
"Sayang!" panggil Cakra berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Liora yang berlari kecil menuruni satu persatu anak tangga.
Saat Cakra hampir mengenggam tangan Liora, wanita itu malah menepuk pundak Eril hingga tangan Cakra terasa kosong.
Tidak ingin berdebat pagi-pagi seperti ini, Cakra langsung pergi dari sana.
"Eril, gimana kabar Rissa, apa anaknya baik-baik aja?" tanya Liora tanpa tahu Cakra sudah menghilang entah kemana.
"Baik-baik saja Nyonya," jawab Eril seraya mundur pelan-pelan kala mendapati tatapan tajam Cakra dari arah yang tidak bisa di lihat oleh Liora.
"Jangan sentuh pundak saya Nyonya, saya masih menbutuhkannya," ucap Eril ambigu di telinga Liora.
"Tapi kan aku nggak mau ambil pundak kamu Eril, gimana sih. Ya udah sana temenin Liam, dari tadi nanyain kamu mulu," ucap Liora segera pergi dari sana.
Kini wanita cantik itu mencari keberadaan suaminya. Cakra tadi meminta Liora untuk mandi bersama sebelum berangkat kerja, tapi Liora tidak mendengarkan karena mendegar kedatangan Eril. Dia sangat penasaran dengan kondisi Rissa tadi.
"Mas Cakra?" panggil Liora terus mengelilingi rumah sangat luas itu, namun belum juga mendapatkan keberadaan Cakra.
"Mbak, tau suami saya ada di mana?" tanyanya pada pelayan yang kebetulan lewat.
"Tidak nyonya."
Liora menghembuskan nafas panjang, entah kemana Cakra pagi-pagi seperti ini. Hanya satu tempat yang belum Liora kunjungi, ya itu pinggir kolam renang.
Liora segera ke sana dan mendapati Cakra tengah duduk bersadar seraya menikmati sebatang benda bernikotin.
"Mas Cakra, aku nyariin kemana-mana tadi, ayo kita mandi," ajak Liora menarik tangan Cakra, namun laki-laki itu mejauhkan tangannya tanpa menjawab. Bahkan engang untuk melirik Liora.
"Mas."
"Mandi sendiri sana," ucap Cakra ketus.
Bukanya pergi, Liora malah ikut duduk di samping Cakra, membuat laki-laki itu langsung melempar rokoknya ke sembarang arah. Toh tidak ada benda mudah terbakar di bagian kolam renang.
__ADS_1
"Kok ketus banget, nggak biasanya gini sama aku. Aku punya salah ya?" tanya Liora.
"Cari aja sendiri."
"Sayang." Liora menarik-narik baju Cakra. "Mas Cakra Sayang, kenapa sih?"
Tetap saja Cakra bergeming tanpa menatap Liora.
"Perasaan tadi aku belum ngelakuin sesuatu yang buat Mas marah deh. Aku cuma ketemu Eril buat nanyain ...." Mata Liora membulat sempurna saat tersadar sesuatu, wanita itu bahkan sampai lupa menyelesaikan kalimatnya.
Liora memeluk tubuh kekar Cakra sangat erat, menyembunyikan wajahnya dengan manja di leher sang suami.
"Maaf, aku nggak sengaja nyentuh Eril tadi, tapi nggak ada niatan apapun kok," bujuk Liora. Wanita itu teringkat perkataan Eril yang masih membutuhkan pundaknya.
"Mas Sayang," panggil Liora lagi.
"Udahlah Ra, kamu lebih milih megang Eril daripada nyambut uluran tangan aku. Kurang aku apa sih di mata kamu? Aku kaya, tampan, jago olahraga di ranjang maupun di lapangan. Tapi kenapa kamu malah ...."
Cup
Cup
Cup
"Maaf Sayang, aku nggak sengaja tadi. Percayalah, mas itu sangat sempurna di mata aku. Aku beruntung punya suami kaya, tampan, pengertian dan tentunya jago olahraga di ranjang," ucap Liora mengulang semua kalimat Cakra demi membuat laki-laki itu besar kepala dan berhenti marah padanya.
Jika boleh jujur, Liora ingin memuntahkan pujian itu sekarang juga. Bukan karena Cakra tidak memenuhi kriteria, hanya saja itu terlelu berlebihan untuknya.
"Iya kamu memang beruntung nikah sama spek pangeran kayak aku ini," bangga Cakra.
"Beruntung banget."
Jika ada nominasi mansuai paling pede di dunia, maka Cakra akan mendapatkan peringkat pertama. Satu-satunya laki-laki yang suka memuji diri sendiri.
__ADS_1
Berhasil membujuk Cakra yang ngambek dan mandi bareng dengan sedikit drama. Akhirnya Cakra sudah rapi dengan setelan jas warna putih kesukaanya.
"Aku bakal pulang cepat hari ini, jadi kamu nggak perlu nahan rindu terlalu lama," ucap Cakra mengecup kening Liora cukup lama.
"Iya Mas, semangat kerjanya."
"Sayangnya mana?"
"Semangat Sayang."
Liora mengeleng tidak percaya melihat tingkah Cakra dua hari ini yang terbilang cukup aneh dan manja. Cakra melebihi rewelnya Liam jika sedang kumat, entah karena faktor apa, Liora juga tidak tahu.
Gejolak yang sedari tadi Liora rasakan, segera dia tuntasnya di kamar mandi setelah kepergian Cakra.
Sejak tadi perutnya terasa mules, tapi tidak ingin memberitahu Cakra, atau semua orang yang ada di rumah ini akan di repotkan.
Liora menyanggah tubuhnya dengan tangan.
"Nyonya, anda terlihat sangat pucat," ucap salah satu pelayan.
"Mungkin ya Mbak, soalnya saya udah berapa kali bolak balik kamar mandi." Liora menyengir sebagai respon.
"Saya beritahu Tuan Rocky kalau gitu ...."
"Jangan Mbak, saya nggak papa," cegah Liora.
"Mama!" Liam berlari menghampiri Liora di ikuti Eril di belakangnya.
"Nyonya pucat banget, kita ke dokter ya? Tuan Cakra udah tau?" lagi, seseorang mempertahanyakn hal itu.
"Aku nggak papa Eril, jangan beritahu siapapun. Kita kerumah sakit nanti."
...****************...
__ADS_1
Papanya Liam Ngambek