
"Sayang, Liam kenapa?" tanya Cakra yang baru saja selesai ganti baju.
Liora menoleh dan menatap suaminya. "Nangis pengen ketemu Eril, tapi kan udah pergi semalam."
Cakra mendekati Liam dan langsung mengendongnya. "Liam kangen om? Ayo kita video call!" ajaknya.
"Liam ica tetemu om Eyil?"
"Hm."
Liora tersenyum memandangi kepergian suami dan putranya yang entah kemana. Dia segera berlalu ke dapur untuk memeriksa semua bahan-bahan yang telah dibelinya tadi.
Dia harus memasak sebelum rasa mager menghampiri dirinya.
"Nyonya, kita akan membuat apa dengan ikan sebanyak ini?" tanya pelayan setelah Liora berada di dapur.
"Buat nuget ikan bandeng, kalian bisa?"
"Bisa Nyonya, Anda silahkan istirahat!" pinta sang pelayan, sayangnya Liora mengeleng tidak setuju.
"Saya mau ikut buat. Maunya ini selesai sebelum sore, biar bisa di bagiin ke orang-orang pinggir jalan. Setelah nugetnya jadi tinggal di kemas rapi pakai plastik yang saya beli tadi. Ayam dan bahan-bahan lainnya kalian pikirin aja mau buat apa, asal enak buat di bagi-bagiin sebagai nasi berkah," ucap Liora panjang lebar dan dijawab anggukan kepala oleh beberapa pelayan.
Liora duduk di meja pantri mengupas bawang putih juga merah padahal itu bisa saja dikerjakan oleh pelayan.
"Ra?"
"Aku di dapur Mas," sahut Liora tanpa menghentikan pekerjaannya.
__ADS_1
Liora menatap Cakra tidak suka ketika pisau di tangannya direbut begitu saja. "Mas?"
"Mas udah bilang jangan pegang benda-benda tajam, kalau luka gimana?" omel Cakra.
"Aku juga mau bantu kerja Mas, inikan ide aku."
"Ck, ada hal yang lebih penting yang harus kamu kerjakan," decak Cakra menarik tangan Liora meninggalkan dapur.
Laki-laki tampan itu ternyata membawa istrinya ke pinggir kolam renang. "Duduk Sayang!" perintah Cakra.
Karena bingung, Liora nurut begitu saja. Mata wanita cantik itu membulat ketika Cakra memijit kakinya dari bawah.
"Jadi ini yang harus aku kerjakan? Duduk manis menerima pijatan dari Mas?"
"Hm, mas baru aja liat artikel tentang ibu hamil. Katanya ibu hamil cepat lelah, jadi mas harus pijitin kamu Sayang," jelas Cakra dengan cengirannya. Liora mengambil nafas panjang dan menghembuskannya sangat panjang sebagai respon.
"Om Eyil!" teriak Liam berlari menghampiri Eril yang baru saja turun dari mobil, jangan lupakan kucing warna orange yang ada di gendongannya.
Eril yang di sambut oleh anak kecil langsung saja mengendong Liam bersama kucingnya.
"Wah Tuan Muda punya kucing cantik," puji Eril dengan senyumannya.
"Om Eyil dali mana da?"
"Om habis nyariin Tuan, tante cantik, tapi nggak dapat makanya pulang," cengir Eril tanpa dosa.
Laki-laki itu melangkahkan kakinya memasuki rumah tempatnya bekerja dulu, mungkin sekarang juga karena sesuatu hal.
__ADS_1
Dia ingat pembicaraanya semalam bersama Cakra dan Rocky di rumahnya.
Eril bisa kembali bekerja dan kuliah di kota ini dengan satu janji yang tidak boleh dia ingkari. Yaitu, menjauhi Rahma yang sedang mengandung.
Ya, alasan utama Rocky memaksa Eril agar meninggalkan kota ini karena Rahma. Hampir setiap malam Eril akan berkunjung kerumah wanita itu dengan berbagai banyak alasan dan Rocky tidak menyukainya.
Bukan karena cemburu, melainkan takut sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. Bagaimanapun Rahma adalah calon istri Wildan dan tengah hamil. Jika Eril nekat menikahi, bukankah haram hukumnya karena Rahma tengah mengandung anak orang lain?
Eril berhasil kembali karena menyanggupi syarat dari kakaknya untuk membuang jauh-jauh harapannya itu meski sulit. Lagi pula dia tidak ingin hubungan kekeluargaan yang tercipta antara dirinya, Cakra dan Liora harus berantakan.
"Mama, Om Eyil puyang!" panggil Liam ketika melihat mamanya melintas.
Liora langsung berbalik dan terkejut melihat Eril. Sudah satu minggu sejak kepergian laki-laki itu dan tiba-tiba kembali.
"Eril?"
"Nyonya," tunduk Eril sopan.
"Kok bisa ...."
"Di panggil sama Tuan untuk nemenin Liam main Nyonya," bohong Eril.
"Ah jadi senang dengarnya, jadi kuliahnya gimana?"
"Lanjut di sini Nyonya, sambil kerja juga."
"Mas Cakra sudah tau?" tanya Liora lagi dan di jawab anggukan oleh Eril.
__ADS_1
Baru saja akan bermain dengan Liam, deringan ponselnya terdengar. Wajah Eril langsung pias tahu siapa penelpon tersebut.