
Liora, wanita itu terus mengolesi kulit Liam dengan salep tak peduli akan rintihan yang terus keluar dari mulut putranya. Liora pikir, lebih baik Liam menangis sebab di obati, daripada nanti menangis karena rasa sakit yang tak tertahankan.
Liora tidak habis pikir bu Weni begitu kejam menyakiti anak sekecil Liam. Balita dua tahun yang tidak tahu apa-apa mendapat kekerasan hanya karena mainan.
"Liam kalau pengen sesuatu ngomong sama mama Ya Nak, jangan minta sama orang lain apa lagi ngambil milik orang lain, itu nggak boleh," ujar Liora mengajari putranya.
Wanita itu tengah memangku putranya usai mengelosi salep. Liora mencium puncak kepala Liam sangat dalam, diam-diam dia meneteskan air mata.
"Liam mau inan tayak Ciko."
"Nanti kita beli kalau mama banyak uang ya, Liam mainin yang ada dulu."
"Iya Mama."
Liora langsung menutup kedua telinga putranya saat mendengar ketokan pintu beserta suara seseorang yang sangat di kenalinya. Sampai kapanpun Liora tidak akan rela jika putranya bertemu dengan Cakra.
"Mama tutup telina Liam, tenapa?" Liam mendongak menatap wajah Liora.
"Nggak papa, Liam bobo dulu ya, mama temenin."
Lagi, Liam hanya menganggukkan kepalanya. Liora membaringkan putranya kemudian ikut berbaring di samping balita dua tahun tersebut.
Menepuk-nepuk paha Liam sebagai pengantar tidur. Ini semua Liora lakukan agar Liam tidak bertemu Cakra. Akan sangat susah menjeskan pada anaknya itu, terlebih Liam terbilang anak yang akrab pada siapapun, dia tidak ingin hal ini juga terjadi antara Cakra dan Liam.
Liora tidak akan sanggup kalau saja Cakra mengambil putranya, dia rela mati daripada harus menyerahkan putranya.
"Mama ada namu."
"Itu bukan tamu, tapi orang lagi kerja rumah, tidur nak!"
"Api olang itu mandil Mama telus."
"Tidur Liam!"
Lama Liora menepuk-nepuk paha putranya hingga benar-benar tertidur.
Liora langsung memisahkan diri, dia belum memasak apa lagi menjemur pakaiannya padahal hari mulai gelap.
Liora menatap wajahnya di depan cermin, dia meringis ternyata luka di wajahnya lumayan, pantas saja rasa sakitnya hebat. Karena tidak menemukan Hansaplast Liora memutuskan ke warung bu Fatimah, tantu saja saat membuka pintu dia akan bertemu Cakra di depan.
Itu tidak masalah, selama bukan Liam.
"Akhirnya kamu buka juga Ra, aku kangen banget sama kamu ...."
__ADS_1
Liora langsung mendorong tubuh Cakra yang hendak memeluk dirinya. Wanita itu hanya menatap Cakra sekilas, kemudian berlalu pergi usai mengunci pintu.
"Liora?" panggil Cakra mencegah kepergian Liora.
"Kenapa lagi? Apa yang buat kamu balik kesini?" tanya Liora menahan air matanya.
"Wajah kamu luka, mas obatin ya?"
"Nggak perlu, aku punya tangan sendiri! Aku bisa mengurus semuanya sendiri. Lagian aku nggak mau ngerepotin orang asing!"
"Aku suami kamu Liora!"
"Mantan istri kalau kamu lupa!"
Cakra terdiam, menatap mata Liora dengan sorot sendu, dapat dia lihat pancaran manik itu tidak ada lagi cinta untuknya, tapi kenapa?
"Tuan, pak Rian sudah menunggu anda," ucap Asistennya menyela. Arsitektur kepercayaan Cakra sudah tiba beberapa menit yang lalu.
"Hm," guman Cakra memandangi kepergian Liora. Sebelum dia masuk kemobil, Cakra menatap lama rumah tua di hadapannya, rumah yang sebenarnya sudah tidak layak di huni oleh istri dan putranya.
***
Karena hari masih sedikit terang, Cakra kembali ke laut bersama Rian untuk meninjau lokasi, keduanya mendiskusikan banyak hal seraya memperhatikan sekitar.
