu ingin membuktikan pada papa bahwa kamu bisa memimpin perusahaan bukan? Maka terimalah dan Z group akan kembali normal."
"Sayang, apa kau lupa dia baru saya bermasalah dengan kita. Bisa saja ini rencana busuk yang ingin dia jalankan untuk menjatuhkn kita."
"Tidak mungkin" Sanggah istri Zayn. "Bagaimana dia akan bersiasat dalam perusahaan kita? Sementara dia hanya rekan kerja yang bahkan tidak mempunyai saham di sini. Ambilah keputusan secepatnya, Sayang, hingga perusahaan kita kembali normal."
"Nanti aku pikirkan lagi," jawab Zayn yang masih ragu akan pengajuan kerjasama Cakra, padahal di dalam konrak itu tidak ada yang mencurigakan sama sekali.
...
__ADS_1
Jika Cakra dan Rocky sedang memainkam peran licik untuk menjatuhkan Zayn, maka berbeda dengan Eril sendiri yang fokus menjaga rumah tangganya agar tidak retak hanya kehadiran masa lalu Rahma yang bahkan tidak memberikan kesan indah sedikitun.
Pria itu langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang, padahal baru saja pulang kerja. Dia bahkan mengecup pipi Rahma yang mulai berisi. Bukankah ini pertanda Eril sukses membahagiakan wanita itu?
"Masak apa, hm?" tanya Eril.
"Opor ayam buat mas dan Arumi," jawab Rahma.
Wanita itu segera membalik tubuhnya setelah berhasil menyelesaikan pekerjaan dapur, saat itu lah dia langsung mendapatkan kecupan di kening secepat kilat.
"Mas tidak bosan mencium keningku? Aku bahkan tidak bisa menghitung, dalam sehari Mas mengecupnya berapa kali," ujar Rahma dengan nada malu-malu, terlebih hatinya telah benar-benar jatuh pada Eril yang sangat menghargai keberadaannya.
Bahkan, pria itu rela bekerja keras hanya untuk memberikan Rahma kehidupan yang lebih layak dan tidak kesusahan dalam mengurus rumah. Di rumah cukup besar itu, Eril menyewa asisten rumah tangga yang bisa meringankan pekerjaan Rahma. Bahkan semua alat-alat elektronik telah Eril beli, di hari mereka pindah ke rumah tersebut.
"Bisa tidak pertanyaannya dibalik? Kamu tidak bosen dicium terus sama mas, hm?" tanya Eril. Kini pria itu mengubah panggilannya, membiasakan diri menyebut dirinya mas, meski tidak sesuai dengan lidahnya.
Rahma mengelengkan kepalanya dan tersipu malu, membuat Eril tertawa dan gemas sendiri. Pria itu menguyel-uyel pipi Rahma, kemudian mengajak istrinya ke kamar untuk menemui Arhan dan Arumi yang lagi-lagi tidur saat Eril pulang kerja.
"Mas, Arumi pintar banget loh. Kan tadi aku lupa pisahin Arhan sama Arumi karena tiba-tiba perut aku mulas. Dia duduk anteng di samping Arhan dan tidak turun dari ranjang," ucap Rahma.
"Benarkah? Itu tandanya putri kita sayang sama adeknya," sahut Eril antusias. Oh iya, perutnya sudah baikan, hm? Kenapa tidak menelpon mas tadi, padahal mas cuma kerja di seberang rumah."
"Aku baik-baik saja, tapi mau minta maaf karen kecerobohan aku, aku bisa saja membahayakan Arhan dan Arumi."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sayang. Jadikan pembelajaran saja."