
"Mas kenapa tiba-tiba pulang? Padahal masih ada tiga jam sebelum waktu jam kerja selesai," tanya Rahma, sambil meletakkan nampang di atas meja. Tidak lupa dia duduk di samping suaminya yang sangat tampan.
"Semua pekerjaan sudah selesai, lalu untuk apa mas tinggal?" tanya balik Eril. Alih-alih menceritakan tentang kedatangan Wildan, pria itu lebih memilih untuk memendamnya sendiri agar tidak membuat istrinya gelisah dan berakhir tidak nafsu makan.
Eril menyandarkan kepalanya di pundak Rahma, sementara tangan kekarnya melingkar di pinggang ramping wanita itu. "Kalau misalnya mas tidak ada di rumah, jangan menerima tamu, siapa pun itu kecuali abah. Mas tidak mau kalian berdua terluka," gumamnya.
"Tidak akan, Mas. Terlebih jika tamunya seorang pria," jawab Rahma. Tangan wanita itu bergerak mengusap rambut bagian belakang Eril penuh kasih sayang.
Keduanya mendapatkan waktu berduaan saja tanpa ada yang mengganggu karena ada asisten rumah tangga yang membantu Rahma menjaga Arumi yang semakin aktif menjelajahi rumah meski sesekali terjatuh.
"Nyaman banget berada di pelukan istri," gumam Eril.
"Kalau begitu peluk aku sepuas, Mas, sebelum anak-anak mencariku," sahut Rahma.
"Cium?"
"Boleh," jawab Rama.
__ADS_1
Mendapatkan lampu hijau dari sang istri meski dia hanya bercanda. Eril tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu langsung menegapkan tubuhnya, lalu menyentuh rahang halus Rahma yang tertutup oleh hijab. Perlahan-lahan dia memejamkan matanya seiring jarak semakin terkikis antara mereka, hingga akhirnya benda tidak bertulang itu menempel sempurna di bibir ranum milik Rahma.
...
Terus beraktivitas setiap harinya tanpa hambatan dan cobaan begitu berat, membuat Alea sangat tenang menjalani hidupnya. Rutinitas harian wanita itu hanya bekerja, pulang ke rumah dan tidur. Tidak ada acara jalan-jalan bersama rekan kerja jika hari libur lantaran Alea adalah salah satu perempuan malas bergerak, terlebih jika sudah menyentuh tempat tidur seperti ini.
Wanita itu enggang berpisah dengan bantal dan tempat tidurnya yang sangat nyaman, akan tetapi dia harus beranjak lantaran suara ketukan pintu terus terdengar tiada henti. Alea berdecak kesal, meski begitu tetap membuka pintu kontrakannya yang hanya satu petak tersebut.
Mata Alea membola melihat kedatangan pria berjas hitam yang sangat rapi, jangan lupakan senyuman pria itu yang sangat manis.
"Pak Aryo?" tanya Alea dengan kening mengerut.
"TIdak sama sekali, Pak. Kalau boleh tahu pak Aryo ada keperluan apa sampai bertamu malam-malam seperti ini?" tanya Alea berusaha untuk tetap ramah meski dia rasanya ingin berteriak di depan wajah Aryo bahwa dia sedang lelah dan tidak ingin diganggu.
Namun, tidak mungkin bukan dia melakukan itu? Alea masih membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup.
"Jadi begini, saya diundang makan malam oleh orang tua saya di rumah. Mereka menyuruh saya untuk membawa pasangan, padahal saya tidak punya pasangan. Apakah kamu mau membantuku?" tanya Aryo.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, biarkan saya mencerna perkataan Bapak dengan baik." Alea menaikkan tangannya seolah menyuruh Aryo agar tetap diam, sembari dia menyaring semua kalimat masuk ke otaknya yang sedikit lola. Dia menatap penuh selidik pada atasannya. "Jadi maksudnya, bapak mau jadikan saya pacar pura-pura?"
"Benar."
"Aduh, Pak bukannya tidak mau dan tidak menghormati bapak sebagai atasan saya. Hanya saja saya tidak ingin mengambil risiko untuk berbohong pada siapa pun. Sekarang hidup saya sudah tenang, maaf sekali lagi. Saya juga tidak ingin pacar saya marah, Pak," ucap Alea panjang lebar, padahal bisa saja wanita itu langsung menolak tanpa menyertakan alasan.
"Pacar? Jadi kamu sudah punya pacar?" tanya Aryo.
"Tepat sekali, Pak. Saya punya pacar dan dia sedang bekerja di Jakarta."
"Apa pekerjaan dia? Apa jabatannya lebih tinggi dari saya?"
Alea terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa, lagi pula dia hanya asal menjawab sesuai isi pikirannya saat ini. Alea sebenarnya tidak punya pacar dan tidak ingin menjalin hubungan apalagi dekat dengan pria mana pun.
"Saya tidak tahu apa pekerjaannya, tetapi dia punya apartemen yang sangat besar, wajahnya juga tidak seperti orang miskin." Alea menyenggir, dia segera menundukkan kepalanya. "Maaf sekali lagi, Pak. Tapi sebaiknya anda mencari orang lain, permisi." Alea langsung menutup pintu kontrakannya tanpa menawarkan Aryo untuk masuk terlebih dahulu.
Wanita itu kembali merebahkan tubuhnya di kasur sambil menghela napas panjang. Dia melirik kalender yang sengaja dia gantung di sisi tempat tidur. Di sana terdapat banyak bulatan merah yang Alea buat setiap harinya.
__ADS_1
"Sudah dua bulan lebih saya tidak datang bulan. Harusnya lima hari yang lalu saya sudah haid," gumam Alea dengan jantung berdetak kencang.
Wanita itu selalu was-was dengan isi pikirannya, tetapi tidak berani untuk mengecek lantaran takut hasilnya positif. Dia tidak ingin hamil apa pun yang terjadi, apalagi harus mengandung benih pria breng*sek seperti Rocky.