
Jalan-jalan bersama keluarga kecil adalah hal yang sangat menyenangkan, apalagi jika bernostalgia tentang masa lalu di mana mereka pernah bertemu sebelumnya. Seperti saat ini, alih-alih liburan ke tempat-tempat yang sering mereka kunjungi sebelumnya. Cakra malah mengajak keluarga kecilnya ke kampung halaman sang istri untuk menenangkan pikiran dan hati. Terlebih kampung nelayan masih saja menjadi kampung asri dengan banyak laut dan pepohonan yang menyertai.
Cakra dan Liora sampai di kampung nelayan setelah menempuh perjalanan selama 6 jam naik mobil. Kali ini dia tidak membawa keluarga kecilnya terbang dengan helikopter lantaran ingin menikmati perjalanan. Dia berangkat bukan hanya satu mobil tetapi tiga mobil sekaligus yang dihuni oleh pengawal juga nani baby L.
"Mama, Liam mau mandi di laut itu!" pekik Liam menunjuk laut yang sangat indah lantaran ditemani oleh senja.
"Besok sayang kita jalan-jalan ke lautnya, sore ini mandi di kolam yuk sama mama," ajak Cakra dengan kerlingan genitnya pada sang istri yang memasang wajah sangar.
"Mau!" sahut Liam.
Bocah itu berlari menuju kolam renang yang berada di luar ruangan. Kolam renang yang mengarah pada laut yang sangat cantik karena pantulan matahari yang hampir terbenam..
Cakra menyusul putranya menuju kolam. Menceburkan tubuhnya yang telah siap basah lantaran gerah setelah perjalanan jauh. Cakra tidak memaksa istrinya untuk ikut karena tahu wanita itu pasti lelah dan ingin istirahat.
"Ayo sini, Sayang!" panggil Cakra pada Liam yang berdiri di inggir kolam.
Liam segera merosotkan tubuhnya pada kolam sedalam setengah meter dengan lebar satu meter tersebut. Dia menghampiri papanya yang berada di bagian luar kolam yang kedalamannya 2 meter..
__ADS_1
"Gendong Liam papa!" pinta Liam.
Cakra segera merentangkan tangannya, memindahkan Liam dari kolam kecil itu. Keduanya berenang ke sana kemari dan saling tertawa satu sama lain.
"Mama ikut," ucap Liora yang ternyata tadi menghilang bukan karena tidak ingin mandi, melainkan berganti baju. Dia menceburkan tubuhnya ke kolam itu, lalu berenang menghampiri dua pria kesayangannya.
"Dingin," keluh Liora.
"Mama mau peluk?" tanya Liam.
Liora menganggukkan kepalanya cepat, sehingga mendapatkan pelukan hangat dari putranya yang berada di gendongan sang suami.
"Aku tidak sia-sia membawa kalian kesini," bisik Cakra.
...
Sama hal dengan Cakra dan keluarga kecilnya yang menikmati udara dingin di sore hari, Rocky pun melakukan hal yang sama di balkon apartemennya. Pria itu ditemani oleh secangkir kopi dan sebungkus benda bernikotin yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Kenapa tenggorokan saya selalu saja kering?" tanya Rocky entah pada siapa. Pria itu kembali mengelus lehernya. Rasa haus itu sudah berlangsung seminggu ini tanpa ada penyebabnya. Dia juga sudah memeriksakan diri pada dokter, tetapi dokter mengatakan dia hanya dehidrasi, padahal Rocky merasakan hal yang berbeda.
Pria itu beralih menatap layar ponselnya yang sedang menampilan foto seorang wanita. Entahlah, tangan Rocky tiba-tiba saja masuk ke galeri saat duduk di balkon apartemannya.
"Dasar pencuri!" todong Rocky pada foto Alea yang sedang tersenyum manis.
Sementara di tempat lain, di waktu yang sama. Pemilik foto sedang berlarian di lobi kantor yang tidak terlalu luas itu, bahkan hanya terdiri dua lantai di mana lantai bawah digunakan untuk menyetok bahan-bahan bangunan dari kantor pusat yang entah siapa pemiliknya, Alea kurang tau.
Gadis itu terus berlari hingga akhirnya sampai di depan ruangan manager. Dia mengatur napasnya sebelum mengetuk daun pintu tersebut. Tetapi pintu itu malah terbuka dengan sendirinya lantaran pemilik ruangan keluar.
"Alea? Apa yang kamu lakukan di depan ruangan saya? Jam kerja telah berakhir." ucap manager muda nan tampan itu.
"An-anu, Pak. Laporan yang Bapak suruh kerjakan, apa belum dikrim ke kantor pusat?" tanya Alea. Wanita itu baru tahu bahwa salah satu fotonya terselip di sana saat memeriksa laptopnya tadi dan menemukan salinan laporan tersebut.
"Sudah, saya mengirimnya tadi pagi. Kenapa? Apa kau membuat kesalahan?" tanya manager tersebut.
"Ti-tidak, Pak. Saya hanya bertanya. Kalau begitu saya pergi dulu." Alea memberikan bow sebelum meninggalkan atasannya di lantai dua. Dia berjalan terburu-buru menuruni anak tangga sambil menyakinkan diri bahwa foto itu tidak menjadi masalah untuknya.
__ADS_1
"Tenang Alea, kamu tidak sepenting itu sehingga harus bertemu orang-orang pusat. kamu tidak perlu malu, tidak akan ada yang mengenalimu," ucapnya pada diri sendiri.
Wanita itu berjalan di pinggir jalan untuk menuju kontrakannya yang tidak terlalu jauh dari kantornya bekerja. Sakin fokusnya berjalan, dia sampai tidak menyadari ada yang diam-diam mengamati pergerakannya, bahkan dengan lancang mengambil foto tanpa izin.