
Brian meremas ponsel yang ada di tangannya. Rasa marah kini mengusai pikiran laki-laki itu, sebab seseorang yang berusaha dia hubungi tidak kunjung ada kabar.
"Kau sebenarnya ada dimana?" geram Brian.
Sudah seminggu Rissa tidak ada kabar setelah pergi ke desa Luwut, itulah mengapa Brian sangat marah. Pion yang selama ini dia mainkan agar semua berjalan lancar hilang tanpa kabar.
Untuk saat ini, hanya Rissa yang bisa membantunya untuk mendapatkan seluruh kekayaan Aleksander.
"Bos, nona Rissa sepertinya sengaja bersembunyi," lapor anak buah Brian.
Suara pecahan kaca langsung terdengar. Beling berserakan di dalam ruangan tersebut, pertanda amarah Brian benar-benar besar.
"Gimana sama orang bego itu?" tanya Brian.
"Tuan ... maksud saya, Cakra sekarang ada di desa karena anaknya jatuh sakit. Kita nggak bisa nyakitin istri dan anaknya karena banyak pengawal yang melindungi."
Brian terdiam. Laki-laki itu menghempaskan tubuhnya pada sofa dengan mata terpejam, masih setia mendengarkan segala laporan anak buahnya.
"Asisten Cakra sepertinya akan segera sadar Bos. Kita udah berusaha nyerang Villa, tapi nggak bisa, keaman terlalu ketat."
"Lagi?"
__ADS_1
"Nggak ada Bos. Cakra sangat santai mengurus perusahaan dan membujuk istrinya, sepertinya dia belum tahu tentang pembunuhan dan di balik kecelakaanya."
Brian senyum miring, apa yang ada di pikirannya ternyata benar. Cakra itu bodoh dan tidak bisa menyelidiki apapun. Kini tergetnya bukan lagi Liora tapi Rocky, sebab laki-laki itu memegang semua bukti kejahatan.
"Lakukan apapun untuk membunuh laki-laki sok jagoan itu!"
"Perintah di terima Bos."
***
Jika Brian tengah merencanakan sesuatu, berbeda dengan Rissa yang kini jauh dari kata baik-baik saja. Seminggu di kurung dalam gudang yang gelap membuat wanita itu hampir gila.
Wanita itu membuka matanya ketika merasakan silau dari cahaya lampu. Dia mendongak dan mendapati ruangan sangat terang.
Di dekat pintu, pria berbadan tegap walau tidak terlalu tinggi beridiri membawa nampang di tangannya.
Rissa bangun untuk menyambut laki-laki tersebut.
"Tolong lepasin aku!" mohon Rissa.
"Sebenarnya saya kasihan sama kamu, tapi maaf saya nggak punya alasan buat bebasin kamu," jawab Eril meletakkan nampan di hadapan Rissa.
__ADS_1
"Makanlah, kalau bisa jangan semuanya. Belajar buat ngelola sesuatu yang sedikit biar cukup sampai esok hari," ucap Eril.
Rissa membalas tatapan Eril, membuat laki-laki itu menbuang pandangannya kearah lain. "Jangan balas tatapan saya!" perintah Eril dengan suara tegasnya.
Eril, laki-laki berhati lembut yang di paksa terlihat kejam demi sebuah pekerjaan. Itulah mengapa laki-laki itu tidak suka jika Rissa menatap matanya. Karena mata tidak bisa menyembunyikan sesuatu, baik rasa sedih, iba, kecewa, ataupun bahagia.
"Lampu bakal nyala sampai jam 9 pagi, setelah itu padam lagi." Eril langsung berdiri dan menjauhi Rissa.
"Sampai kapan kalian bakal nyiksa aku seperti ini? Sampai kapan!" pekik Rissa.
Rasa frustasi wanita itu rasakan. Hidup mewah dan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, membuat Rissa hampir gila di perlakukan seperti ini.
Sedikit demi sedikit rasa penyesalan dalam dirinya mulai tumbuh, tapi apa boleh buah, semuanya sudah terlambat.
Bahkan Cakra mengurungnya tanpa penjelasan apapun. Kalau saja dia di tanya hal-hal mengenai Brian dia rela berkhianat, sayangnya Cakra tidak ada niatan untuk bertanya sama sekali.
"Sampai orang yang hampir kamu lenyapkan bangun," jawab Eril kemudian berlalu pergi.
...****************...
Pert ini lagi bahas Brian dan Rissa, yang kangen Mas Cakra di bab selanjutnya ya❤
__ADS_1