Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 101


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju pasar pagi, Liora menikmatinya dengan memeluk pinggang sang suami dan menyandarkan kepalanya di punggung.


Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa merasalan momen seperti ini lagi. Naik motor dengan Cakra ke pasar membuat Liora dapat mengenang masa-masa mereka dulu saat di kampung.


"Ini beneran keinginan baby kita Ra?" tanya Cakra sedikit tidak percaya.


"Memangnya kenapa kalau bukan mau baby kita? Mas nggak mau nurutin? Mas cuma sayang sama Baby dibanding aku?" Liora melepaskan pelukannya karena kesal.


"Sayang, bukan gitu maksud Mas. Mas itu cuma mau bilang ...."


"Udahlah, mas memang gitu orangnya, muka dua. Bilang aja udah bosan sama Aku. Perut aku mulai buncit, malas mandi terus sukanya tidur doang," gerutu Liora sepanjang jalan.


Cakra hanya bisa terdiam seraya mendengarkan omelan dari istri tercinta. Tidak mungkin dia menyahuti atau membela diri. Yang ada masalah akan semakin panjang.


Cakra memarkirkan motor pink miliknya di antara motor-motor lainnya. Membantu Liora melepaskan helm setelah turun dari motor.


"Jangan ngambek lagi Sayang, itu diliatin orang," bujuk Cakra merapikan rambut Liora yang sedikit berantakan.


Tidak lupa laki-laki tampan itu mengenggam tangan istrinya sebelum memasuki pasar. Berdesak-desakan adalah hal yang Cakra benci, tapi apa boleh buat ini keinginan istrinya.


"Memangnya kamu mau beli apa Sayang?" tanya Cakra.


"Nggak ada, cuma mau liat-liat doang," cengir Liora tanpa dosa.


Wanita yang tengah berbadan dua itu mengamit lengan Cakra mesra menyusuri pasar pagi yang tentu saja bau amis karena ikan. Apa lagi Liora berkeliling di sekitar penjual ikan.

__ADS_1


"Mas?"


"Hm."


"Kita nggak punya tetangga ya?"


"Iyalah, orang rumah kita nguasain jalan." Sombong Cakra mode on.


"Iya deh si paling kaya dan banyak uang," cibir Liora.


Wanita cantik itu menghentikan langkahnya di salah satu penjual ikan, padahal tadi mengatakan tidak ingin membeli apapun.


"Mas ini ikan bandengnya berapa?" tanya Liora pada penjual ikan.


"100 tiga ekor Neng, udah paling murah di sini. Apalagi ikan-ikannya besar-besar. Mau berapa?"


"Ra, kamu lupa istri siapa hm? Ngapain nawar-nawar ikan? Lagian ngapain manggil penjual ikan itu Mas? Suami kamu cuma aku!" tunjuk Cakra pada dirinya sendiri tanpa memperdulikan tatapan beberapa orang.


"Apasih Mas, posesifnya bisa kenal tempat nggak? Lagian wajar kok kalau pembeli nawar asal nggak maksa. Lain cerita kalau penjualnya nggak mau," balas Liora.


"Pak kalau harganya diturunin saya beli semua." Tidak ingin mencari keributan, Liora memutuskan memanggil penjual ikan itu dengan sebutan bapak.


"Kantongin saja pak, dan hitung semua harganya!" perintah Cakra membuat senyuman penjual ikan tersebut merekah lebar.


Dengan sigap penjual ikan bandeng tersebut mengisi ikan-ikan yang kurang lebih 20 ekor dalam kantong besar.

__ADS_1


"Berapa Pak?"


"Mas?" protes Liora.


"Diam Sayang!" perintah Cakra dan mengambil uang cash yang ada di dompetnya.


Untung saja sebelum ke pasar, Cakra mampir ke ATM dulu.


"840?" tanya Cakra memastikan dan dijawab anggukan oleh penjual ikan tersebut.


Cakra langsung menyerahkan delapan lembar uang merah dan satu lembar uang biru pada bapak-bapak tersebut.


"Kembaliannya ambil saja!"


"Makasih Den, Neng sudah mau membeli semua ikan-ikan saya, semoga rumah tangga kalian selalu di berkahi kebahagian dan rezekinya semakin mengalir," ucap bapak-bapak tersebut penuh rasa syukur. Kebetulan sekali dia sangat membutuhkan uang itu untuk pendidikan anak-anaknya.


"Aamiin, makasih doanya Pak," sahut Liora dan berjalan lebih dulu, sementara Cakra menenteng ikan tersebut kemana-mana.


"Untung aku sayang sama kamu Ra!" batin Cakra.


Kini wanita cantik itu berhenti di penjual sayur-sayuran.


"Ra, sebenarnya mau buat apasih dirumah?"


"Mau ngadain acara makan-makan sama pelayan, spesial buatan aku bukan Chef yang ada dirumah!" jawab Liora sarkas.

__ADS_1


"Sebahagia kamu Sayang, mas pasrah deh," lemas Cakra duduk di salah satu bangku menunggu istrinya memilih sayuran.


"Sabar Cakra, demi baby."


__ADS_2