
Setelah memeriksakan putrinya ke rumah sakit, Liora pulang diantar oleh Eril ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang, Liora sesekali melirik ponselnya, berharap ada pesan atau sebuah telpon dari sang suami yang menanyakan kabar Leona ataupun dirinya. Namun, tidak ada satupun pesan yang mampir di benda pipuh tersebut.
Liora beralih menatap Eril yang fokus menyetir. "Eril, mas Cakra tidak ada menelpon kamu?" tanya Liora.
"Tidak, Nyonya. Sepertinya tuan Cakra sedang sibuk," jawab Eril cepat.
Liora menghela napas panjang, wanita itu kini beralih pada putrinya yang sudah bangun. Bayi kecil itu mengerjap-erjapkan matanya. Ada rasa bersalah di hati Liora karena tidak becus menjaga putrinya. Harusnya dia tidak makan sesuatu yang bisa membuat putrinya alergi.
***
Sama seperti Liora, Cakra sejak tadi memandangi ponselnya, pria itu sedang menunggu telpon dari Liora. Biasanya jika siang-siang seperti ini, Liora akan menelpon hanya sekedar bertanya apakah dia sudah makan atau tidak. Namun, kali ini keduanya seolah asing tanpa kabar.
Cakra mengusap wajahnya kasar hingga puncuk kepala, sehingga rambut yang semula rapi terlihat sangat berantakan. Pria itu menyesal telah membentak istrinya di depan beberapa pelayan. Sungguh tadi pagi dia tidak bisa menguasai emosinya lantaran banyak alasan. Pria itu memejamkan matanya sambil bersandar pada kursi. Hari ini dia berkeja, tetapi tidak bisa menyelesaikan satu masalah pun.
Dia telah mengeluarkan uang banyak tentang proyek satu ini, tetapi malah di ambil alih dengan banyak alasan, salah satunya desain yang dituduh plagiat dari salah satu perusahaan besar.
"Tuan, saya sudah menemukan perusahaannya," ucap Rocky yang baru saja datang setelah pergi berjam-jam.
__ADS_1
Cakra perlahan membuka kelopak matanya, menatap Rocky dengan alis terangkat, seolah bertanya di mana letak dan siapa pemilik perusahaan itu.
"Perusahaannya bergerak dibidang yang sama dengan kita, tetapi perusahaan itu lebih dulu didirikan dan lebih besar dari kita, hanya saja tidak terlalu terkenal," jelas Rocky. "Akhir-akhir ini perusahaan yang dipimpin oleh pria bernama Zayn itu cukup ramai diperbincangkan setelah berita plagiat tersebar. Beberapa klien kita beralih ke sana dan membatalkan kontrak kerja sama dengan alasan yang sama."
Cakra mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Sungguh dia sangat pusing sekarang. "Cari tahu latar belakang Zayn itu. Dari keluarga mana dan siapa saja orang-orang terdekatnya!"
"Baik Tuan." Rocky membalik tubuhnya hendak pergi, tetapi pertanyaan Cakra berhasil menghentikan pria itu. Dia kembali berbalik untuk berbicara pada tuannya.
"Liora menghubungi kamu hari ini? Dia menanyakan tentang saya?" tanya Cakra.
"Lalu?"
"Akibat ruam merah di tubuh nona Leona diakibatkan oleh ketidak cocokan asi nyonya Liora. Dokter menyarankan agar nyonya Liora menjaga pola makannya atau mengganti dengan susu formula." Rocky menjabarkan informasi yang dia dapatkan tanpa melewatkan satu pun, kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
Asisten pribadi Cakra menuju ruangannya sendiri yang berseblahan dengan ruangan Cakra. Pria itu duduk di kursi hendak mengerjakan sesuatu, tetapi deringan ponsel yang ada di saku jasnya menghentikan pergerakan tangan Rocky. Dia mengerutkan keningnya melihat panggilan itu berasal dari wanita paruh baya yang mengasuh Arumi.
Takut terjadi sesuatu pada bayi mengemaskan tersebut, Rocky segera menjawab panggilan yang menurutnya tidak penting.
__ADS_1
"Akhirnya Tuan menjawab panggilan saya."
"Katakan!"
"Sebelumnya saya minta maaf, Tuan. Tetapi saya harus pulang ke desa karena ibu saya sedang sakit."
Rocky menghela napas panjang, pria itu sedang sibuk tetapi nani Arumi malah ingin pergi secara mendadak.
"Kau boleh pergi jika mendapatkan pengganti, jadi carilah!" ujar Rocky kemudian memutuskan sambungan telpon sepihak.
Pria itu mulai memfokuskan atensinya pada layar laptop untuk mengerjakan laporan perusahaan, sementara latar belakang pria bernama Zayn telah ditangani oleh orang suruhannya. Rocky mengeram kesal ketika deringan ponsel kembali terdengar. Pria itu menyambarnya dengan kasar.
"Apa lagi?"
"Saya sudah menemukan pengganti, Tuan. Dia baik dan bertanggung jawab, saya bisa menjamin itu. Sebentar malam dia akan datang ke apartemen. Makasih Tuan."
"Hm, pesangonnya akan saya kirimkan."
__ADS_1