Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 102


__ADS_3

Cakra berkacak pinggang melihat belanjaan istrinya yang di luar batas, etah apa yang akan dibuat oleh wanita cantik tersebut.


"Ada lagi?" tanya Cakra setelah sampai di parkiran motor.


Liora mengelengkan kepalanya. "Udah Mas, ayo kita makan baso di situ!" tujuknya pada gerobak baso pinggir jalan.


Cakra memutar bola mata jenggah. "Ra, itu di pinggir jalan ...."


"Iya emang di pinggir jalan, tadi aku nggak bilang kalau di resto," sahut Liora acuh tanpa tahu kekesalan suaminya.


Di hati wanita cantik itu hanya menuntaskan apa yang ada di pikirannya saja, lagi pula Cakra sudah berjanji akan menuruti semua keinginannya.


"Kalau mas nggak mau, ya udah tunggu di sini aja, biar aku yang ...."


"Wait Sayang, mas pesan driver dulu," cegah Cakra mengenggam tangan istrinya agat tidak kemana-mana. Dia tidak mau jika istrinya terluka di keramaian.


Laki-laki tampan tersebut membuka aplikasi hijau yang dikhususkan untuk driver, dan memesan mobil untuk mengangkut semua barang belanjaan. Tidak mungkin kan Cakra membawanya dengan motor?


"Ayo!" ajak Cakra setelah urusannya selesai.


Laki-laki tampan tersebut mengenggam tangan istrinya menyebrangi jalan menuju gerobak baso pinggir jalan.


Menarik kursi tanpa sandaran untuk sang istri duduk. "Duduk yang benar jangan kayak anak kecil!" peringatan Cakra sebelum menghampiri abang-abang penjual baso.


Liora terus saja memperhatikan suaminya yang semakin hari ketampanannya bertambah, seperti cintanya pada Cakra.

__ADS_1


Dia tersenyum manis ketika Cakra menunjuk dirinya, mungkin menunjukkan pada abang-abang penjual baso tempat mereka duduk.


"Ada lagi?" tanya Cakra.


"Udah nggak ada, setelah makan kita pulang," jawab Liora.


"Gemas banget sih istri mas ini. Jadi pengen ngurung di kamar." Cakra menguyel-uyel pipi Liora tanpa tahu tempat.


"Ish dasar omes," cibir Liora. Wanita itu mengusap perutnya yang mulai membuncit meski tidak kentara. "Nanti kalau dedek lahir dan cowok, jangan ngikutin jejak Papa ya, dia mesum soalnya," ucap Liora.


"Ra?"


"Hm?"


"Semua laki-laki itu omes loh, tergantung di mana dan sama siapa dia berada. Mas normal kok di depan perempuan lain, tapi nggak kalau sama kamu. Jadi ...."


Akhirnya setelah beberapa menit menunggu, baso yang Cakra pesan datang juga.


"Selamat menikmati Mas, Neng," ucap Abang-abang baso.


"Terimakasih Pak," sahut Liora penuh senyuman.


"Jangan genit-genit, ingat suami!" tegur Cakra tanpa mengalihkan perhatiannya dari mangkuk baso. Laki-laki wajah tampan itu tengah serius meracik baso.


Memang pesona baso sudah mengalahkan ego Cakra. Makanan tersebut adalah satu-satunya makanan yang dia sukai di kampung dulu dan sampai sekarang melekat di lidahnya.

__ADS_1


Tidak jarang Cakra menyuruh Eril atau Rocky membeli jika dia sangat ingin.


Cakra menyingkirkan sambel tumis yang ada di hadapan istrinya ketika melihat tangan wanita itu terulur.


"Mau nyiksa anak kita, hm?"


"Hehehe ... dikit doang Mas," cengir Liora, meski begitu Cakra tidak memberikan celah sama sekali.


Akhirnya mereka sibuk makan berdua, sesekali Cakra memberikan basonya pada Liora jika sudah habis, sementara dia menghabiskan airnya saja meski sangat ingin. Ketahuilah, Cakra sangat senang jika Liora makan dengan lahap.


***


Setelah mengalami drama di pasar pagi, akhirnya sepang suami istri itu pulang ke istana, dimana tidak ada asap ataupun bau amis.


Cakra langsung saja menuju kamar untuk mengganti baju, sementara Liora menghampiri sang putra yang tengah menangis di ruang tengah.


"Liam kenapa?" tanya Liora memeluk putranya.


"Liam au aing cama om Eyil. Om Eyil beyum tatang," curhat Liam mengusap air matanya.


"Sudah sejak tadi Nyonya Tuan Muda menangis mencari Tuan Eril. Tuan muda nggak mau main kalau nggak sama Tuan Eril," timpal nani Liam.


Liora menghembuskan nafas panjang, dia tidak punya kuasa untuk mengembalikan Eril kerumah ini, apalagi laki-laki itu tengah menjalani pendidikan.


"Mainnya sama papa dan mama aja ya Nak."

__ADS_1


Liam mengeleng. "Au om Eyil," rengek Liam.


__ADS_2