Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 130 ~ Berusaha menjadi istri yang baik


__ADS_3

Malam telah larut, beberapa orang mulai mengistirahatkan tubuhnya setelah bekerja seharian, begitupun dengan Rocky yang kini telah sampai di apartemennya beberapa menit yang lalu. Pria itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan tidak menemukan siapapun. Dia melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar yang sesekali dia kunjungi jika sedang bosan dengan hidupnya sendiri. Kamar itu dihuni oleh balita berusia 1 tahun lebih bersama nani yang menjaganya.


Rocky mengetuk pintu satu kali dan langsung dibuka dengan sigap oleh wanita paruh baya. Rocky sengaja menyewa wanita paruh baya agar tidak ada yang menggodanya. Dia terlalu tampan dan memesona jika harus tinggal dengan seorang gadis.


"Tuan," sapa wanita paruh baya tersebut, tidak lupa memberikan bow.


"Apa dia sudah tidur?" tanya Rocky melirik sebentar.


"Sudah, Tuan."


Rocky mengangguk-anggukkan kepalanya, dia hendak berlalu tetapi urung ketika teringat sesuatu. "Eril ada datang sore ini?"


"Iya Tuan, Tuan Eril mengambil beberapa pakaian dan pergi lagi. Tuan Eril meminta saya untuk menyampaikan, bahwa untuk beberapa hari ke depan, Tuan Eril tidak akan berkunjung lantaran sibuk dengan sesuatu hal."


"Kau boleh menutup pintunya!" perintah Rocky dan dijawab anggukan oleh wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Rocky segera melangkahkan kakinya menuju kamar, sebelum berbaring di ranjang, dia membersihkan tubuhnya dan tidak lupa mengganti baju. Menyemprotkan parfum di seluruh ruangan, kemudian menghempaskan tubuhnya ke ranjang empuk. Semua yang ada di rumahnya, bahkan apartemen, dia memulainya dari nol dengan jerih payahnya sendiri.


"Aku hanya ingin membuat Eril mendapatkan yang lebih baik, apa itu salah ibu?" tanya Rocky.


***


Jika Rocky sedang istirahat di kamarnya, maka berbeda dengan Eril yang kini kembali memasuki kamar setelah bertukar beberapa cerita dengan papa mertuanya. Pria itu menutup pintu secara perlahan agar tidak menganggu istrinya yang sedang mengaji di atas sajadah. Duduk di sisi ranjang tanpa menimbulkan suara apapun, tetapi Rahma menyadari kehadiranya, terbukti wanita itu menyelesaiakan kegiatannya dan membereskan alat-alar salat.


"Mas sudah makan?" tanya Rahma masih belum berani menatap wajah Eril.


Bukan tidak ingin keluar malam atau sekedar jalan-jalan bersama suaminya, tetapi pinggang Rahma terasa sangat sakit, bahkan kali ini lebih sering dari hari-hari biasanya.


"Kalau mas mau makan di luar, tidak apa-apa. Biar aku tunggu di rumah."


"Kalau begitu buatkan aku sesuatu," sahut Eril cepat.

__ADS_1


Rahma menganggukkan kepalanya. "Tunggu di sini, aku akan membuatkan Mas Eril telur ceplok." Rahma bergegas keluar dari kamar setelah mengganti mukenanya dengan hijab yang sedikit pendek, karena hanya berkeliaran di dalam rumah. Wanita berbadan dua itu menghiraukan rasa sakitnya demi menjadi istri yang baik untuk suaminya.


Rahma berkutat di dapur yang dijangku dengan lesehan. Sebenarnya dia sedikit ke susahan, tetapi harus melakukannya demi sang suami. Wanita berbadan dua itu hanya membuat telur ceplok tumis kecep dan menghidangkannya di atas meja. Namun, saat akan berdiri, rasa sakit semakin menguasai perut Rahma, dia seakan ingin membuang air besar.


"Ssstttt, sakit banget yang Allah," keluh Rahma.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Eril yang tidak sengaja mendengar keluhan kecil istrinya. Pria itu membantu memegangi pinggang Rahma agar tidak terjatuh.


"Aku tidak apa-apa, Mas. Makanlah, aku akan ke kamar lebih dulu!"


"Kamu pucat banget, kita ke rumah sakit!" Eril merebut piring di tangan Rahma, dan mengendong wanita berbadan dua itu keluar dari dapur, sehingga mengambil perhatian pak Somat dan pak Ridwan yang sedang bermain catur.


"Eril, Rahma kenapa?" tanya pak Somat yang spontan berdiri.


"Tidak tahu, Pak, tapi wajahnya pucat dan dia terus meringis, keringatnya juga dingin," jawab Eril memudian melanjutkan langkahnya, membawa Rahma menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan.

__ADS_1


"Sepertinya Rahma akan melahirkan, Nak." Pak Somat berlari ke kamar untuk mengambil berkas dan barang-barang yang mungkin diperlukan. Sementara pak Ridwan segera meninggalkan rumah untuk menemui istrinya yang kebetulan rumah anaknya tidak jauh dari sana.


__ADS_2