Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 87


__ADS_3

Jam 10 malam, akhirnya semua acara yang Eril siapkan berakhir dan berjalan dengan baik. Semuanya aman karena Cakra puas dengan kerja keras Eril kali ini.


Usai makan malam bersama, Liora dan Cakra mengantar Rahma sampai di depan pintu, sementara pemilik pesta sudah lama tertidur seraya memeluk balon.


"Eril hati-hati ya di jalan, Rahma lagi hamil soalnya," ucap Liora memperingatkan Eril.


"Iya Nyonya, saya akan hati-hati, mari," sopan Eril mengayungkan tangannya mempersilahkan Rahma berjalan lebih dulu.


"Makasih Ra jamuannya, semoga kehamilan kamu juga sehat-sehat sampai lahiran nanti. Aku pulang ya," ucap Rahma berpamitan pada pemilik rumah.


Rahma tidak melangkah lebih dulu karena menunggu Eril berjalan, namun yang ditunggu juga menunggu Rahma berjalan. Lalu kapan drama saling menunggu berakhir?


"Sejatinya yang harus berjalan lebih dulu itu seorang laki-laki agar pandangannya tetap terjaga," sindir Rocky. "Saya pamit Tuan." Rocky berjalan menjauhi adiknya yang terlihat aneh.


Laki-laki dengan segala kemisteriusan dalam dirinya itu, segera masuk ke mobil. Sebelum pergi, Rocky membunyikan klakson lebih dulu.


"Eril!" tegur Cakra.


"Ah iya." Eril berjalan lebih dulu kemudian membukakan pintu depan untuk Rahma, namun wanita barhijab itu malah membuka pintu bagian belakang.


Cakra dan Liora yang melihatnya hanya bisa senyum-senyum sendiri.


"Kayaknya Eril suka sama Rahma, mas tahu banget gelegat orang yang jatuh cinta," celetuk Cakra mengamit pinggang sang istri seraya memperhatikan mobil menghilang di balik pagar.

__ADS_1


"Mas sok tahu, Eril memang baik sama semua orang. Lagian Rahma calonnya Wildan," ralat Liora.


"Pernikahan mereka batal, yang membatalkan juga pihak laki-laki. Kalau memang Wildan cinta, dia tidak mungkin mempermalukan Rahma sampai harus membatalkan pernikahan disaat semua undangan sudah tersebar. Memang pada dasarnya Wildan tidak punya pendirian dari dulu," ucap Cakra panjang lebar membuat Liora mengulum senyum.


Suaminya yang satu ini memang pandai bergosip, entah belajar dari mana.


"Kalau Wildan punya pendirian, mungkin Liam tidak akan hadir, juga aku tidak ada di sini," celetuk Liora berjalan lebih dulu memasuki rumah.


Sementara Cakra membuka mulutnya lebar-lebar, jika ada lalat yang lewat, mungkin sekampungpun bisa masuk. Laki-laki tampan itu tidak menyangka dengan jawaban istrinya.


Bukankah makna dari perkataan Liora, mereka tidak akan menikah jika Wildan punya pendirian?


Tidak, Cakra tidak akan rela bahkan hanya untuk memikirkannya.


"Mas!" pekik Liora refleks mengalungkan tangannya di leher Cakra.


"Tidak baik orang hamil naik tangga apalagi sendirian," ucap Cakra.


"Berlebihan," cibir Liora.


"Bukan berlebihan Sayang, tapi menjadi Papa siaga itu perlu. Kamu lupa apa yang mas katakan hm?" Liora menganggukkan kepalanya lucu.


"Aku lupa."

__ADS_1


"Baiklah mas akan mengingatkan kamu." Cakra menurunkan tubuh Liora perlahan-lahan di atas ranjang, kemudian melepas jasnya sendiri dengan sebelah tangan lalu melempar kesembarang arah.


Laki-laki tampan itu semakin menunduk hingga bibirnya tepat berada di telinga sang istri.


"Kamu harus menerima segala sikap posesif dan otoriter yang aku punya. Itu hadiah karena kamu hamil Sayang," bisik Cakra penuh sensasi, membuat Liora mengedikkan bahunya karena geli.


"Ma-mas jangan seperti ini, geli," lirih Liora.


"Cantik banget istrinya Cakra. Bibirnya yang merah, matanya yang indah juga hidung seperti perosotan." Cakra menyentuh bagian-bagian yang baru saja dia sebutkan, membuat Liora semakin merinding. Entah apa yang akan di lakukan Cakra sekarang.


"Ma-mas pernah janji mau mengabulkan semua keinginan aku kalau hamil, apa aku boleh memintanya sekarang?" tanya Liora namun Cakra malah mengeleng sebagai jawaban.


"Malam ini mas mau memberikan kamu hadiah karena memberi kejutan yang sangat membahagiakan."


"Apa itu?" selidik Liora.


Cakra membisikkan sesuatu di telinga Liora, membuat Wanita berbadan dua itu membulatkan matanya tidak percaya.


...****************...


Papa Bucin ngomong apa sih?


__ADS_1


__ADS_2