Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 153 ~ Rumah yang tepat


__ADS_3

Jam 10 malam, di saat semua orang harusnya sudah terlelap di kasur empuk masing-masing. Eril baru pulang ke rumah setelah mengurus beberapa pekerjaan yang diberikan oleh Cakra. Pria itu benar-benar bekerja dengan serius untuk mendapatkan gaji yang banyak dan menyenangkan hati Rahma dan Arhan yang tentu saja butuh nafkah darinya.


Eril turun dari mobil setelah memarkirkannya dengan aman. Dia berjalan menuju pintu kontrakan kemudian mengetuknya sebanyak tiga kali. Ketukan itu sengaja dia pelankan agar tidak menganggu tidur putra kecilnya. Senyuman Eril mengembang ketika melihat pintu kontrakan terbuka dan menampilkan senyuman indah Rahma.


Rasa lelah yang dirasakan oleh Eril seakan menguap begitu saja melihat sambutan sang istri yang sangat damai dan tenang. Dia melangkah masuk kemudian mengecup kening Rahma membuat wanita itu sedikit tersipu, terbukti Rahma langsung menundukkan kepalanya.


"Aku lega mas sudah pulang," ucap Rahma. Wanita itu mengecup punggung tangan suaminya.


"Maaf membuatmu khawatir." Eril tersenyum, mulai membuka jasnya dan hendak menyimpan di kursi rotan, tetapi diraih oleh Rahma.


"Tidak perlu meminta maaf, Mas. Ah iya, mas udah makan malam? Aku sengaja masak sesuatu tapi sudah dingin, akan aku panaskan lebih dulu."


"Kebetulan aku belum makan. Panaskanlah, aku mandi dulu," jawab Eril. Pria itu berlalu ke kamar diikuti oleh Rahma yang membawa jas suaminya.


Jika boleh jujur, Eril sudah makan malam sendirian di luar karena sangat lapar dan tidak bisa pulang ke rumah. Namun, karena ingin menghargai Rahma yang membuatkan sesuatu untuknya, dia akan makan meski perutnya telah penuh. Pria itu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelahnya memakai baju tidur kemudian menyusul sang istri di dapur.


Tidak adanya meja makan, membuat Rahma dan Eril harus lesehan untuk makan malam bersama.

__ADS_1


"Setelah aku tidak terlalu sibuk, kita cari kontrakan yang lebih layak," ucap Eril di tengah-tengah aktivitas makannya.


Rahma yang tadinya fokus pada piring, kini mendongak untuk menatap suaminya yang tadi bicara. "Mas kurang nyaman di kontrakan ini?"


"Bukan aku, tapi kamu. Setidaknya kita harus punya rumah yang lebih layak dari ini. Satu lagi, aku akan berusaha membeli rumah untuk kita secepatnya."


"Mas?"


"Tidak perlu memujiku, aku memang suami idaman." Eril mengedipkan matanya menggoda.


"Ternyata mas bisa melawak juga." Rahma tertawa. "Tapi aku bukan mau memuji, tapi di bibir mas ada noda makanan. Biar aku bersihkan." Rahma bergerak dan semakin mendekati Eril, mengusap sudut bibir pria itu untuk menghilangkan noda kecap.


"Kamu membuatku malu."


"Kenapa harus malu, mas? Kita sepasang suami istri." Rahma mengulum senyum.


Pembicaraan terus saja berlanjut di antara mereka hingga akhirnya selesai makan. Alih-alih langsung tidur, Eril malah duduk di kursi rotan sambil menikmati permen yang disediakan Rahma di sebuah toples. Bukan karena inisiatif Rahma, melainkan Eril yang meminta.

__ADS_1


"Mas kalau memang terbiasa merokok, aku tidak keberatan. Jangan memaksakan diri," ucap Rahma. Wanita itu mengira Eril memakan permen sebagai pengganti rokok, tetapi itu salah. Menikmati permen sehabis makan sudah menjadi kebiasan Eril sejak kecil.


"Aku belum pernah mencicipi benda itu, Rahma. Ngemil permen sudah menjadi hobiku." Eril merentangkan tangannya, kemudian menarin kursi Rahma agar semakin mendekat.


"Aku belum mengantuk, ceritakan aktivitasmu hari ini!" pinta Eril.


"Aktivitasku?" Rahma mengerutkan keningnya, berususaha mengingat-ingat hal menarik apa yang akan dia ceritakan untuk suaminya. Wanita itu hendak mengeleng sebagai jawaban, tetapi urung ketika ingatannya tertuju pada siang tadi, di mana dia kedatangan tamu. "Tadi siang, mas Wildan datang bertamu ke rumah, tapi tidak lama karena aku tidak mengizinkannya masuk ke rumah. Aku juga mengatakan suamiku sangat pecemburu."


Kening Eril mengerut. "Wildan mantan calon suami kamu?"


"Iya, Mas."


"Kamu masih mencintainya?" tanya Eril.


Rahma terdiam, dia tidak ingin berbohong tetapi juga tidak ingin menyakiti hati Eril.


"Rahma?"

__ADS_1


"Aku merasa nyaman bersama kamu, Mas. Aku juga mulai mencintaimu," jawab Rahma. Alih-alih berbohong, dia memilih mengutaran isi hatinya.


__ADS_2