
Kerja sama antara Cakra dan pak Wardi akhirnya telaksana sesuai keinginan masing-masing. Hari ini Cakra berencana untuk meninjau lokasi, agar mengetahui apa-apa saja yang di perlukan.
Lagi dan lagi saat dirinya akan meninggalkan perusahaan, Brian selalu saja datang tanpa diduga.
"Kak Cakra mau kemana?" tanya Brian.
Keduanya berpapasan di depan lift.
"Desa luwut ninjau lokasi," jawab Cakra seadanya seraya merapikan kacamata yang melekat pada wajah tampannya itu.
Kacamata hitam yang semakin membuat penampilan Cakra memukau, di tambah wajah tampan juga rupawan.
"De-desa luwut? Aku aja, kak Cakra nggak perlu repot-repot apa lagi panas-panasan hanya untuk meninjau lokasi. Serahkan semuanya padaku, sesekali menjadi adik yang berbakti nggak ada salahnya."
Brian menawarkan diri, takut jika Cakra berkunjung kesana, laki-laki itu akan bertemu Liora. Walau sudah memerintahkan anak buahnya memantau Liora dan mencegah bertemu Cakra dia masih merasa was-was.
Di culikpun, tidak ada gunanya, yang ada Liora tidak akan membenci Cakra jika mengetahui semuanya.
Cakra yang mendengar ucapan adiknya, segera menoleh, tanpa melepas kacamata hitam yang melekat di wajahnya, lelaki itu meneliti gelagat adiknya yang terlihat mencurigakan.
"Kalau kamu mau jadi adik yang berguna, maka kerjakan proyek yang berada di Batam. Lagian proyek ini bukan proyek biasa," ucap Cakra sedikit pedas.
Bagaiaman Cakra tidak curiga, dua hari yang lalu, dia menemukan kejanggalan pada salah satu proyek, pekerja sempat mengadakan protes sebab upah mereka tidak sesuai dengan kerja keras mereka. Hal ini membuat Cakra yakin penyebabnya adalah Brian, karena selama ini yang mengurus keungan pekerja adalah laki-laki tersebut.
Cakra menepuk pundak Brian. "Kerjakan proyek ini baik-baik kalau ingin naik jabatan. Nggak ada yang instan di dunia ini, termasuk pada saudara sendiri."
***
"Sialan!" pekikan Brian mengelegar didalam ruangan terlihat gelap juga sedikit mencekam.
"Kenapa Sayang?" tanya Rissa mengelus pundak kekasihnya.
"Sepertinya Cakra mulai curiga sama aku."
"Lalu apa yang harus kita lakukan Brian?"
Brian melirik kekasihnya, tatapannya tertuju pada perut Rissa. "Gunakan rahim kamu untuk mengelabuinya, salah satu cara biar bisa merebut semua kekuasaan adalah melahirkan pewaris Aleksander selanjutnya."
Mata Rissa melotot tidak percaya. "Kamu gila Brian? Aku nggak mungkin nikah sama dia, apa lagi ...." Ucapan Rissa terpotong sebab jari telunjuk Brian menempel di bibirnya.
__ADS_1
"Sayang, aku nggak nyuruh kamu ngandung anak dia, kamu tetap mengandung anak aku."
"Menjebak?"
"Seperti itulah, kamu harus lakuin ini secepatnya, biar bisa menikah dan di akui oleh hukum, dengan begitu warisan akan jatuh ketangan kita. Jika itu terjadi, keberadaan Liora dan anaknya nggak akan jadi masalah."
***
Liora terkejut bukan main, saat tidak mendapati Liam di kamarnya. Wanita itu baru saja menyelesaikan cuciannya.
"Liam?" teriak Liora terus berjalan keluar mencari putra satu-satunya.
Entah kemana lagi anak yang kelewat aktif itu hingga menghilang tiba-tiba. Liora terus menyusuri jalan mencari keberadaan Liam.
Baju basah dan rambut sedikit berantakan Liora hiraukan, kini dia khawatir dengan putranya. Sebelum terlalu panik, Liora menghubungi Wildan untuk menanyakan keberadaan putranya, nihil, Wildan tidak tahu dimana Liam berada.
"Bu," sapa Liora. "Bu Fatimah liat anak saya?"
"Oh Liam? Tadi lari-larian kearah sana," tunjuk Bu Fatimah pada lorong yang hanya bisa di lalui motor saja.
