
Atensi Cakra tidak pernah teralihkan sejak Liora keluar dari kamar bersama MUA yang mendandani wanita itu. Dia berdehem beberapa saat untuk menghilanglan rasa gugup karena terpesona akan kecantikan Liora hari ini.
Dres hijau botol di bawah lutut sangat kontras di kulit Liora yang dari sananya memang putih walau berasal dari desa. Rambut yang di sanggul dengan beberapa untaian anak rambut menambah kesan anggung pada wanita itu.
Cakra berdiri, menyambut kedatangan Liora. "Istri siapa sih?" bisik Cakra di telinga Liora.
"Istrinya Wildan, calon istrinya Cakra," jawab Liora.
Cakra tertawa, langsug melepas jasnya, kemudian memasangkan di tubuh Liora. "Terlalu cantik, nanti di liatin orang."
"Kalau nggak mau narik perhatian orang kenapa di dandani Mas?" tanya Liora heran.
"Karena aku mau ngabadin momen hari ini, sebelum masalah kembali bedatangan dalam rumah tangga kita. Ayo Sayang." Cakra mengenggam tangan Liora, berjalan bersama-sama menuruni anak tangga.
Percayalah, saat ini jantung Liora berdetak sangat cepat karena perlakuan manis Cakra. Beberapa pelayan terang-terangan memperhatikan kemesraan keduanya, mungkin ada yang iri pada Liora.
Perempuan kampung dari desa sangat di ratukan oleh pengusaha ternama, siapa saja akan iri pada posisi wanita itu.
Bocah kecil langsung berlari mendekat dan memeluk kaki Cakra.
"Papa?" panggil Liam.
Dengan sigap Cakra mengendong Liam yang memakai Jas kecil senada dengan jas yang di kenakan Cakra.
"Eril!"
"Iya Tuan." Eril langsung berjalan dan berhenti tepat satu langkah di belakang Cakra.
"Jangan lupa siapkan pengawal, saya nggak mau ada sesuatu terjadi di luar rencana."
__ADS_1
"Siap laksanakan Tuan!"
***
Jam empat sore barulah Cakra dan Liora pulang kerumah. Semua rencana yang di susun Cakra berjalan tanpa hambatan apapun.
Keduanya telah meresmikan hubungan suami istri dengan cara menikah ulang. Yang tentu saja status Cakra dan Liora sudah terdaftar di negara dan agama.
Laki-laki berwajah rupawan itu terus menatap sang istri yang tengah menunduk. Senyuman Cakra tidak henti-hentinya mengembang.
"Liatin apa?" tanya Cakta ikut mengintip.
Liora langsung memperlihatkan ponselnya pada Cakra.
"Liatin foto-foto kita pas di studio tadi, cantik banget nggak sih? Rencananya mau pasang di mana?" tanya Liora balik.
Wanita itu terlalu serius memeriksa semua hasil foto studionya bersama sang suami. Eril baru saja mengirim beberapa menit yang lalu.
"Bentar lagi malam Yang, nggak sabar deh."
Mata Liora sontak membulat, dia menatap suaminya. "Otaknya di jaga Mas. Dulu pas awal-awal nikah nggak gini juga. Mas kalem terus penurut sama aku."
"Sekarang juga penurut, bedanya sedikit mesum karena ini Cakra bukan Wildan Kw." Cakra meringis saat Liora mencubit perutnya. Untung saja Liam tidak ada di antara mereka.
Bocah kecil itu duduk di samping kemudi bersama Naninya. Liam tidur sejak beberapa menit yang lalu, itulah mengapa menyerahkan pada Naninya, sebab Liora terlihat kelelahan.
"Udah deh Mas, nggak enak sama Eril," bisik Liora saat Cakra menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Liora.
"Ril, spion kamu singkirin!" Suara berat Cakra terdengar, membuat Eril dengan sigap menyingkirkan Spion yang mengarah ke jok belakang.
__ADS_1
Tanpa di alihkanpun, Eril tidak akan melirik kebelakang. Yang ada dia akan melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.
Tingkat kemesuman bosnya semakin meningkat sejak Liora tinggal di kota, dan itu sangat menyiksa jiwa jomblo Eril.
Deringan ponsel Eril memecah keheningan juga suara sesapan dari jok belakang.
"Maaf Tuan, tapi ini dari dokter yang merawat bang Rocky," lirih Eril saat merasakan tendangan Cakra pada kursi yang dia duduki.
"Mas jangan kasar ih!" Peringatan Liora.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung .....
__ADS_1
Ck, mas Cakra mesum, kasian sama abang Eril aku😴.
Hay, heheh author balik lagi, ada yang kangen nggak sih? Semoga ada ya