
Cakra mengekori dokter sampai ke ruangannya untuk bicara berdua saja tentang kondisi Liora setelah di periksa oleh dokter.
Laki-laki tampan itu duduk berhadapan dengan dokter perempuan yang pernah menangani Liora sebelumnya.
"Bagaimana kondisi istri dan calon anak saya dokter? Mereka tidak apa-apa kan?" tanya Cakra dengan raut wajah serius.
Dokter yang di ajak bicara tersenyum menenangkan. "Istri dan calon anak Anda tidak apa-apa Tuan. Untung saja Anda cepat membawanya kerumah sakit. Kondisi janin sangat rentang untuk keguguran di trimester pertama, jadi tolong perhatikan baik-baik istri Anda," jelas Sang dokter membuat Cakra bernafas lega.
"Syukurlah dok, berikan obat dan vitamin agar istri dan calon anak saya tetap baik-baik saja!"
"Saya akan resepkan Tuan."
Cakra mengangguk mengerti, segera berdiri dan hendak meninggalkan ruangan tersebut untuk menemui Liora. Namun, urung dia lakukan ketika mengingat sesuatu.
"Dokter?" panggil Cakra. "Katakan yang baik-baik jika istri saya bertanya dan jangan katakan bahwa saya mengetahui kehamilannya!" perintah Cakra dan di jawab anggukan oleh dokter itu.
Cakra kali ini benar-benar meninggalkan ruangan tersebut dan menemui istrinya di ruangan lain. Hebat, satu kata untuk Liora yang mampu bertahan sampai di rumah sakit tanpa harus kehilangan kesadaran, bahkan sampai saat ini Liora masih sadar.
"Mas, apa kata dokter?" tanya Liora menyambut kedatangan sang suami.
Cakra tersenyum, duduk di samping brangkar. "Kamu tidak apa-apa, besok sudah bisa keluar dari rumah sakit," jawab Cakra mengelus rambut Liora penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Dokter ngomong apa lagi?"
"Tidak ada," jawab Cakra di sertai gelengan kepala. "Cuma katanya kamu kecapean dan harus istirahat dengan cukup."
"Hanya itu? Tentang darah yang keluar dokter tidak mengatakan apapun?"
"Tidak," bohong Cakra tidak ingin mengagalkan rencana kejutan yang akan di lakukan Liora.
Sudah laki-laki itu katakan, dia akan melakukan apapun agar Liora bahagia.
"Sudah tengah malam, tidurlah! Tidak baik begadang." Cakra mengecup kening Liora cukup lama sebelum beranjak ke sofa untuk tidur di sana.
Sebenarnya Cakra ingin pulang dan menemui Liam yang kini menangis mencari Liora. Namun, Cakra juga tidak mungkin meninggalkan istrinya di rumah sakit.
"Tidur Sayang," pinta Cakra lembut.
Liora hanya mengangguk seraya terus menatap suaminya. Sebenarnya ada tanda tanya besar di batin Liora tentang kehamilannya. Apa benar dokter tidak mengatakan apapun?
***
Jam delapan pagi, Cakra dan Liora bersiap-siap pulang setelah isi infus habis dan selangnya sudah di cabut di tangan Liora.
__ADS_1
Cakra memasangkan jaket tebal pada Liora karena di luar hujan deras padahal baru pagi-pagi.
"Aku udah kayak orang gendut," cemberut Liora memperhatikan tubuhnya yang di balut jaket.
"Gemesin, tambah cantik," puji Cakra. "Duduk dulu Sayang, dokter sebentar lagi datang buat periksa kamu dan beri resep."
Liora mengangguk, mengikuti perintah Cakra agar duduk di brangkar seraya mengayung-ayungkan kakinya yang menjuntai.
Liora tersenyum ketika dokter yang dia tunggu-tunggu datang.
"Selamat siang Nyonya, bagaimana kondisinya apa lebih baik? Perut bagaimana?"
"Pagi dokter, saya baik-baik saja. Perut juga sudah tidak sakit," jawab Liora.
Wanita itu semakin memepetkan tubuhnya pada Dokter. "Bagaimana kondisi janin saya dokter? Apa baik-baik saja? Suami saya tahu tentang hal ini?" bisik Liora.
"Anda tenang saja Nyonya, suami Anda tidak tahu bahwa Anda hamil. Saya tidak memberitahu kondisi anda yang sebenarnya," balas Dokter itu berbisik.
"Sudah?" tanya Cakra segera memisahkan dua orang tersebut. Tidak lupa Cakra mengenggam tangan Liora untuk pergi setelah mendapat obat dari dokter.
"Mau di gendong?" tanya Cakra dan di jawab gelengan kepala oleh Liora.
__ADS_1
Sementara dokter yang memperhatikan interaksi pesangan itu hanya bisa mengeleng tidak percaya.
"Pasangan unik."