Wanita itu menelan salivanya kasar, kawasan tersebut kawasan yang selalu menghina dirinya. Dengan langkah lebar, Liora menuju rumah yang dia yakini putranya berkunjung kesana.
"Kalau punya anak tuh di jaga? Bukan malah berkeliaran dan di biarkan mencuri begitu saja. Gini nih kalau nggak punya uang, anaknya di suruh mencuri!"
Dada Liora bergemuruh hebat, kobaran api dalam dirinya siap keluar, mungkin jika dirinya yang di hina dia tidak akan semarah ini, tetapi lain cerita jika bersangkutan dengan putranya.
"Maksud bu Weni apa? Saya nggak pernah ngajarin anak saya mencuri apapun, bahkan kalau nggak makan sekalipun! Jangan mentang-metang bu Weni punya banyak uang bisa seenaknya seperti ini! Ingat Bu, roda kehidupan itu berputar, nggak selamanya bu Weni ada di atas!"
"Kamu nyumpahin saya miskin seperti kamu?" Bu Weni mendorong tubuh Liora hingga membentur tembok lorong.
"Ra, masa tadi Bu Weni mukul sama nyubit anak kamu sampai nangis-nangis. Kalau saya jadi kamu ya nggak bakal terima!" Salah satu tetangga mengompori Liora agar terus beradu argumen dengan bu Weni.
Bu Weni salah satu ibu-ibu sombong di kampung Nelayan, apa lagi sekarang sudah mempunyai cucu usia kurang lebih satu setengah tahun, cucunya di limpahi banyak mainan, itulah mengapa Liam sering kali mengunjung rumah bu Weni hanya untuk bermain.
"Ya saya nyumpqhin bu Weni bangkrut biar bisa ngerasain jadi Saya!" ucap Liora dengan suara bergetar.
Usai mengatakan hal itu, Liora segera pergi dari lorong tersebut, sayangnya bu Weni mengikuti hingga di depan rumah Liora karena tidak terima di sumpahi.
Bu Weni langsung menarik rambut Liora dari belakang, hal tersebut membuat Liora terhuyung, untung saja tidak jatuh. Karena tidak mau kalah, Liora membalas jambakan yang bu Weni lakukan.
__ADS_1
Warga sekitar yang melihat pertengkaran itu bukannya melerai, mereka malah menikmati.
***
Cakra menghirup udara segar sebanyak-banyaknya setelah sampai di desa luwu, kini dia dan beberapa asistennya berada di laut untuk meninjau lokasi. Sebenarnya Cakra akan datang bersama Arsitektur andalannya, tetapi orang itu mempunyai kepentingan dadakan, dan akan menyusul nanti.
Semilir angir lumayan kecang, berhasil menerbangkan rambut Cakra yang sedikit lebat, bukannya jelek, lelaki itu malah terlihat semakin menawan.
Cakra terus berjalan menyusuri pinggir laut di sore hari. Helanaan nafas berat Cakra keluarkan saat teringat dengan seseorang.
"Mas rindu Ra," gumam Cakra.
Laki-laki itu menoleh pada asistennya. "Apa di dekat sini ada desa yang sering di sebut desa Nelayan?" tanya Cakra.
Laki-laki itu lupa-lupa ingat alamat juga jalan menuju desa tempatnya tinggal dulu, yang dia ingat desanya juga berada di dekat laut, walau tidak sedekat desa luwut.
"Saya kurang tahu Tuan, tapi saya sedikit tidak asing dengan nama itu, saya mendengar salah satu warga menyebutnya tadi."
"Benarkah?" tanya Cakra di jawab anggukan oleh asitennya.
Karena penasaran dan ada urusan dengan kepala desa, Cakra memutuskan untuk berkunjung ke kantor kepala desa sekalian bertanya desa yang dia maksud.
"Tuan, sebaiknya kita naik mobil saja!"
"Tidak perlu, saya sudah terbiasa jalan kaki di bawah terik matahari seperti ini," jawab Cakra terus berjalan.
Jarak tempat yang dia pijak dengan kantor desa lumayan dekat, mungkin sekitar 50 meter. Karena sibuk memperhatikan lingkungan, Cakra tidak sengaja menabrak tubuh seseorang hingga tersungkur.
"Anda tidak apa-apa Nona?"
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
__ADS_1