
Usai memastikan semua pekerjaan di kantor telah selesai dan tidak ada kendala apapun lagi, Cakra akhirnya meninggalkan ruangan kerja yang sebenarnya tidak ingin dia masuki, lantaran ingin menemani istrinya di kamar. Namun, apa boleh buat, dia juga mempunyai kesibukan lain, sebab menjadi direktur di sebuah perusahaan yang proyeknya hampir tersebar di kota ataupun desa terpencil.
Pria itu membuka pintu kamar sangat hati-hati karena tidak ingin salah satu anaknya terbangun. Dia berjalan mendekat, kemudian mencium cuping telinga Liora yang tengah berbaring membelakanginya.
"Dari mana?" tanya Liora tanpa merubah posisinya, wanita itu sedang menyusui Leona, sementara Lion telah tertidur, begitupun dengan Liam yang berada di kamar sebelah.
"Kerja, tapi udah selesai," jawab Cakra. Pria itu berjalan ke kamar mandi untuk cuci tangan juga muka, tidak lupa ganti baju sebelum berbaring di samping putrinya yang telah berhenti menyusu.
Cakra menatap lekat wajah cantik Liora. "Kamu udah tahu kalau Eril dan Rahma akan menikah?"
"Menikah?" Liora terkejut, suara wanita itu bahkan meninggi membuat putrinya ikut terkejut. Cakra yang melihatnya dengan sigap menyentuh tangan mungil Leona dan menenangkannya agar tidak terbangun.
__ADS_1
"Pelan-pelan kalau ngomong, Sayang!" tegur Cakra dan dibalas cengiran tidak bersalah dari Liora.
"Maaf, namanya juga terkejut. Btw, yang Mas omngin beneran?"
"Hm, besok mas akan datang sebagai keluarga dari Eril. Lagian nikahnya juga di masjid nggak ada pesta apapun."
Liora mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia tersenyum, mengusap rambut suaminya yanag mulai lebat karena tidak terurus lantaran dia sibuk dengan Lion dan Leona, belum lagi Liam yang sering kali ingin mengigit dua bayi kecil itu, mungkin karena gemas.
"Memangnya kalau nggak nganteng kamu mau cari yang lain hm?"
"Nggak, soalnya suami aku kaya. Aku bisa beli apa aja kalau mau. Lagi pula aku nggak mau putra-putra dan putriku merasakan hidup di mana harus membatasi porsi makan untuk bisa makan esok harinya." Liora tersenyum. Sampai sekarang dia tidak pernah lupa apa yang dia perjuangkan demi bertahan hidup, apa lagi saat Liam hidup bersamanya. Pernah sekali, Liora rela tidak makan lantaran uang pembeli beras, dia gunakan untuk Liam membeli susu.
__ADS_1
"Jangan diingat lagi. Tidur gih!" perintah Cakra.
Pria itu bangun dar tidurnya, mengecup kening Liora kemudian mengendong putrinya menuju boxs bayi, setelahnya kembali berbaring dan memeluk istrinya.
"Perawatannya setelah anak-anak kita bisa ditinggal. Maaf ya lagi-lagi buat badan kamu melar," bisik Cakra sebelum memejamkan matanya.
Sementara Liora masih setia terjaga, tangan wanita itu sibuk mengelus rambut suaminya yang kini bersembunyi di ceruk leher. Mendapatkan Cakra adalah anugrah yang tidak akan pernah Liora sia-siakan. Mendapatkan suami kaya itu bonus, tetapi memiliki suami yang mencintai kita apa adanya dan tidak pernah menuntut apapun, adalah sebuah keharusan.
"Entah amalan apa yang pernah aku lakukan dulu sampai bisa menjadi istri kamu mas," bisik Liora. "Oh iya, apa nggak sebaiknya aku ambil anaknya Rissa juga? Biar sekalian aku besarin 4 anak. Dua cewek dan dua cowok, pasti rumah ramai banget," gumamnya.
Sakin bahagianya, Lora sampai lupa mempunyai keponakan yang sangat cantik berusia 1 tahun lebih. Namanya Arumi, sekarang tinggal bersama Rocky.
__ADS_1