Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 56


__ADS_3

"Nyonya?" Liora menoleh saat seseorang memanggil namanya.


"Eril, ada apa?" tanya Liora.


"Boleh saya minta bantuan? Saya berencana ingin memancing Tuan Brian agar masuk ke ruang bawah tanah, dan sepertinya Anda pancingan yang sesuai," ucap Eril hati-hati.


Walau ragu Liora menganggukan kepalanya. "Boleh, aku harus apa biar mancing dia?"


"Nyonya bakal berada di rumah ini sendirian tanpa pengawalan satupun. Tapi Anda jangan khawatir Nyonya, nggak ada seorangpun yang bisa menyakiti Anda, saya akan memantau dari jauh."


"Hanya itu?"


"Iya, dan tolong buat umpan agar Tuan Brian ke ruang bawah tanah, di sana bang Rocky menunggunya."


Mata Liora langsung terbuka lebar. Rasa takut yang dia rasakan menghilang saat mengingat pembicaraanya bersama Eril tadi saat tidak sengaja bertemu di teras belakang.


Wanita cantik tersebut langsung berlari keluar kamar. Jika prediksinya tidak salah, sekarang pasti Cakra mengamuk pada semua pengawal juga pelayan sebab menghilang dan membuatnya takut.


"Bodoh, kenapa aku malah memperlihatkan rasa takut di depan mas Cakra," gumam Liora terus berlari.


Ah rasanya rumah ini menjadi dua kali lebih besar, di saat dia ingin sampai lebih cepat keruang tamu.


***


Rocky melirik Eril yang menunduk, keringat dingin memenuhi pelipis laki-laki itu.


"Saya yang memerintahkan mereka agar tidak berada di sekitar istri Anda Tuan. Hanya ini cara agar kita bisa menangkap Tuan Brian dengan cepat," ucap Rocky.


Bugh

__ADS_1


Pukulan kembali mendarat, kali ini bukan ke wajah Eril dan pengawal lainnya, melainkan di wajah Rocky.


"Dengan membahayakan nyawa dan kesehatan istri saya! Sudah saya katakan, mereka lebih penting dari apapun. Keselamatan Liora jauh lebih penting daripada menangkap Brian dengan hal konyol seperti ini!" bentak Cakra berapi-api.


Kepalan tangan laki-laki itu bergetar, bersiap untuk melayang untuk kesekian kalinya. Namun, kepalan itu terhenti di udara saat seseorang memeluk dari belakang.


"Jangan pukul Rocky Mas, dia baru saja sembuh. Mereka nggak bersalah, aku yang mau melibatkan diri dalam masalah ini," ucap Liora menyembunyikan kepalanya di pundak Cakra. Pelukan Wanita itu sangat erat.


Cakra langsung berbalik, kemudian menarik dagu Liora agar menatapnya. "Bukannya kamu lemas, kenapa malah datang ke sini?" tanya Cakra dengan suara rendah dan lembut.


"Aku mau di peluk Mas." Bohong Liora.


Cakra kembali menghadap Rocky. "Di mana Brian berada sekarang?"


"Ada di Villa bersama pengawal Tuan," jawab Rocky.


"Kali ini kalian saya maafkan karena permintaan istri saya. Kembali ke kawasan masing-masing!"


"Makasih Tuan," ujar mereka serempak, kemudian membubarkan diri menyisakan Eril dan Rocky.


"Kenapa kalian masih di sini?"


"Ah ya, kami permisi Tuan," pamit Rocky dan mendorong tubuh Eril pergi dari sana. Kini giliran dia yang memberi pelajaran pada adiknya karena bertindak bodoh.


Di pukul oleh Cakra adalah hal bersejarah bagi Rocky. Sebab selama ini laki-laki itu tidak pernah mengecewakan Cakra sedikitpun.


Sementara orang yang telah mengamuk kini berjalan menuju kamar beriringan dengan istrinya.


Tangan Cakra terus mengenggam tangan Liora.

__ADS_1


"Jangan kebiasan mukul orang gitu Mas," ucap Liora.


"Kamu bela mereka setelah apa yang mereka lakukan, hm?" Cakra menatap tajam Liora.


Laki-laki itu paling tidak suka jika Liora lebih memetingkan orang lain di banding dirinya sendiri.


"Nggak, papanya Liam," jawab Liora.


Wanita itu sedikit berjinjit kemudian mendaratkan kecupan di bibir sang suami agar berhenti marah-marah.


Cup


Cup


Cup


.


.


.


.


.


.


Komentar kalian semangat Author

__ADS_1


__ADS_2