Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 186 - Memeriksa anak cabang perusahaan di Bandung


__ADS_3

Liburan beberapa hari di kampung benar-benar bisa membuat Liora maupun Cakra tenang. Termasuk Liam yang seketika melupakan mimpi buruknya yang ditinggalkan oleh sang mama. Bocah berusia 4 tahun yang biasanya selalu melengket pada Liora, karena pergi tanpa membawanya, kini mulai aktif bermain bersama para pelayan dan bodyguard yang ada di rumah mewah tersebut.


"Ayo tangkap Liam om!" teriak Liam terus berlari di kejar oleh pengawal yang baru saja Liam ganggu. Suara teriakan Liam terus saja terdengar di tengah-tengah rumah, membuat Liora maupun Cakra merasa bahagia.


Kediaman Alexander sudah dihiasi tawa padahal baru jam 7 pagi, bukankah ini sebuah hal yang baik? Terlebih tawa itu berasal dari anak-anak.


"Tuan Muda berhenti berlari, anda bisa saja terjatuh!" ucap sang pengawal, tetapi tetap saja mengejar Liam untuk memastikannya baik-baik saja.


"Ayo kejar Liam om ...! Hua Liam bisa terbang!" pekik Liam ketika tubuhnya melayang ke udara padahal tidak melihat siapa pun di hadapannya.


"Bagaimana liburannya, Tuan Muda, apa menyenangkan?" tanya Eril, orang yang telah menangkap tubuh Liam dari belakang dan mengangkatnya tinggi-tinggi, itulah mengapa bocah 4 tahun itu tidak melihat seseorang tadi.


"Om Eyil?" Tanpa aba-aba, Liam langsung memeluk leher Eril setelah posisinya berubah. Bocah itu sangat merindukan om Eril, tetapi papa Cakra mengatakan dia tidak boleh terlalu bergantung pada om Eril, lantaran mempunyai keluarga sendiri.


"Kangen sama saya?" tanya Eril.


"Liam tanen banget Om. Liam mau main sama dedek Lumi," ucap Liam penuh antusias.


Eril tertawa, pria itu melirik sekitar sebelum mencium pipi mengembung Liam. Padahal pipi adalah salah satu anggota tubuh yang Cakra larang untuk disentuh apalagi dicium oleh seseorang.


"Berani kamu!" tegur Cakra.


"Tu-tuan." Eril menyengir tanpa dosa. Pria itu segera menurunkan Liam dari gendongannya lalu memberikan bow pada sang atasan.

__ADS_1


"Bagaimana pekerjaan di kantor?" tanya Cakra sambil merapikan tata letak dasinya.


"Berjalan lancar, Tuan. Z Group dan perusahaan kita sudah bekerja sama."


"Baguslah, kita tunggul tanggal mainnya untuk memberikan kejutan pada pria sok berkuasa tersebut," ujar Cakra.


Cakra berjalan keluar dari rumahnya diikuti oleh Eril yang berada satu langkah di belakang Cakra.


"Wildan menjadi manajer di perusahaan z Group, Tuan."


"Saya tahu."


Eril mengangguk mengerti, dia lupa kalau Cakra mempunyai tangan kanan yang sangat cekatan mengurus sesuatu. Alih-alih menjelaskan lebih jauh lagi, Eril memilih diam. Terus berjalan hingga akhirnya berhenti setelah sampai di depan rumah. Eril diam-diam mengintip untuk mencari tahu apa alasan Cakra berhenti.


"Mari, Tuan," ujar Rocky mempersilahkan Cakra untuk masuk setelah membukakan pintu mobil.


Cakra hanya mengangguk sebagai respon, dia bergegas memasuki mobil yang akan membawanya menuju perusahaan Alexander yang telah dia tinggalkan beberapa hari. Dalam perjalanan, Cakra sesekali melirik Rocky yang sedang mengemudikan mobil. Ada yang aneh dan berbeda yang Cakra dapati dalam penampilan Rocky kali ini.


"Apa kau kurang sehat?" tanya Cakra.


"Tidak, Tuan."


"Benarkah?" Kening Cakra mengerut, seakan sedang menyelidik sesuatu lewat pantulan cermin. "Wajah kamu sangat pucat, juga kemeja kamu kurang rapi hari ini."

__ADS_1


"Itu karena saya terburu-buru," ujar Rocky beralibi.


Pria itu berusaha tidak gelisah di depan Cakra yang sangat teliti dalam menganalisis perubahan, padahal Rocky sebenarnya sangat haus dan kegerahan. Alasan kenapa kemejanya tidak terlalu rapi, itu karena dia membenci wewangian bahkan wewangian dari laundry sekalipun. Dan sekarang Rocky sangat tersiksa akibat aroma parfum dan pakaian Cakra.


Menegur? Ayolah, menegur Cakra sama saja mencari mati. Cakra adalah tipe seseorang yang tidak suka ditegur jika masalah pakaian. Rocky tidak tahu kalau hal itu juga berlaku untuk Liora atau tidak.


"Tuan," ujar Rocky setelah lama terdiam.


Hal itu berhasil mengambil atensi Cakra yang berdiam diri di jok belakang.


"Kenapa?"


"Sudah lama kita tidak memeriksa cabang perusahaan yang ada di Bandung. Apa tidak sebaiknya kita berkunjung?" saran Rocky.


"Saya baru pulang dan butuh istirahat lebih. Berkunjunglah sendiri untuk memastikan, lagi pula di kantor pusat tidak terlalu sibuk," sahut Cakra tanpa banyak bertanya.


Siapa yang menyangka jawaban Cakra membuat sudut bibir Rocky sedikit tertarik meski tidak membentuk sebuah lingkaran, tetapi itu semua tidak luput dari perhatian Cakra yang semakin curiga oleh gerak-gerik asisten kepercayaannya.


"Kau mengira saya bodoh Rocky? Saya tahu kau mempunyai alasan lain sehingga ingin memeriksa anak cabang di Bandung," batin Cakra tersenyum licik.


Pria itu bergegas keluar dari mobil setelah benda besi beroda empat itu berhenti dengan aman di depan perusahaan Alexander Group. Tidak lupa Cakra melirik Rocky yang kini sudah berdiri dari sampingnya.


"Sebelum pergi, setor semua pekerjaan yang harus saya selesaikan selama ditinggal beberapa hari!"

__ADS_1


__ADS_2