Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 181 - Kampung Nelayan


__ADS_3

Liora tersenyum lebar melihat ketiga anak-anaknya telah rapi usai mandi pagi secara bergantian. Wanita itu berdecak bangga melihat buah hatinya tampan dan cantik, di antara mereka, hanya Lion lah yang mirip dengannya, sementaran Liam dan Leona mirip papa mereka. Semoga sikapnya nanti setegas Cakra tetapi serendah hati mamanya.


"Sekarang waktunya jalan-jalan, Sayang. Mama akan mengajak kalian keliling kampung," ucap Liora. Wanita itu sangat merindukan kampung halamannya meski kampung tersebut menyimpan banyak luka untuknya.


"Liam ikut papa cari ikan," sahut Liam langsung mengelengkan kepalanya. Bocah kecil itu tidak sengaja mendengar pembicaraan papanya dengan seseorang di teras rumah.


"Memangnya papa mau mancing?" tanya Liora dan dijawab anggukan oleh Liam.


Liora tersenyum, dia berlutut agar tingginya sejajar dengan Liam. Wanita itu mengelus kepala putranya penuh kasih sayang. "Kalau begitu jangan nakal ya, dengarkan apapun yang dikatakan oleh papa, oke?"


"Siap, Mama!" Liam memberi hormat, kemudian berlari mencari keberadan papanya yang ternyata berada di gudang. Bocah itu mengekori Cakra yang serius mondar-mandir mencari alat pancing untuk digunakan nanti bersama pak Ridwan.


"Papa jalan mulu," celetuk Liam dengan bibir manyunnya. Saat itu lah Cakra baru sadar akan keberadaan putranya.


Cakra tersenyum lebar, mengelus pipi Liam yang mengembung. "Ada putra papa tertanya. Kenapa, Sayang?" tanya Cakra.


"Liam mau ikut tangkap ikan."


"Sudah izin sama mama?" tanya Cakra.


"Sudah, Papa. Kata mama, Liam boleh ikut dan tidak boleh nakal."

__ADS_1


"Pintar banget anak papa."


Cakra berjongkok untuk mengendong putranya ke luar dari gudang yang sedikit berdebu tersebut. Dia menghampiri istri tercinta yang berada di ruang tamu, bersiap pergi bersama Lion dan Leona.


"Sayang, jalan-jalannya jangan kelamaan ya. Ponselnya juga harus aktif terus. Sampai saat ini mas tidak bisa percaya dengan orang-orang sekampung kita." ucap Cakra.


Pria itu telah mengetahui rencana istrinya lantaran Liora sudah meminta izin lebih dulu semalam.


"Iya, Mas. Lagian aku cuma mau mampir ke rumah bu Fatimah. Takut di kira sombong karena tidak keluar rumah padahal ada di kampung."


Liora tersenyum saat keningnya langsung dikecup oleh Cakra di depan nani baby L dan beberapa pengawal di ruangan tersebut. Mereka semua tampak mengulum senyum dan gemas sendiri melihat kebucinan nyonya dan tuan mereka yang selalu meembuat iri setiap jam dan menit.


"Mas juga hati-hati."


Cakra meninggalkan rumah lebih dulu dengan Liam dalam gendongannya. Pria itu membawa satu pengawal yang akan membantunya menangani kerewelan Liam di tengah serunya memancing ikan. Sudah lama juga Cakra tidak melakukan kegiatan tersebut, bisa dibilang dia memancing saat lupa ingatan saja. Artinya 4 tahun yang lalu.


Sepeninggalan Cakra, Liora pun bergegas mendorong stroler untuk bayi kembar tersebut keluar rumah. Dia menghentikan langkahnya ketika menyadari dua nani yang mengekori dari belakang.


"Kalian tidak perlu ikut, istirahatlah di rumah. Saya jalan-jalan di depan rumah saja," ujar Liora pada nani baby L, dan dijawab anggukan oleh dua gadis yang sangat patuh tersebut.


Liora melanjutkan langkahnya hingga tidak terasa telah melewati pagar setingggi dua meter rumahnya. Saat itu lah dia bisa melihat rumah para warga kampung nelayan. Entah apa tujuan Cakra sehingga membuat pagar setinggi itu.

__ADS_1


"Nyonya, apa tidak sebaiknya saya mendorong stroler tuan dan nona muda?" usul salah satu pengawal di belakang Liora.


Wanita itu menghela napas panjang. Dia menatap 4 pengawal yang sejak tadi mengikutinya dari dalam rumah. "Kalian tidak perlu ikut, saya baik-baik saja. Kehadiran kalian akan membuat warga termasuk saya tidak nyaman," ujar Liora.


"Maaf Nyonya, tetapi kali ini kami tidak bisa memenuhi keinginan Nyonya," ucap pengawal tersebut.


"Kalau begitu ikuti dari jauh saja. Jarak 50 meter."


"Akan kami lakukan."


"Terimakasih." Liora lagi-lagi tersenyum pada pengawal yang diutus Cakra. Dia melangkah pelan di pinggir jalan yang sangat lenggang dan asri lantaran pohon mangga masih setia berada di pinggir jalan.


"Aduh-aduh lihat siapa yang datang!" seru ibu-ibu yang berkerumun di pos ronda karena menunggu tukang sayur dan ikan datang. Lirikan mereka kini tertuju pada Liora yang sedang mendorong stroler dengan baju daster biru bunga-bunga membalut tubuh putih bersih Liora.


"Kami kira kamu tidak akan keluar dari rumah mewah itu," celetuk bu Weni. Wanita paruh baya yang sering kali menghina Liora miskin, bahkan memukul Liam jika meminjam mainan cucunya.


"Saya tidak sesombong itu, bu." Liora hanya membalas sapaan ibu-ibu itu dengan senyuman.


"Aduh akhirnya kamu datang juga, Nak. Kamu dan anak-anak kamu sehat?" tanya bu Fatima yang keluar dari warung sembakonya ketika mendengar keributan.


"Alhamdulillah, Bu," jawab Liora.

__ADS_1


"Heh Lio, spil dong perawatannya. Kulit kamu bisa semulus dan seputih itu pakai apa sih? Itu juga bodinya bagus banget padahal baru melahirkan," celetuk ibu-ibu.


__ADS_2