
"Liam?" panggil Cakra pada putranya yang tengah asik bermain mobil-mobilan di atas kerpet.
Bukan hanya mobil-mobil, tetapi Liam sedang fokus menyusun balok setinggi-tingginya yang kadang kala jatuh saat tidak sengaja menendang sendiri.
Namun, tekat yang di miliki Liam seperti Cakra, tidak mudah menyerah. Semakin Cakra memperhatikan, maka semakin dia melihat dirinya dalam diri Liam.
"Iya Papa," sahut Liam tanpa menoleh sedikitpun.
"Nak, kalau ada yang menggil di hampiri, bukan cuma nyahut itu nggak sopan," ujar Liora menimpali.
Wanita itu sedang memotong kuku Cakra walau tidak di biarkan oleh pemiliknya.
"Iya papa." Liam mengulang sahutannya, seraya berlari menghampiri Cakra. Sedikit memanjat agar bisa naik ke pangkuan pria itu.
"Papa mandil Liam?" tanyanya polos setelah berada di pangkuan papanya. Atensi bocah itu teralihkan pada Mamanya. "Mama totong tanan Papa?"
"Bukan potong tangan, tapi potong kuku Liam," jelas Cakra.
Liam langsung menyodorkan tangannya ke arah Liora. "Mau."
Cup
Karena gemas, Cakra menghujani Liam dengan ciuaman bertubi-tubi. Putranya tumbuh dengan pintar dan sekarang terlihat semakin berisi jauh dari sebelumnya.
"Kuku Liam cantik jadi nggak di potong," jawab Liora.
"Bentar lagi ulang tahun Liam yang ke tiga. Anak Papa pengen apa?"
Liam meletakkan tangannya di dagu. Usia bocah kecil itu memang hampir tiga tahun, hingga semakin cerewet dan kepo akan segala hal.
"Telitopter Cal!" Jawab Liam dengan suara lantang.
"Helikopter?" Cakra memastikan dan di jawab anggukan oleh Liam.
__ADS_1
"Baiklah, permintaan akan segera di wujudkan Tuan Muda."
"Ingat Mas, helikopternya mainan!" Tekan Liora takut Cakra aneh-aneh.
"Iya aku tau Sayang. Ah hampir lupa, tunggu di sini." Cakra segera berdiri seraya mengendong putranya. Dia baru teringat sesuatu.
Cakra berjalan ke kamar dengan Liam berada di pundak, sedikit berlari demi menyenangkan putranya.
"Agi Papa, agi!" pinta Liam dengan suara mengema. Rambut Cakra acak-acakan karena di jambak atau di peluk oleh Liam.
"Wus ... terbang!" pekik Cakra.
Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Cakra kembali menghampiri Liora kemudian menyerahkan kertas biru pudar pada wanita itu. Dia ikut duduk tanpa menurunkan Liam dari pundaknya, menbiarkan bocah kecil tersebut memeluk kepalanya seraya tertawa.
"Maksudnya apa? Aku kurang ngerti baca istilah medis," lirih Liora terus memperhatikan kertas tersebut.
Kertas itu adalah hasil tes kesehatan Liam beberapa hari yang lalu.
Liora menundukkan kepalanya. "Maaf, aku nggak becus ngerawat Liam, sampai dia harus kekurangan gizi, aku bukan ibu yang baik Mas," lirih Liora dengan suara penuh penyesala.
Hal tersebut membuat Cakra tidak enak karena membicarakannya pada sang istri. Dia langsung menurunkan Liam dari pundaknya, kemudian memeluk Liora bersama dengan Liam.
"Bukan kamu yang nggak becus, tapi keadaan yang nggak memungkinkan Sayang. Beras aja kamu harus banting tulang dulu baru bisa dapat, gimana mau beli buah buat anak kita? Kamu ibu yang baik, aku tahu itu."
"Mas?" Liora mendongak, memundahkan Cakra mengecup bibirnya.
"Mas pernah tinggal di desa selama 6 bulan lebih, jadi tahu gimana susahnya. Jangan merasa bersalah apapun yang terjadi, karena dari sudut manapun yang nggak becus itu aku, sebab nelantarin kalian."
"Mas nggak ...."
"Kalau nggak mau mas ngerasa bersalah, maka berhenti nyalahin diri sendiri," Suara bariton yang sering kali di dengar orang di luar sana menjadi suara yang merdu di telinga Liora.
"Liam, cecak Papa." Liam menyembulkan kepalanya ketika pelukan orang tuanya tidak kunjung terlepas, hal tersebut menbuat Liora dan Cakra tertawa apa lagi wajah Liam memerah seraya menatap Cakra.
__ADS_1
"Maaf Tuan, Nyonya, menganggu waktunya. Tapi sekarang saatnya Tuan Muda makan buah," sela Nani yang merawat Liam. Kebetulan Nani itu seorang perawat yang sengaja Cakra pilih agar kesehatan putranya tetap terjaga.
"Ah ya, makasih mbak." Liora mengambil nampang berisi buah juga susu, kemudian meletekkan di atas meja. Mempersilahkan Liam memakannya sendiri.
"Enak banget ya Nak? Sampai lahap gitu?" Liam mengangguk seraya mengunyah potongan Apel di mulutnya.
Saat akan kembali bicara, ponsel Cakra berdering. Laki-laki itu segera menjawabnya, tanpa menjauh dari Liora.
"..."
"Saya ke sana sekarang!"
.
.
.
.
.
.
Komentar kalian semangat Author.
Jangan bosan ya kalau Otor minta dukungan mulu😅
Follow untuk dapatkan info seputar novel Author🤗
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
__ADS_1