Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 181 - Liburan


__ADS_3

Deringan telepon yang tergeletak di atas meja berhasil mengambil atensi Rocky yang bersiap untuk tidur setelah menyelesaikan pekerjaan kantor yang dia bawa ke rumah. Pria itu segera mengambil ponselnya dan menjawab panggilan dari seseorang yang selalu dia tunggu kabarnya. Rocky berjalan ke balkon hanya menggunakan jubah mandi sambil menempelkan benda pipih di telinga kanan. Sementara tangannya memegang pembatan balkon seraya menikmati angin yang mampu membuat rambutnya yang basah menari-nari.


"Kenapa?" tanya Rocky.


"Saya sudah mengirim yang anda perintahkan, Tuan. Sampai saat ini belum ada gerak-gerik aneh yang dilakukan Nona Alea. Hanya saja saya mendapati seseorang yang memperhatiannya terang-terangan, bahkan mereka cukup dekat jika hanya dikatakan atasan dan bawahan."


"Siapa pria itu?" tanya Rocky.


"Manager tempatnya bekerja, Tuan."


"Biarkan saja, lagi pula saya hanya ingin tahu kabarnya."


Rocky kembali ke kamarnya setelah berbicara dengan orang suruhannya yang sedang menetap di bandung. Pria itu membaringkan tubuhnya di ranjang sambil memperhatikan ponselnya. Memeriksa pesan dari orang yang memantau Alea secara diam-diam. Sesekali Rocky menzoom gambar tersebut hanya untuk melihat Alea lebih dekat lagi.


Foto saat Alea berbicara dengan manager, keluar dari kantor, atau sekedar berjalan di bawah pohon, semuanya terabadikan dengan sempurna sesuai keinginan Rocky.


"Tunggu sampai urusan saya di kantor selesai," gumam Rocky. Pria itu meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu mulai memejamkan mata lantaran harus bekerja seperti biasanya tanpa mengurusi Zayn lagi. Rocky dan Cakra hanya menunggu tanggal mainnya jika saja Zayn berbuat lebih jauh.


...

__ADS_1


Pagi yang cerah dengan kicauan burung yang saling bersahut-sahutan sedang dinikmati oleh sepasang suami istri yang duduk di halaman belakang rumahnya. Di mana halaman itu langsung mengakses ke lautan lepas yang jaraknya 50 meter lebih dari rumah Cakra. Halaman itu disertai sekat kaca setinggi Liam.


Sepasang suami istri itu duduk saling bersampingan dan mengenggam tangan. Jangan lupakan kacamata hitam yang melekat di wajah masing-masing, layaknya turis yang sedang menikmati liburan. Keduanya tampak seperti pengantin baru, padahal sudah mempunyai tiga buah hati yang masih terlelap di kamar.


"Sayang?" panggil Cakra melirik istrinya, rambut keduanya menari-nari karena terpaan angin padahal masih pagi.


"Kenapa, Mas?" tanya Liora ikut menoleh pada suaminya sehingga tatapan mereka bertemu satu sama lain.


Cakra tersenyum, bergerak hanya untuk mengecup kening istrinya, lalu beralih ke pipi hingga kini mendarat ke hidung. Pria itu mulai menyesap benda tidak bertulang tersebut. Tetapi tidak berlangsung lama karena kehadiran bocah 4 tahun yang kini sudah berada di tengah-tengah mereka. Bahkan dengan sengaja menutup mulut Liora agar tidak bersentukan dengan mulutnya.


"Papa tidak boleh makan mama!" ucap Liam menatap penuh permusuhan pada papanya.


"Liam liat papa tadi makan bibir mama!" Liam bersedak dada. Bocah itu mengoyang-goyangkan jari telunjuknya tepat di hadapan Cakra. "No ... No ... No, papa kalau lapar makan nasi, jangan makan mama."


"Ya sudah sini, biar papa makan Liam saja." Cakra dengan sigap menghujani putranya dengan ciuman bertubi-tubi, bahkan mengigit pipi mengembul itu yang terlihat mengemaskan.


"Papa, jangan makan Liam!" teriak Liam yang merasakan geli.


"Tidak semudah itu." Cakra menyeringai, terus mengerjai putranya habis-habisan sampai tidak menyadari bahwa Liora telah menyingkir dari sana lantaran nani Lion baru saja menghampiri dan memberitahukan bahwa baby L sudah bangun.

__ADS_1


Hal yang tidak dilakukan oleh nani baby L adalah memandikan kedua bayi mengemaskan itu, karena hal tersebut tugas Liora. Nani hanya bertugas menjaga saja tidak lebih, kecuali Liora benar-benar keteteran.


"Baby L menangis?" tanya Liora sambil berjalan di anak tangga diikuti oleh nani Lion.


"Tidak, Nyonya, tetapi tuan muda dan nona muda sudah siap mandi," jawab nani tersebut.


"Syukurlah. Oh iya, apa kalian sudah sarapan? Saya tadi membuat nasi goreng cukup banyak dan ada di dapur. Jika kalian lapar jangan sungkan ya. Sisakan saja untuk Liam," ujar Liora.


"Nanti setelah semua pekerjaan selesai, Nyonya."


Liora mengangguk sebagai respon, wanita itu mendorong daun pintu dan mendapati putra dan putrinya berbaring di ranjang hanya menggunakan pempers saja.


"Sudah minum susu?" tanya Liora.


"Sudah nyonya."


"Baiklah baby mama, kita mandi pagi dulu," seru Liora. Dia lebih dulu mengambil Lion untuk di mandikan, karena tidak mungkin bisa memandikan sekaligus.


"Salah satu dari kalian sarapan dulu," ucap Liora sebelum masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Kedua nani yang berada di kamar tersebut saling menyenggol satu sama lain. Mereka malu dan tidak berani berbuat sesuatu di luar pekerjaan lantaran ada Cakra di rumah. Hanya ditatap saja nyali mereka sudah menciut jika itu Cakra. Sungguh berbanding terbalik dengan istrinya.


__ADS_2