
Suara tangisan bayi yang mengema di ruangan itu, membuat semua orang yang mendengarnya tersenyum lega. Setelah berusaha mati-matian dan memperjuangkan hidup dan mati, Liora berhasil melahirkan putra kedua mereka.
"Sayang?" Liora melirik Cakra, sementara yang ditatap menganggukkan kepalanya dan tersenyum bangga pada istri tercinta.
"Makasih Lioraku, berkatmu kini hidupku semakin lengkap dan berwarna," ucap Cakra.
"Sama-sama, Mas. Bergegaslah untuk mengadzani putra kita. Aku juga harus bersiap sekarang," lirih Liora. Meski berhasil melahirkan secara normal. Liora masih akan melakukan caesar untuk anaknya yang satu lagi. Itu semua karena posisi bayi terakhir yang masih berada diperut Liora tidak bisa melakukan kelahiran normal.
Cakra menganggukkan kepalanya meski berat hati. Dia kembali membenamkan bibirnya di kening Liora, bukan hanya itu, dia bahkan mengecup seluruh wajah istrinya. Setelah merasa cukup puas, dia menatap Dokter yang kini berdiri di samping brangkar wanita itu.
"Istri saya akan baik-baik saja kan, Dok?" tanya Cakra memastikan.
"Tentu, Tuan. Tidak ada komplikasi apapun, terlebih masa-masa kehamilan Nyonya Liora terbilang sangat sehat."
__ADS_1
"Saya percayakan semuanya pada dokter!"
Cakra keluar dari ruangan itu dengat berat hati. Dia akan menunggu putranya selesai dimandikan dan dibawa ke ruangan lain untuk istirahat. Kondisi yang sehat dan berat badan normal, membuat bayi itu tidak perlu masuk ke ruangan nicu.
***
Dua jam setelah operasi caesar di lakukan, selama itu pula Cakra tidak pernah meninggalkan ruangan perawatan Liora. Pria itu tidak ingin melewatkan setiap detik dan gerak putranya yang kini tengah tengkurap di dada Liora yang terekspos. Tidak perlu khawatir orang lain akan melihatnya, itu tidak akan terjadi. Cakra telah mengunci pintu ruangan setelah memastikan kondisi istrinya pada sang dokter.
Rocky dan Eril? Mereka masih ada di luar ruangan. Rocky duduk dengan ipad di tangannya, sementara Eril berdiri, lantara baru saja datang setelah mengantar Rahma juga abahnya. Pria berusia 23 tahun, ikut duduk di samping kakanya. Dia sangat lelah, tetapi Rocky bukan tempat yang cocok untuknya mengeluh. Eril menganggap kakaknya adalah robot, lantaran tidak punya lelah jika itu menyangkut Cakra.
Rocky yang mendengarnya segera mengalihkan tatapannya dari layar ipad. Pria itu menatap tajam adiknya yang tidak pernah mendengarkan apa yang dia katakan jika itu menyangkut Rahma.
"Aku sudah dewasa dan bisa menentukan pilihan aku sendiri, Kak. Aku mencintai Rahma tanpa melihat kekurannya. Lagi pula apa salahnya menutup aib dia? Ini buka keinginanya."
__ADS_1
"Eril!" tangan Rocky mengepal.
"Seperti keputusan kak Rocky yang ingin mengasuh putri Rissa, maka keputusan aku juga sudah bulat untuk membesarkan darah daging orang lain," ucap Eril penuh keyakinan.
"Itu berbeda!"
"Sama, Kak Rocky! Lagi pula aku nggak mau kayak kakak yang menjomblo seumur hidup."
"Kau?" Rocky memelototkan matanya, Eril selalu mengejeknya jika sedang berdua saja seperti ini.
"Aku curiga kak Rocky sukanya terong," bisik Eril kemudian melarikan diri dari hadapan kakaknya. Siapa yang akan tinggal? Yang ada, kepala dan telinganya akan menjadi sasaran empuk.
Pria itu menghentikan langkahnya setelah berada di taman rumah sakit. Sudah jam 4 pagi, tetapi dia dan kakaknya belum juga istirahat. Apa sesusah ini menghasilkan uang yang banyak?
__ADS_1
"Akkkkk, gue pengen kaya tanpa kerja!" teriak Eril layaknya orang gila.