
"Aduh jangan tanya-tanya perawatan Liora, Bu. Takutnya kalau di spil kita tidak bisa beli," ujar ibu-ibu yang sedang memangku cucunya. Sementara beberapa sibuk menguyel-uyel pipi mengemaskan Lion dan Leona. Mungkin jika Cakra ada di sini, pria itu akan menepis semua tangan yang menyentuh putra-putrinya.
"Saya bisa membeli perawatannya," ujar bu Firda yang tiba-tiba datang dengan kipas angin di tangannya. "Ibu-ibu sekalian nanti saya terakhir sayur ya, soalnya Wildan hari ini baru saja resmi jadi manager," lanjutnya.
Sontak mata para ibu-ibu membola, mereka senang mendengar ada yang ingin membelikan sayur yang semakin hari semakin mahal.
"Beneran ya bu Desa?"
"Iya dong," sahut bu Firda bangga. Meski sudah tidak membenci Liora seperti dulu, tetap saja dia tidak ingin mendapatkan saingan kekayaan. Bahkan dia memaksa suaminya agar ingin membangun rumah lebih mewah dari rumah Cakra dan Liora yang berukuran kurang lebih 100 meter persegi di luar tanah yang masih kosong di dalam pagar tinggi.
"Selamat ya bu, Wildan berhasil mencapai cita-citanya," ucap Liora ramah.
"Tentu saja."
...
Orang yang sedang dibangga-banggakan oleh ibunya di kampung, kini tengah tersenyum lebar setelah berhasil memasuki sebuah ruangan pribadi khsususnya sendiri. Sejak dulu Wildan selalu bermimpi untuk menjadi manager di sebuah perusahaan ternama dan kini dia berhasil menjembataninya tanpa usaha yang cukup mengurus tenanga.
Namun, di tengah kebahagiaan Wildan, seorang kepala keluarga harus kehilangan pekerjaannya secara dadakan hanya karena kesalahan kecil yang tidak sepantasnya dipecat.
"Semoga jabatan kamu bertahan dan berkah, meski hasil merampas milik orang lain," gumam pria paruh baya itu yang masih berdiri di depan ruangan Wildan. Sekarang pria itu kehilangan mata pencariannya padahal harus menyekolahkan tiga seorang putri dan istri yang sakit.
__ADS_1
Di sis lain, Wildan masih menikmati kejayaannya sampai melupakan tugas yang semestinya harus dia jalankan. Yaitu merebut secara paksa Arhan dari Rahma dan Eril. Tawa pria tampan itu baru terhenti ketika pintu ruangannya dibuka oleh Zayn. Wildan langsung berdiri dari kursi kebesarannya dan menghampiri Zayn yang duduk di sofa sambil bertumpu kaki.
"Saya harap kamu tidak melupakan sesuatu," ucap Zayn dengan senyum miringnya.
Raut wajah Wildan seketika berubah, jantung pria itu sedang berdetak tidak karuan setelah mengingat apa yang harus dia lakukan.
"Tentu saja saya tidak melupakannya, Tuan," jawab Wildan cepat. Demi sebuah nama dan jabatan, Wildan rela mengkhianati wanita yang sangat dia cintai. Terlebih cinta itu tidak lagi berguna untuk Wildan saat ini. Dua kali dia ditinggal nikah oleh gadis yang dia cintai, mereka lebih memilih orang kaya dibandingkan dengan dirinya.
Jadi tidak salah bukan jika Wildan ingin kaya dan mempunyai banyak uang? Agar bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, termasuk cinta.
"Cakra sedang liburan bersama keluarganya. Rocky dan Eril berada di perusahaan, bunkah ini waktu yang pas untuk menjalankan misi?" tanya Zayn.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Bergegaslah bertemu dengan Rahma!"
Wildan lagi-lagi menganggukkan kepalanya, pria itu meninggalkan ruangan manager bersama Zayn. Bedanya Wildan berjalan menuju lift, sementara Zayn menuju ruangan Ceo yang terdapat di lantai yang sama.
Suasana hati Zayn kini sedang bahagia karena semua keinginanya terkabulkan. Mendapatkan sekutu yang akan membantunya mendapatkan Arhan dan harga saham terus naik lantaran berhasil kerja sama dengan Alexander group.
Zayn kali ini benar-benar menganggap Cakra bodoh karena menolongnya. Bukankah ada pepatah yang mengatakan .... Jangan pernah memelihara kuda kecil, karena jika kuda itu besar nanti, ia akan menendangmu tanpa belas kasihan. Dan itu akan Zayn lakukan pada Cakra. Lihat saja nanti, Zayn akan menghancurkan Cakra hingga memohon di bawah kakinya.
...
__ADS_1
Wildan menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah milik Rahma dan Eril. Pria itu turun karena tidak kunjung di bukakan pintu oleh pria berjas hitam yang sedang duduk di pos jaga.
"Tolong buka pagarnya!" perintah Wildan.
"Maaf, Tuan, Anda siapa dan sedang mencari siapa?" tanya petugas tersebut.
"Saya keluarganya Rahma, saya ingin bertemu dengannya"
"Siapa nama Anda?"
"Wildan."
"Tunggu sebentar, Tuan."
Penjaga rumah ber jas hitam tersebut langsung menghubungi Eril, sesuai perintah pria tersebut jika ada seseorang yang ingin bertamu ke rumahnya. Penjaga itu bernapas lega ketika panggilannya langsung dijawab oleh Eril.
"Maaf menganggu waktunya, Tuan. Tetapi Nyonya Rahma kedatangan keluarganya. Dia seorang lelaki, namanya Wildan. Apakah saya memperbolehkan dia masuk atau tidak?" tanya sang penjaga sangat lengkap.
"Tidak! Apapun yang terjadi jangan biarkan dia masuk, bahkan jika istri saya mengizinkan," jawab Eril tegas.
"Baik, Tuan."
__ADS_1