Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 192 - Sandera


__ADS_3

Merasa semua urusannya telah selesai dan Alea pun sudah dipindahkan ke ruangan perawatan yang dia pilih sendiri. Rocky akhirnya memutuskan untuk membersihkan tubuhnya yang tampak sedikit kacau. Pria itu menenteng sebuah paper bag yang baru saja dia bawa dari sebuah toko pakaian. Dia masuk ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan tersebut, lalu mengganti bajunya dengan pakaian santai seperti saat di rumah.


Rocky tidak lupa menggosok rambutnya yang basah agar cepat kering, barulah ke luar dari kamar mandi dan mendapati Alea membuka matanya dan hendak turun dari brankar rumah sakit.


"Mau ke mana?" tanya Rocky dengan suara dinginnya.


Alea yang mendengar pertanyaan tanpa tidak terusik. Dia melakukan apa yang dia inginkan sendiri, termasuk hendak mencabut selang infus di tangannya, tetapi di cegah oleh Rocky dengan sigap.


"Lepasin!" perintah Alea.


"Saya sudah membayar rumah sakit mahal-mahal jadi jangan bertingkah!" ucap Rocky. Pria itu menyentak tangan Alea kemudian memaksa wanita itu kembali berbaring. "Jika sampai bayi yang ada di dalam perut kamu kenapa-napa, maka kau akan menanggung semua akibatnya!" ancam Rocky.


Melihat tidak ada pergerakan lagi dari Alea, Rocky memutuskan untuk duduk di kursi khusus satu orang sambil menumpu kakinya. Sesekali melirik Alea yang berbaring dengan tenang menghadap samping kiri. Merasa tidak ada yang terjadi, Rocky mengambil laptopnya lalu memangku karena akan mengerjakan sesuatu. Sehingga keheningan tercipta di ruangan tersebut.


Pikiran Rocky maupun Alea telah melayang tanpa tujuan yang jelas. Intinya pikiran dan pendapat mereka tidak akan sama, lantara Rocky menginginkan Alea mempertahankan janin itu, tetapi Alea enggang bahkan berencana menggugurkannya jika ada kesempatan.


Wanita itu sesekali melirik Rocky yang tampak serius dengan layar laptop. Sampai sekarang Alea masih membenci Rocky dan tidak akan memaafkannya apa pun yang terjadi.


"Aku harus pergi dari sini apa pun yang terjadi," batin Alea yang terus memikirkan cara agar bisa kabur dari hadapan Rocky yang sepertinya sangat pemaksa. Atensi Alea teralihkan ada benda pipihnya yang berdering di atas nakas. Dia langsung menjawab ketika mengetahui bahwa nomor tersebut dari orang asing.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Alea setelah menjawab panggilan, hal itu berhasil membuat perhatian Rocky teralihkan dari pekerjaan.


"Dengan nona Alea? Saya sudah di depan kontrakan anda untuk mengantarkan pesanan," ucap pria di seberang telepon.


"Saya sedang di luar saat ini, coba kamu dorong pintu kontrakan, jika tidak terkunci, letakkan saja barangnya di sana."


"Baik, Nona," sahut kurir di seberang telepon.


Alea memasang telinganya dengan benar agar bisa mendengar apa yang dilakukan oleh kurir di seberang telepon. Dia tersenyum ketika suara decitan pintu, pertanda kontrakannya tidak dikunci oleh Rocky.


"Saya sudah meletakkannya di samping pintu."


Sementara Rocky sendiri masih fokus pada pekerjaan meski pikirannya tertuju pada seseorang yang menelepon Alea tadi. Dia diam-diam melirik Alea yang ternyata sudah tertidur. Mulai merasakan kantuk, Rocky akhirnya ikut memejamkan mata dengan posisi duduk di kursi tepat di depan brankar Alea.


Keheningan mulai tercipta di antara mereka, hanya derap langkah yang sesekali terdengar dari lorong rumah sakit. Mungkin suara itu tercipta dari para perawat yang masih sibuk menangani pasien meski jarum jam sudah menunjukkan angka setelah sebelas malam.


Alea yang berada di brankar mulai bergerak gelisah ketika menyadari pria yang sangat dia benci sudah terlelap. Dia perlahan-lahan turun dari brankar, dan berjalan menuju pintu sambil membawa tiang infus di tangannya. Gadis itu terkejut bukan main ketika sebuah tangan tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya padahal dia hampir sampai pada pintu.


Alea melirik ke belakang dan mendapati Rocky tengah menatap tajam tanpa ada senyuman. Sungguh Alea sangat takut melihat tatapan itu, rasanya dia ingin kabur sekarang juga. Tetapi apa daya genggaman tangan Rocky terlalu kuat untuk dia lepaskan, terlebih tubuhnya masih merasa lemas.

__ADS_1


"Kembali ke tempatmu dan jangan pernah berpikir untuk kabur." ucap Rocky. Pria itu sebenarnya terlelap, tetapi dia sangat sensitif dengan suara sehingga bisa terbangun kapan saja karena merasa tidurnya terganggu.


"Saya mau pulang," jawab Alea.


"Kau bisa pulang besok!"


"Kau serius?" tanya Alea memastikan dan dijawab anggukan oleh Rocky.


Tidak ada pilihan lain, akhirnya Alea kembali ke brankar dan duduk di sana dengan perasaan tidak tenang. Berbaring pun tidak ada gunanya untuk Alea, terlebih dia satu ruangan dengan pria yang sangat dia takuti dan benci dalam waktu bersamaan.


"Kalau Tuan datang untuk mengambil kembali uang yang telah saya ambil, saya akan mengembalikannya besok, jadi tidak perlu menjadikan saya sandera seperti ini."


"Saya menginginkan bayi ada dalam rahim kamu," jawab Rocky.


Alea tertawa mengejek. "Bayi di dalam perut saya? Ayolah, jangan terlalu berharap Tuan. Bayi ini hadir karena kesalahan, maka sudah seharusnya dilenyapkan sebelum bernyawa."


"Alea!" bentak Rocky.


"Anda bisa melakukan apa pun, tetapi tidak untuk memaksa saya mengandung darah daging iblis seperti anda."

__ADS_1


__ADS_2