Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 79


__ADS_3

Cakra melonggarkan pelukannya, hingga Liora bisa terbebas. Saat itulah Liora langsung merebut ponsel di tangan Cakra, namun genggaman tangan suaminya terlalu kuat hingga dia tidak bisa mengambilnya.


"Kenapa dia telpon kamu? Mas Wildan?" tanya Cakra dengan suara dingin, jangan lupakan tatapan tajam itu seperti ingin menguliti Liora hidup-hidup.


"Kenapa maksa mau ngambil hp? Takut aku tahu apa yang kalian ...."


"Cukup!" bentak Liora. "Bisa tidak mas kalau ada apa-apa jangan nuduh dulu?" lirih Liora di akhir kalimat. "Aku paling nggak suka kalau di curigai seperti tadi, mas tahu aku nggak ...."


"Maaf." Cakra kembali memeluk Liora karena sadar apa yang baru saja dia lakukan. Cakra sangat mudah marah jika sedang cemburu. "Maafin aku Ra, aku nggak suka ada laki-laki yang telpon kamu, apa lagi itu dari masa lalu kamu. Jangan panggil orang lain Mas selain aku, apa lagi save nomornya," bisik Cakra.


"Aku nggak mungkin berpaling dari Mas, jadi jangan khawatir."


"Tetap saja jangan panggil orang lain dengan sebutan Mas. Itu hanya spesial buat aku." Cakra memanyungkan bibirnya ketika pelukan Liora terlepas.


Sungguh, hatinya langsung terbakar tadi melihat kontak Wildan. Bolehkah Cakra membunuh laki-laki itu agar tidak membuatnya cemburu?


"Aku telpon balik ya Mas? Takutnya ada yang penting," izin Liora namun Cakra malah mengelengkan kepalanya.


"Mas Sayang." Lioda menarik-narik lengan kemeja Cakra.


"Baiklah, tapi volume jangan lupa."

__ADS_1


Liora mengangguk paham, dia segera menghubungi Wildan kembali, kemudian meletakkan benda pipih itu di atas meja.


"Halo Ma- ... Wildan," lirih Liora menatap Cakra, hampir saja dia keceplosan. "Ada apa kamu menelpon?"


"Maaf aku ganggu kamu siang-siang seperti ini Lio. Aku boleh minta bantuan?"


"Katakan saja," sahut Liora.


"Rahma dan abinya di usir dari desa luwut, semalam dia berangkat ke kota. Tolong bantu dia mencari kontrakan. Aku nggak mau dia kenapa-napa dengan anaknya. Setelah kondisi di kampung mereda aku akan menyusul," pinta Wildan terdengar sangat khawatir.


"Baiklah, kirimkan saja nomornya Rahma."


Setelah sambungan telpon terputus, Liora kembali menatap Cakra yang tengah asik memakan buah mangga yang di kupasnya sendiri, itu membuat Liora kesal.


"Ini punya aku enak aja." Liora menarik piring tersebut dan memangkunya.


"Bagi Sayang," rengek Cakra. Entah kenapa dia juga sangat ingin memakannya, bahkan rasa asamnya tidak terasa sama sekali di lidah Cakra.


"Nggak mau, ini punya aku Mas." Liora berbalik membelakangi Cakra dan memakan buah mangga itu sembunyi-sembunyi.


"Aku beli satu gerobak, jangan minta." Cakra segera beranjak, namun Liora menarik tangannnya.

__ADS_1


"Ya udah kita makan sama-sama, tapi kalau habis beli lagi," cengirnya dan di hadiahi cubitan hidung oleh Cakra.


Akhirnya sepasang suami istri aneh itu berbagi mangga satu sama lain tanpa memperdulikan lalu lalang pelayang yang tengah mengurus urusan masing-masing.


"Mas mau bantu Rahma kan nyari kontrakan? Kasian dia sedang hamil."


"Ck, kayaknya kamu sudah bisa bangun yayasan khusus perlindungan ibu hamil. Cepat banget ibanya," decak Cakra di balas cengiran oleh Liora.


"Eril!" panggil Cakra.


"Iya Tuan."


"Berikan kontaknya pada Eril, biarkan dia yang mencari Rahma dan membantunya mencari kontrakan!" perintah Cakra dan di balas anggukan kepala oleh Liora.


Wanita cantik itu segera mengirim nomor yang baru saja dia dapatkan dari Wildan pada Eril.


"Cari dia sampai ketemu dan carikan tempat yang layak. Tapi sepertinya itu tidak perlu, Abi Rahma punya banyak uang. Kau pastikan saja dia selamat atau tidak!"


"Baik Tuan." Eril segera melaksakan perintah Cakra.


Eril cukup tahu wajah Rahma, karena dia sering diam-diam memperhatikan saat di desa dulu. Eril sempat terpesona tapi mundur alon-alon ketika tahu Rahma akan menikah dengan anak pak Desa dari kampung Nelayan.

__ADS_1


__ADS_2