
"Mama!" Suara Liam mengema di rumah mewah tersebut padahal baru saja melintasi pintu utama. Wajah Liam terlihat sangat cemberut, bahkan saat berada digendongan papanya. Bagaimana tidak, Liam ingin bersama Eril, tetapi Cakra memaksa untuk pulang.
"Mama!" panggil Liam sekali lagi membuat Liora yang sedang memangku Leona segerah menyerahkan pada nani. Wanita itu beranjak dan menghampiri dua pria tampan kesayangannya. Kening Liora mengerut melihat bibir Liam yang manyun.
"Aduh anak mama kenapa cemberut gitu sih? Dimarahin papa?" tanya Liora. Dia mengelus pipi Liam lantaran tidak bisa mengendongganya karena larangan Cakra.
"Kok papa?" protes Cakra.
"Liam mau om Eyil, Mama. Om Eyil punya dedek," ucapnya masih dengan bibir manyun.
__ADS_1
Liora menghela napas panjang, ternyata masih drama tentang Eril. Sungguh putra sulungnya sangat menyusahkan karena menginginkan Eril selalu di rumah padahal sekarang sudah menikah. Di mana pria itu tidak akan mempunyai banyak waktu bersama Liam, di luar jam kerja.
"Om Eril pasti balik kalau dedek sama tante cantiknya pulang," ujar Liora menenangkan.
Tidak punya pilihan lain akhirnya Liam hanya mengangguk pasrah. Liam digendong oleh papanya ke kamar, sementara Liora masih mampir bermain dengan putra dan putri kecilnya. Wanita itu tidak tahu apa saja yang dilakukan Cakra dan Liam jika sudah bertemu di dalam kamar.
Tempat tidur dan kamar yang semula rapi berubah layaknya kapal pecah karena perbuatan dua manusia berbeda generasi tersebut. Ini semua karena Cakra menuruti semua keinginan Liam agar tidak cemberut dan merindukan Eril lagi. Ceo yang biasanya disegani dan ditakuti semua orang, kini bertingkah layaknya bocah ingusan yang melompat-lompat di tempat tidur.
Keduanya memutuskan berbaring setelah lelah melompat hingga seprei tidak beraturan lagi. Cakra mengatur napasnnya agar kembali stabil, tetapi berbeda dengan Liam yang telah menghilang dari perhatian Cakra. Bocah berusia 4 tahun itu berjalan menuju meja rias sang mama, di mana di sana banyak hal-hal yang bisa dijadikan mainan. Liam berdiri di atas kursi dan meneliti kuas make up yang sangat mengemaskan di matanya.
__ADS_1
Sementara di lain sisi, lebih tepatnya di ranjang, Cakra baru bangun usai mengatur napasnya. Mata pria itu membulat melihat keberadaan Lima yang ada di tempat yang sangat menyeramkan. Meja rias, sungguh itu adalah tempat yang tidak berani Cakra kacaukan, terlebih istrinya sangat gemar bermake up berbekal tutorial jika ada waktu luang.
"Liam!" pekik Cakra bertepatan Liam mengeser semua benda yang ada di depan cermin sehingga berjatuhan ke lantai. Barang berjatuhan dan suara pekikan Cakra tentu terdengar samar di telinga Liora yang asik berbincang dengan suster yang merawat si kembar.
"Saya tinggal sebentar ya," ucap Liora. Dia berjalan terburu-buru lantaran khawatir pada putranya, sebab mendengar teriakan Cakra juga suara benda pecah. Wanita cantik itu membuka pintu kamar dan tertegung melihat keadaan kamar yang jauh dari kata baik-baik saja, terutama pada meja rias kesayangannya.
Liora mengambil napas dalam-dalam kemudian menghebuskannya perlahan. Dia berusaha menahan emosi yang seakan muncul dipermukaan dan minta dikeluarkan detik itu juga.
"Sayang?"
__ADS_1
"Mama?"
"Keluar!" perintah Liora.