"Kira-kira desainnya akan selesai kapan?" tanya Cakra.
"Satu minggu paling lambat sebab sudah ada sketsa tentang ini," jawab Rian.
"Kirim saja pada Asisten saya jika semuanya sudah selesai!"
"Tentu Tuan, kalau begitu saya pamit undur diri, apa sekalian pulang bersama?"
"Tidak, saya masih ada urusan di sini!" tolak Cakra.
Cakra masih menikmati senja yang perlahan-lahan hilang di gantikan gelapnya malam. Dia senyum getir, saat teringat kebersamaanya bersama Liora. Menghabiskan senja berdua, penuh canda tawa. Saat itu, pancaran mata Liora menyiratkan rasa cinta yang mendalam, berbeda dengan tatapan yang dia dapati tadi.
"Tuan, semuanya sudah saya urus, tinggal menantu bu Weni."
"Cari tahu diamana dia bekerja, lakukan segala cara agar dia kehilangan pekerjaanya! Kita akan lihat apa yang akan dia lakukan tanpa menantu kebanggannya itu." Cakra senyum miring.
Satu persatu dia akan membalas orang-orang yang telah menyakiti istrinya di kampung ini. Setelah itu akan memberi pelajaran pada Brian karena berani berbohong padanya tentang keberadaan Liora.
Yang Cakra tidak mengerti, apa tujuan Brian melakukan semua ini?
__ADS_1
"Baik Tuan."
"Kembali lah ke Kota! Pantau perkembangan Rocky dan urus perusahaan, untuk sementara waktu saya akan tinggal di sini."
Cakra berbalik menghadap asistennya itu. "Kirim pengawal bayangan untuk menjaga keselamatan istri dan putraku, jangan sampai ada yang menyakiti mereka!"
Walau sediki heran dengan sikap Tuannya, laki-laki itu tetap menurut saja, tanpa ingin bertanya. Walau dia sangat ingin, sebab penasaran kenapa Tuannya tiba-tiba mengakui seseorang sebagai istri? Padahal di kota mempunyai sesorang kekasih.
***
Cakra kembali kerumah Liora pagi harinya. Laki-laki itu semalam bermalam di rumah penginapan yang ada di jalan raya. Dia di sambut oleh pengawal yang bertugas berjaga di depan rumah wanita itu.
"Apa mereka sudah keluar?"
"Nona Liora baru saja pergi Tuan, dia keluar lewat pintu belakang. Salah satu dari kami menjaganya dengan baik tanpa Nona Liora ketahui."
Cakra mengangguk mengerti, laki-laki itu memasuki pagar bambu, mencari celah hanya untuk melihat bagian dalam rumah, tetapi sepertinya Liora menutup semuanya hingga dia tidak bisa mengintip sedikitpun.
Ternyata memang benar, orang-orang akan menyangjung kita jika mempunyai kekuasaan dan kekayaan. Dapat Cakra lihat hari ini, orang yang selalu mengunjingnya dulu malah tundur dan hormat. Walau begitu, Cakra tidak akan melupakan orang-orang yang telah menyakitinya juga Liora.
Di antara banyaknya warga, yang baik padanya hanya pak Ridwan juga pak Soleh.
Seraya menunggu pemilik rumah, Cakra duduk di kursi batu, tepat di belakangnya ada jendela yang bisa di bukan dari dalam saja.
Dalam keheningan, Cakra terkejut saat merasakan seseorang menyentuh lehernya. Dia berbalik dan melihat anak kecil mengintip disana.
Senyumnya sontak mengembang, disana ada Liam yang sepertinya baru bangun.
"Papa?" panggil Liam dengan senyuman mengemaskan.
Melihat celah yang tidak di sadari Cakra tadi membuat laki-laki itu tersenyum. Dia menelusupkan tangannya masuk di bawah jendela, kemudian menarik sesuatu, hingga kaca jendela itu terbuka.
Cakra masih tidak lupa dimana letak penyanggah jendela tersebut.
"Papa?" tanya Cakra balik, tangannya terulur untuk menyentuh pipi Liam, tetapi tidak berhasil sebab anak kecil itu menjauh dan turun dari kursi.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
__ADS_1
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo