Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 66


__ADS_3

"Mas jangan gitu Ih. Rocky cuma muji, dan mas yang nanya juga," tegur Liora tidak enak, walau tidak tahu asal mula pertanyaan itu.


"Senang kamu di belain sama istri saya?" tanya Cakra masih dengan tatapan tajamnya.


"Mari Tuan." Rocky tidak menjawab lagi, kemudian keluar dari ruangan itu, tidak lupa menarik kerah jas Eril yang masih asik tertawa.


Kini hanya ada Liora, Liam dan Cakra yang ada di ruanga itu. Cakra langsung duduk di kursi kebesarannya dan memangku Liam. Sementara Liora sibuk melihat-lihat.


Sungguh dia merasa tabjuk melihat perusahaan Cakra yang terbilang sangat mewah dan unik. Mungkin karena memang bergerak di bidangnya. Yaitu proyek pembangunan plus arsitek juga interior.


Dia benar-benar bangga pada Cakra untuk saat ini, di usia 30 tahu sudah bisa mengembangkan sayap sangat lebar. Apa lagi saat di perjalanan tadi, Eril menceritakan banyak hal tentang Cakra.


"Sayang, nggak cape berdiri mulu?" tanya Cakra.


"Nggak mas, aku keliatan kampungan banget ya?" tanya Liora menghampiri Cakra.


"Nggak sama sekali. Kalian udah makan siang?"


"Dudah," jawab Liam. "Tati mamam banak cama Nani."


"Pintar banget anak Papa," puji Cakra mengecup pipi Liam. Kini dia beralih pada istrinya setelah mendudukkan Liam di atas meja kerja.


Cakra menarik Liora agar duduk di pangkuannya.


"Aku senang banget kamu udah mulai keluar rumah gini."


"Benarkah? Nggak papa kalau aku jalan-jalan?"


"Nggak papa Sayang." Cakra memeluk pinggang Liora erat, seraya memperhatikan Liam yang mulai nakal.


Bocah kecil itu tidak lagi duduk, tetapi berjongkok seraya memainkan keyboad laptop Cakra. Memencet sana-sini dengan tertawa cekikikan sendiri.


"Jangan Nak, nanti punya Papa rusak," peringatan Liora, sementara Cakra sibuk bersembunyi di leher istrinya.


"Liam au Mama. Papa nda malah," jawab Liam.

__ADS_1


"Liam itu jangan di angkat Sayang, nanti ....


Pletak


Laptop yang ada di atas meja sudah terjatuh karena Liam berusaha memindahkannya. Hal tersebut membuat Liora panik sendiri.


Wanita cantik itu langsung berdiri kemudian mengambil laptop yang terjaduh di seberang meja. Tangan Liora bergetar hebat, dia takut sesuatu yang penting ada di sana. Dia berdiri dan meletakkan laptop yang kini kacanya sudah pecah. Liora tidak mampu untuk menatap mata Cakra yang kini sedang menatapnya.


Sementara Liam, masih sibuk bermain tanpa rasa bersalah.


"Maaf Mas, aku janji bakal ngajarin Liam lebih baik lagi. Aku bakal ...."


"Ra."


"Kamu harusnya dengerin Mama Nak, bukan nakal seperti ini!" Sentak Liora menurunkan Liam dari meja kemudian memukul kedua tangannya.


"Cacit Mama, Liam au aing," ucap Liam.


"Ra, apa yang kamu lakukan hm? Kenapa mukul Liam?" Cakra terkejut melihat tindakan Liora.


"Dia nakal udah buat laptop kamu jatuh, pasti di sana banyak hal penting. Harusnya aku nggak datang kesini bawa Liam."


"Jangan mukul Liam seperti tadi apa lagi di depan aku Liora!" tegur Cakra dengan suara tegasnya. Dia langsung mengendong Liam yang meneteskan air mata tanpa menangis. Dan itu malah membuat Cakra semakin marah.


"Nggak ada hal yang lebih penting selain kalian berdua. Kamu dan Liam nggak bersalah apapun!" Cakra kembali mengingatkan bahwa Liora dan Liam sangat berharga dan penting dalam hidupnya.


"Mas ...."


Cakra langsung merengkuh Liora dengan sebelah tangan. "Jangan merasa bersalah atau takut kalau anak kita melakukan kesalahan seperti tadi. Liam nggak tau apa-apa. Aku ngira kamu cuma mau ngambil laptop yang jatuh, bukan merasa bersalah. Maaf bentak kamu tadi."


"Aku nggak enak kalau Liam nakal Mas."


"Sssttttt, Liam anak aku Liora. Anak kita, kalau Liam nakal atau melakukan hal yang nggak sewajarnya, itu bukan salah kamu. Lagian nggak ada yang penting kok di dalam sana."


"Beneran?" Cakra mengangguk.

__ADS_1


Laki-laki itu memundurkan langkahnya. Kemudian mendorong laptop tersebut ke tempat sampah.


"Jangan mukul Liam apapun alasannya, aku nggak suka. Jangan ringan tangan sama anak kecil Sayang," bisik Cakra.


"Maaf, hanya itu yang bisa aku lakukan biar Liam mendengar Mas. Maaf sikap aku terlalu kasar. Aku terbisa lakuin itu saat di kampung kalau Liam terus meminta hal-hal yang nggak bisa aku beli," lirih Liora merasa bersalah.


Saat di kampung dia memang sering memukul anaknya, tapi setelah itu akan manangis karena merasa bersalah.


"Jangan lagi ya Sayang!"


"Iya."


Liam yang berada di gendongan Cakra ikut mengelus rambut Liora seperti yang di lakukan Cakra. "Nanan nanis Mama."


"Maafin Mama Sayang."


"Tanan Liam tatit Papa." Liam memperlihatkan tangannya yang memerah pada Cakra.


"Yah tangan jagoan Papa merah. Kita ke dokter ya."


Alasan Cakra ke dokter bukan untuk memeriksakan tangan Liam, tetapi untuk konsultasi ke dokter tentang Liora.


Cakra takut ada sesuatu yang menganggu pikiran Liora hingga sering kali kelepasan dan bersikap kasar pada Liam. Mungkin karena dulu Liora menyalurkan kekesalannya pada Liam karena anak itu adalah anak Cakra.


.


.


.


.


.


Komentar kalian semangat Author

__ADS_1


__ADS_2