Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 64


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah, baik Cakra maupun Liora tidak ada yang mengeluarkan suara. Keheningan pecah karena kelakuan Liam yang mengemaskan.


Bahkan sampai di rumah pun, Liora belum juga mengeluarkan sepatah katapun, membuat Cakra mulai uring-uringan sendiri.


Laki-laki tampan itu lebih ingin di omeli, daripada harus di diamkan seperti sekarang.


"Liam bobo ya," bujuk Cakra pada putranya.


Sejak pulang, Liam terus menempel padanya, hingga dia tidak bisa membujuk Liora dengan benar.


"Tanen Papa." Liam mengelengkan kepalanya.


"Udah tengah malam Sayang. Liam bobo, besok kita main lagi," bujuk Cakra untuk ke sekian kalinya.


"Liam penen bobo Papa cama Mama."


"Liam bobo sama Nani, ntar Papa buat dedek biar Liam ada temenanya."


"Dedek?"


"Iya Sayang."


Liam langsung menganggukkan kepalanya, kemudian merentangkan tangan pada Naninya yang sedari tadi menunggu. Jarum jam sudah menunjukkan angka 10, tetapi Liam belum juga tidur.


Sebelum keluar dari kamar putranya, Cakra mengecup kening Liam sebentar.


Cakra tersenyum lebar seraya melangkah menuju kamar utama di mana Liora berada. Sesampainya di kamar, dia mendapati sang istri berdiri di depan cermin.


Tanpa membuang kesempatan yang ada, Cakra langsung memeluk Liora dari belakang. Mengendus aroma wangi yang menguar di indera penciumannya.


"Udah ngambeknya Sayang!" bujuk Cakra. "Aku tuh sayang banget sama kamu, cinta sama kamu."


"Basi," cibir Liora. Walau begitu, dia sama sekali tidak melerai pelukannya.


Liora tidak benar-benar marah, hanya saja dia ingin menjera Cakra karena berbohong padanya.

__ADS_1


"Nggak basi. Sayang dan cinta aku masih segar." Cakra semakin mengeratkan pelukannya, menyingkirkan rambut panjang Liora hingga dia bisa menikmati leher jenjang itu leluasa.


"Mas udah deh, aku tuh masih ... hhhmmmppp."


Liora tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena perbuatan Cakra. Laki-laki itu terus melahap rakus bibir yang selama dua hari ini dia rindukan.


Ini lah cara yang benar untuk membujuk Liora, itulah mengapa Cakra tidak bisa melakukannya saat ada Liam.


"Mas, aku sesak ih." Liora mendorong dada Cakra agar menjauh.


Bukannya nurut, Cakra malah semakin brutal menyesap bibir Liora, mengendong wanita cantik itu menuju ranjang dan menindih tubuhnya.


Cakra senyum miring setelah berhasil berlutut di sisi kanan dan kiri sang istri.


"Maafin atau lanjut?" tanya Cakra menaikkan salah satu alisnya.


Laki-laki itu mulai melepas satu persatu kancing piyama yang dia gunakan, hingga memperlihatkan otot perut yang sangat menggoda iman.


"Di maafin," lirih Liora memalingkan wajahnya.


Cakra mengecup pipi Liora kemudian mengulingkan tubuhnya ke samping. Menarik wanita itu masuk ke pelukannya.


"Nahkan, gini enak Ra. Suami pulang di manja Sayang, bukan di cuekin."


"Mas juga ngapain bohong sama kamu? Katanya nggak mukulin Brian, tapi tadi pas di tanya lehernya luka karena Brian. Apa jangan-jangan ini alasan Mas ke luar kota beberapa hari? Biar ngilangi jejak?" rentetan pertanyaan mulai keluar dari mulut Liora.


Wanita itu dalam mode cerewet, bukannya menakutkan, malah terlihat mengemaskan di mata Cakra.


"Iya," lirih Cakra dengan bibir sengaja di manyungkan.


"Iya apa?"


"Semua yang kamu tanyain, jawabannya cuma satu."


Bugh

__ADS_1


Liora menghujani dada Cakra dengan pukulan-pukulan ringan untuk melampiaskan rasa kesalnya.


"Kenapa harus ngehindar? Mas nggak mau di rawat sama aku?"


"Bukan gitu Sayang, mas cuma nggak mau kamu khawatir."


"Tetap aja, aku marah karena mas bohongin."


"Maaf."


"Di maafin."


"Sayang, kalau gitu...." Cakra menarik-narik baju Liora agar kembali berbaring. Wanita itu tengah duduk di pinggir ranjang seraya membelakangi Cakra.


"Aaakkkhhhh, sakit banget dada aku Sayang." Cakra memegangi dadanya yang kini terekspos tanpa penghalang apapun.


.


.


.


.


.


Komentar dan like kalian semangat Author


Follow untuk dapatkan info seputar novel Author🤗


IG: Tantye005


Tiktok: Istri sahnya Eunwoo


Hot Daddy

__ADS_1



__ADS_2