Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 110


__ADS_3

Melihat penjual balon di depan pagar rumahnya, Liam langsung berlari menghampiri Cakra yang tengah sibuk berbincang-bincang dengan pak Ridwan dan beberapa pekerja rumahnya dulu.


Bocah kecil tersebut menarik-narik tangan kekar Cakra. "Papa, Liam mau bayon!" ucapnya seraya mendongak.


"Balon?" Meski masih sibuk bercerita, Cakra tetap saja mengendong Liam. "Liam mau balon apa, hm?"


"Bayon citu, Liam mau!" jawab Liam dengan bibir sengaja dimanyungkan.


Cakra berdecak gemas. "Saya kedepan sebentar!" pamitnya pada yang lain dan berjalan menuju pagar sesuai arahan Liam.


Sebenarnya sejak tadi Eril ada di belakang Liam, tapi pada dasarnya bocah kecil itu hanya ingin memanggil papanya.


"Bayon itu papa!" tunjuknya pada balon bermacam karakter yang berada di atas motor bapak-bapak.


Cakra tersenyum subringan, dia segera keluar dari pagar dan menghampiri penjual balon tersebut.


"Satu ya pak," ucap Cakra. "Ayo pilih, Liam mau yang mana?"


"Mau bayon cawat tu!" tunjuk Liam.


Cakra langsung saja mengambil balon pilihan Liam setelah diberikan oleh penjual. Dia merongoh dompetnya untuk mengeluarkan uang.


Memang sebelum ke sini, dia lebih banyak menyediakan uang cash, sebab tahu di desa sangat jarang ada Atm.


"Berapa?"

__ADS_1


"Lima belas ribu pak," jawab bapak-bapak tersebut.


"Lima belas ribu?" ulang Cakra memastikan dan dijawab anggukan oleh penjual balon.


"Hitung semua berapa pak!" perintah Cakra seraya menurunkan Liam dari gendongannya. Dia berjongkok untuk mensejejarkan tinggi tubuhnya dengan sang putra.


"Panggil semua teman-teman Liam kesini, terus beri mereka balon!" perintah Cakra.


Liam mengangguk antusias dan segera berlari memasuki lingkungan rumah mewah yang sangat besar tersebut. Memanggil satu persatu anak-anak kampung nelayan dibantu oleh Eril, hingga semua anak-anak tersebut berdiri di depan pagar.


Cakra dengan segera menyerahkan balon-balon tersebut pada Liam dan memerintahkan agar membagikan ke yang lain.


"Yey habis!" teriak Liam bertepuk tangan setelah semua anak-anak mendapatkan balon. "Aci Papa," ucap bocah tersebut dan mengikuti teman-temamnya, maninggalkan Cakra dan penjual balon saja di sana.


"Berapa?"


Dengan segera Cakra memberikan lembaran merah sekitar 5 lembar. "Makasih pak sudah buat putra saya senang," ucap Cakra dan berlalu pergi dari sana.


Hari masih sore, jadi puncak pesta belum selesai. Tadi hanya acara potong kue dan kejutan untuk istri tercinta yang dihadiri beberapa warga kampung nelayan.


Puncak pesta akan berlangsung jam 8 malam nanti, dimana Cakra sudah mengundang beberapa kampung untuk datang menyaksikan resepsi pernikahan mereka yang baru saja digelar. Sekaligus menyombongkan diri dan mengangkat derajat istrinya di kampung sendiri.


Cakra menyaksikan langsung seberapa menderitanya Liora di kampung, dan dia punya dendam tentang itu.


Dia merongoh saku jasnya kemudian menghubungi Rocky.

__ADS_1


"Sudah jam 5 sore, antar Liora masuk ke kamar dia pasti sudah lelah!" perintah Cakra setelah panggilannya tersambung.


***


Rocky kembali memasukkan benda pipih tersebut di saku jasnya kemudian menghampiri Liora yang tengah di kelilingi ibu-ibu setelah pesta ulang tahun berlangsung beberapa menit yang lalu.


"Nyonya, sudah waktunya Anda istirahat kata Tuan Cakra," ucap Rocky.


"Sebentar lagi, Ky. Aku masih ada ...."


"Nyonya."


"Baiklah." Pasrah Liora meskipun tidak enak pada ibu-ibu yang duduk di sofa. "Bu saya ketemu mas Cakra dulu ya, nanti ...."


"Ah iya nggak papa, hati-hati ya Nak awas jatuh."


Rocky memicingkan matanya tidak suka pada semua ibu-ibu tersebut. Sejak tadi telinga Rocky hampir meledek mendegar pujian demi pujian yang terlontar. Mereka berusaha memanjat agar menjadi teman yang baik untuk Liora tanpa mengingat apa yang mereka lakukan dulu.


Rocky hanya mengantar Liora sampai di ambang pintu, terlebih di dalam sudah ada Cakra menunggu. Laki-laki itu segera pergi dan memastikan pesta nanti berjalan dengan semestinya.


Survernir sudah disiapkan sesuai jumblah undangan yang disebar luaskan. Di dalam undangan sudah tertulis tidak ada yang boleh membawa apapun selain undangan itu sendiri, atau mereka tidak akan masuk.


"Eril, mana Tuan muda?" tanya Rocky ketika bertemu adiknya di teras depan. Masih banyak orang yang berlalu lalang, karena memang Cakra membiarkan untuk saat ini, terutama pada keluarga bu Fatimah.


"Di kamarnya Bang, lagi minum susu sama makan buah!"

__ADS_1


__ADS_2