Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 173 ~ Luka yang berduri


__ADS_3

Jika suasana di kota metropolitan tidak terlalu baik karena kedatangan ayah biologis Arhan, maka berbeda di kota kembang atau lebih tepatnya bandung. Di sana, Alea benar-benar berusaha melupakan kejadian malam itu dan fokus pada hidupnya sendiri. Dia akhirnya mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan kecil berbekal gelar sarjana yang dia dapatkan dengan usahanya sendiri. Wanita itu menyimpan dengan baik uang yang dia ambil dari Rocky dan akan mempergunakannya pada hal-hal penting saja.


"Harusnya sejak dulu saja saya pindah ke sini, di jakarta susah banget dapat kerjaan. Di sini sekali lamar langsung kerja," gumam Alea. Wanita itu mendaratkan tubuhnya di sofa setelah mandi sore sepulang kerja.


Dia memandangi ponselnya dan mengingat-ingat sesuatu. "Bulan lalu saya datang bulan tanggal 10, karena sering telah beberapa hari, artinya kalau bukan besok ya lusa," gumam Alea yang selalu berpikir positif untuk menghilangkan rasa takutnya.


Hari di mana Rocky menghabiskan malam dengannya, harusnya dia datang bulan, tetapi sampai sekarang darah itu tidak kunjung muncul untuk mengganggunya.


"Sial, sepertinya darah saya macet. Besok dah beli kiranti." Alea meletakkan ponselnya di ranjang, kemudian mulai memejamkan mata lantaran sangat mengantuk di sora hari.


Begitupun di tempat lain, seorang pria tengah berbaring di ranjang karena tubuhnya remuk beraktivitas seharian. Menemui beberapa pemegang sajam Z group dan menawarkan solusi dari masalah yang mereka hadapi. Pria itu tidak lain adalah Rocky. Dia memandangi kalender kecil yang ada di tangannya. Di sana ada sebuah tanggal yang Rocky tandai sebagai hari bersejarah dalam hidupnya.


Tanggal 9 di malam hari, dia berhasil merengut kesucian gadis secara paksa dan setelahnya menghilang tanpa kabar. Sekarang sudah terhitung 10 hari sejak kejadian itu, tetapi orang suruhannya tidak dapat menemukan apapun tentang Alea, lantaran gadis itu adalah penduduk liar yang selalu berpindah-pindah. Alea bisa diibaratkan sebagai putri malu, bisa tumbuh dan beradaptasi di mana saja yang dia inginkan.


"Bagaimana jika dia hamil seperti, Rahma?" tanya Rocky entah pada siapa. "Tidak, gadis itu tidak mungkin hamil saja karena berhubungan satu kali." Rocky berusaha menangkis pikiran buruk yang ada di kepalanya.

__ADS_1


***


Malam yang semakin larut tidak membuat sepasang suami istri yang sedang duduk di kursi rotan mengantuk. Mereka malah sibuk saling pandang satu sama lain dengan genggaman tangan masing-masing.


"Boleh aku membuka lukanya, Rahma? Aku janji akam mengobatinya dan tidak akan membiarkan luka itu basah selamanya," izin Eril hati-hati.


Rahma menganggukkan kepala, terlebih sekarang dia jauh lebih tenang berkat bantuan Eril. "Pr-pria tadi orang yang sudah per ... dia yang mengambil ...." Rahma sekuat tenaga ingin mengatakan bahwa Zayn adalah pria bajin*gan itu, tapi lidahnya terasa keluh hanya untuk mengungkapkannya.


"Ayah biologis Arhan?" tanya Eril dan dijawab anggukan oleh Rahma.


"Mas?" panggil Rahma.


"Maaf aku malah melamun."


"Tidak apa-apa, Mas. Aku tahu Mas pasti sedang berpikir bawah aku ...."

__ADS_1


"Berjanjilah jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi! Maka aku akan berjanji untuk melindungi kalian berdua. Apapun yang terjadi, kamu dan Arhan memilih aku dibandingkan dia!" ujar Eril sangat cepat, sehingga membuat Rahma sedikit terkesiap. Wanita itu tidak menyangka Eril akan mengatakan hal tersebut.


"Mas ngomong apa? Aku istri Mas Eril, maka sampai kapanpun aku akan memilih mas menjadi pendampingku. Aku dan Arhan akan selalu jadi milik mas." Rahma tersenyum. Dia mengira Eril yang akan salah paham padanya karena Zayn tiba-tiba datang ke rumah.


"Dia punya banyak uang, dia bisa membahagiaan Arhan jauh dibandingkan aku. Dia ayah biologis."


"Tapi aku dan Arhan hanya bahagia bersamamu." Rahma lagi-lagi tersenyum. Wanita itu memajukan tubuhnya dan mengecup pipi Eril yang tampak pucat. "Tadi mas memintaku untuk membuka luka agar bisa mengobatinya dengan benar. Aku bersedia membukanya untuk Mas Eril, tapi maaf aku lupa mengatakan bahwa ada banyak duri di dalamnya hingga membuat Mas ikut terluka."


"Kalau begitu mari mengobati lukanya bersama dan jauhkan luka itu dari hal-hal yang menyakitkan." Eril ikut tersenyum melihat wajah Rahma.


Wanita di hadapannya selalu bisa menyelesaikan masalah dengan senyuman, dan jika dia menyelesaikannya dengan tangisan, maka masalah itu benar-benar melukai hatinya. Eril bergerak dan memeluk tubuh Rahma yang terbalut daster panjang.


"Kita akan pindah besok, aku akan usahakan semua perabotannya lengkap," bisik Eril. "Aku tidak ingin istri dan putraku terluka hanya karena masa lalu."


"Terimakasih Mas, sudah bersedia bersamaku."

__ADS_1


__ADS_2