Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 193 - Adu Domba


__ADS_3

Hari libur adalah hari yang dinantikan semua orang, termasuk Eril yang selalu ingin menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya di rumah, atau sekedar jalan-jalan di kompleks untuk mengisi kekosongan.


Seperti saat ini, pria itu baru saja lari-lari pagi bersama Cakra dan Liam di sekitar kompleks. Keringat telah bercucuran di tubuh masing-masing karena berkeliling beberapa kali. Eril menundukkan kepalanya setelah sampai di depan rumahnya juga rumah Cakra.


"Selamat liburan Tuan," ujar Eril.


"Hm," gumam Cakra.


"Dadah om Eyil, nanti Liam ke rumah om Eyil," ucap Liam. Bocah berusia 4 tahun itu melambaikan tangannya pada Eril sebelum memasuki pagar tinggi bersama sang papa.


Eril membalas lambaian Liam sebelum akhirnya memasuki pekarangan rumah sendiri. Pria itu mengusap keningnya dengan handuk untuk mengeringkan keringat yang terus saja berjatuhan tanpa di minta. Alih-alih memanggil Rahma untuk mengambil air minum. Dia berjalan ke dapur seorang diri dan duduk di meja pantri menikmati sebotol air minum.


Barulah setelahnya Eril menuju kamar untuk menemui istri dan anaknya yang belum keluar dari kamar, padahal jarum jam sudah menunjukkan angka 7 pagi. Dia tersenyum melihat tiga orang kesayangannya sibuk sendiri.


"Sayang, kalian belum selesai? Apa tidak sebaiknya kita sarapan dulu?" tanya Eril yang berjalan menghampiri Rahma. Mengecup pipi istrinya padahal wanita itu sibuk membuka baju tidur Arhan yang terus saja tersenyum.

__ADS_1


"Mas sarapanlah lebih dulu bersama Arumi, kebetulan aku sudah membuat bubur ayam," sahut Rahma.


"Kamu?"


"Aku akan menjemur Arhan sebentar, lalu memandikannya."


"Baiklah." Eril beralih mengambil Arumi yang sejak tadi ada di ranjang dan bermain sendirian. Pria itu langsung mengendong balita mengemaskan tersebut, kemudian membawanya ke dapur untuk diberi makan.


Eril mengambil kursi bayi yang ada di samping kulkas, kemudian mendudukkan Arumi di sana dan memasangkan celemek agar tidak bergerak saat Eril mengurus sesuatu.


"Cantiknya om duduk dulu ya, Om ambil bubur buat Rumi," ucap Eril.


"Yey bubur ayam buatan tante sudah jadi!" seru Eril sambil melayangkan mangkuk itu layaknya pesawat yang bersiap untuk mendarat. Aksinya membuat Arumi terpekik kegirangan.


"Tanpa diberi aba-aba, Arumi langsung mengambil sendok yang ada di atas meja kecil, lalu mengerakkan dan berusaha mengapai bubur ayam yang ada di mangkuk, sementara Eril hanya diam memperhatikan lantaran ingin melatih Arumi agar bisa makan dengan sendirinya.

__ADS_1


"Makan yang lahap, Sayang," ujar Eril mengusap rambut Arumi yang bergelombang layaknya mie berwarna orange kekuningan.


Sedangkan di tempat lain, yakni di dalam kamar. Rahma masih sibuk dengan baby Arhan. Keduanya duduk di balkon dan berjemur sebelum mandi, terlebih matahari pagi-pagi seperti ini tepat mengenai kamar mereka. Sepanjang berjemur, Rahma sesekali mengedarkan pandangannya pada lingkungan sekitar. Entah dia melihat Liora, Cakra dan Liam yang sedang kejar-kejaran di halaman rumah, atau penghuni kompleks yang lewat bersama keluar kecil mereka.


Tatapan Rahma terhenti pada pria yang berdiri cukup jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Meski cukup jauh, dia masih bisa mengenali bahwa yang berdiri di sana adalah pria yang dulunya hampir menjadi suaminya.


"Wildan?" gumam Rahma, bertepatan benda pipih yang tergeletak di meja, bergetar. Wanita itu langsung menjawab panggilan dari Wildan.


"Ada apa,Mas Wildan menghubungiku dan berdiri di sana?" tanya Rahma dengan polosnya.


"Aku ingin membicarakan hal yang sangat penting menyangkut Eril, tetapi aku tidak bisa masuk ke rumah kalian karena Eril tidak mengizinkan," ucap Wildan di seberang telepon.


"Mas Wildan ingin membicarakan apa? Mas bisa bicarakan lewat telepon saja. Bertemu berdua tidak baik untuk kita, terlebih aku sudah bersuami," tolak Rahma secara halus.


"Bukannya ingin membuat rumah tangga kalian hancur, tetapi kemarin aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Eril dan Tuan Zayn, ayah biologis putramu. Mereka bekerja sama untuk mengambil Arhan dari sisimu Rahma. Eril tidak menginginkan Arhan ada di kehidupan kalian, dia ingin menyerahkannya pada Zayn tanpa sepengetahuanmu."

__ADS_1


"Bohong." Rahma menggelengkan kepalanya. "Mas Eril tidak akan melakukan hal serendah itu, dia sangat menyayangiku dan putraku," elak Rahma dengan jantung tiba-tiba berdetak cepat.


"Justru dia melakukan itu untuk mengambil kepercayaan kamu sepenuhnya." Wildan senyum miring di seberang telepon. Pria itu berharap rencananya kali ini berhasil untuk mengadu domba mereka, terlebih Rahma adalah tipe wanita yang jika mempunyai masalah, akan memendamnya sendiri alih-alih bercerita pada orang di sekitarnya.


__ADS_2