Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 75


__ADS_3

Cakra berkacak pinggang di anak tangga memperhatikan Liora dan Liam yang tengah bermain di lantai dasar. Laki-laki itu sedang memikirkan rencana agar rasa penasarannya segera terjawab.


"Awas kamu Liora main-main sama aku," ucap Cakra penuh ancaman walau Liora tidak dapat mendengarnya.


Cakra masuk ke kamar dan menghubungi Rocky untuk menanyakan sesuatu. Tanpa basa-basi, Cakra menanyakan apa yang ingin dia ketahui.


"Istri saya hamil atau tidak?" tanya Cakra setelah panggilan terhubung, hal itu membuat Rocky di seberang telpon terdiam.


"Saya bukan suaminya Tuan," jawab Rocky.


"Kau mau mati?" geram Cakra.


"Maaf Tuan, tapi saya tidak tahu."


"Sudahlah kau dan adikmu sama saja. Sama-sama tidak becus melakukan sesuatu. Setelah saya menutup telpon, segera utus dokter kandungan ke rumah!" perintah Cakra kemudian menutup telpon begitu saja.


Laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan. Dia menyeringai licik. "Aku tidak mudah di bohongi Liora," gumam Cakra.


Sementara di tempat lain, orang yang berhasil membuat Cakra kepikiran tengah sibuk bermain-main dengan putranya.


Liora tidak henti-hentinya mengelus perut ratanya itu. Usia kandungannya sudah memasuki bulan kedua tidak membuat perutnya membesar, jadi masih aman untuk menyembunyikan sampai waktunya dia memberitahu Cakra.


"Liam mau dedek?" tanya Liora.


"Au Mama."

__ADS_1


"Nanti kalau Liam punya dedek jangan nakal-nakal ya Nak."


"Mama natal-natal nanan," gumam Liam entah mengatakan apa.


Di saat Liora sibuk bicara dengan Liam, Eril datang menghampiri.


"Nyonya, di luar ada dokter yang ingin bertemu Tuan Cakra," ucap Eril berhasil menciptakan kerutan di kening Liora.


Tentu saja wanita itu heran. Sebagai orang yang tinggal di rumah mewah ini, dia sama sekali tidak mendengar ada orang sakit.


"Aku tanya Mas Cakra dulu," ucap Liora langsung berdiri dan menuju kamar untuk menemui suaminya.


Saat masuk, Liora mendapati Cakra tengah berbaring seraya memainkan ponselnya sendiri.


"Hm."


"Di bawah ada dokter yang nyari Mas Cakra. Mas sakit ya? Kenapa tidak beritahu aku?"


Mendengar hal itu, Cakra langsung bangun. "Bukan aku yang sakit, tapi kamu." Cakra mengecup kening Liora sebelum keluar dari kamar, membuat wanita itu terheran-heran.


"Aku sakit? Apa mas Cakra curiga? Yah gagal dok kejutannya," lirih Liora.


Di saat wanita itu panik seraya mengigit kuku jarinya, Cakra dan dokter wanita masuk ke kamar membawa tas yang mungkin saja isinya alat-alat dokter.


"Baring Sayang." Cakra memegang kedua pundak Liora dan menuntunnya berbaring di atas ranjang.

__ADS_1


"Mas aku tidak sakit, kenapa harus memanggil dokter?"


"Kamu sakit," desak Cakra. Laki-laki itu beralih pada doktet wanita yang ada di belakangnya.


"Periksa dengan terliti dokter dan sampaikan semuanya pada saya!" perintah Cakra tegas.


Doktet tersebut mengangguk dan mulai memeriksa Liora. Kadang kening dokter itu mengerut, kadang tersenyum.


"Sepertinya istri anda sedang hamil Tuan, bukan sakit. Saya akan melakukan tes lain untuk memastikan."


Sontak, senyuman Cakra mengembang, sulit di pungkiri laki-laki igin rasanya ingin berteriak dan mengatakan.


Sebentar lagi aku punya dua anak!


"Saya mau hasil yang jelas, bukan hanya seperti atau mungkin!" tegas Cakra.


Dokter tersebut menyerahkan tespek pada Liora, membuat Liora mulai panik. Semua rencana yang dia susun untuk memberikan kejutan pada Cakra sepertinya akan gagal. Dia lupa kalau suaminya itu adalah orang yang bisa melakukan apapun.


"Saya tidak pintar menggunakannya dokter, tolong bantu saya. Apa Anda bersedia ikut masuk ke kamar mandi? Hanya sebentar," pinta Liora dan di jawab anggukan oleh dokter tersebut, walau alasan Liora sangat tidak masuk akal.


Bagaimana seorang wanita yang sudah punya satu anak tidak mengerti tespek?


"Saya ikut," ucap Cakra.


"Jangan Mas, aku malu. Tunggu di sini ya."

__ADS_1


__ADS_2