
"Satu ... dua ... ti- ...." Cakra sengaja mengantung hitungannya, menungu Liora menatap dirinya seraya tersenyum.
Sementara Liora yang merasa terdesak segera menjawab tuduhan Cakra.
"Iya aku keluar bareng Eril tadi, Maaf. Sebenarnya aku mau ngasih tau Mas Cakra sebagai kejutan nanti, tapi Rocky malah keburu melapor," kesal Liora. Bukannya tersenyum, bibir wanita itu semakin doer karena di manyungkan.
"Mana ada kejutan. Kejutan apa? Kejutan kalau kamu ketemu Rissa diam-diam di belakang aku? Makan di pinggir jalan?" todong Cakra. Wajah laki-laki itu tidak kalah kesal. Entah siapa di antara mereka yang akan mengalah lebih dulu.
"O-oh iy-iya aku ketemu Rissa tadi, maaf. Aku cuma mau tahu kondisi dia Mas." Liora bisa bernafas lega setelah tahu Rocky tidak melaporkan tentang rumah sakit itu.
Memang setelah pulang dari rumah sakit, Liora meminta Eril agar berkunjung ke tahanan untuk bertemu Rissa. Liora ingin tahu kondisi wanita hamil tersebut secara langsung, apa mereka baik-baik saja atau tidak.
"Aku nggak suka kamu ketemu Rissa, Liora. Gimana kalau dia nyakitin kamu? Sudahlah!" Cakra beranjak dari duduknya.
Laki-laki itu berjalan menuju kamar seraya mengendong Liam yang tetap anteng memainkan telinga Cakra tanpa ingin ikut campur.
Cakra duduk di pinggir ranjang dengan wajah di tekuk.
"Papa napa?" tanya Liam menyentuh bibir manyung Cakra.
"Papa ngambek sama Mama," balas Cakda mengadu pada Liam.
__ADS_1
Liam tidak menjawab lagi, bocah kecil itu berdiri di pangkuan Cakra, kemudian mengecup pipi juga kening Cakra secara bergantian.
"Nanan malan-malah dadi papa, anti papa tua tepat, teta mama."
"Tuh dengerin Liam mas. Jangan marah-marah ntar cepat tua," timpal Liora ikut masuk ke kamar.
Liam melakukan hal yang sering Liora lakukan jika membujuk Cakra, yaitu mengecup kening juga pipi.
"Liam di panggil sama om Eril, main pesawat katanya," ucap Liora berhasil mengambil perhatian Liam.
Bocah kecil itu turun dari pangkuan Cakra kemudian berlari keluar kamar untuk bertemu Eril. Sementara Liora langsung duduk di samping Cakra, membimbing tangan laki-laki itu untuk menyentuh perutnya sebagai kode.
"Jangan ngambek terus Mas, kayak anak kecil ih. Aku janji kalau keluar rumah izin sama kamu. Aku cuma kasian sama Rissa Mas. Aku pernah ada di posisi Rissa bedanya aku di rumah dia di penjara. Hamil tanpa kasih sayang suami itu rasanya sulit banget, apa-apa ...."
"Aku tahu dan nggak sabar dapat perhatian lebih setelah aku hamil." Liora tersenyum. Membalas pelukan Cakra.
"Jangan makan di pinggir jalan lagi, itu nggak sehat!"
"Kok tau aku makan di pinggir jalan sama Eril? Rocky juga laporin hal sekecil itu?" Liora mendongak untuk menatap wajah tampan suaminya.
"Nggak, cuma nebak aja. Selama ini aku nggak ngasih kamu uang Cash, tapi tiba-tiba ada setelah dari luar. Makan di restoran paling Eril pakai kartu."
__ADS_1
"Ketahuan deh." Liora menyengir, Cakra memang teliti tentang apapun. "Aku cuma kangen masakan sederhana kayak di kampung dulu. Lagian makanan di pinggir jalan itu sehat dan enak, buktinya Mas dulu ketagihan, sampai sering ngajak kalau malam minggu."
"Itu dulu," sanggah Cakra.
"Iya pas nggak punya uang," cibir Liora tanpa melepaskan pelukannya. "Berarti makanan pinggir jalan bukan nggak sehat Mas, tapi tergantung keinginan dan uang aja. Jangan bilang gitu lagi, nggak baik sombong apa lagi nuduh sembarangan. Mas nggak ingat susahnya nyari makan dulu?"
"Iya aku salah."
"Memang salah Papa dari anak-anak aku."
"Belum nambah, jadi masih anak," ralat Cakra.
"Bentar lagi nambah," bisik Liora kemudian pergi dari sana.
"Kamu hamil?"
"Tebak sendiri Papa!" sahut Liora sebelum menghilang di balik pintu.
"Iya atau nggak?" Cakra mengekori Liora sampai di lantai bawah, laki-laki itu seperti anak kecil yang mengingingkan sesuatu.
"Artinya Secret apa?" tanya Liora.
__ADS_1
"Rahasia."
"Nah tuh tahu."