Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 31


__ADS_3

"Sudah?" tanya Cakra pada Liora yang masih mengatur nafas. "Sekarang giliran kamu yang dengerin aku!" pinta Cakra dengan suara rendah.


Laki-laki itu sudah mengusir pengawal yang di bawa Liora. Cukup dia dan Liora saja yang tahu masalah rumah tangga mereka, tidak untuk orang lain.


Cakra meraih tangan Liora, menatap mata sembab wanita di hadapannya itu. "Aku nggak pernah ngirim surat apapun ke kamu Ra, aku cuma nyuruh Rocky asisten aku mantau kamu dari jauh, saat aku fokus berobat selama dua bulan. Saat semuanya membaik, aku berencana nemuin kamu, tapi hari itu assiten aku kecelakaan. Jadi aku nyuruh adik aku buat jemput kamu," jalas Cakra masih terdengar tenang.


Dia menelan salivanya sebelum berbicara lebih lanjut. "Tapi yang aku dapatkan bukan kehadiran kamu, tapi kabar kematian kamu saat melahirkan anak kita."


Genggaman tangan Cakra terasa kosong, sebab Liora menarik tangannya. Wanita itu senyum mengejek pada Cakra yang terlihat serius.


"Kabar kematian? Bukan kamu yang ngirim surat? Jemput aku? Kalau aku percaya semua itu apa bisa merubah segalanya?" Liora tertawa, memukul dada bidang Cakra sekuat tenaga.


"Itu semua nggak bisa nutupin kesalahan kamu selama ini! Kalau kamu benar-benar sayang dan cinta sama aku, kamu nggak mungkin percaya orang lain begitu aja. Kecuali kamu memang mengingikan kabar itu!"


"Tanpa melihat jazad kamu percaya begitu saya. Apa kamu anak kecil dan bodoh yang bisa di tipu? Kenapa kamu nggak nyari aku? Dua tahun bukan waktu yang singkat."


"Iya aku bodoh, aku terlalu naif dan percaya pada Brian Ra, tapi tolong maafin aku. Kita kembali seperti dulu, birkan aku menebus semua kesalahan yang aku lakukan selama ini. Jangan layangkan tatapan kebencian seperti tadi, aku nggak kuat." Mohon Cakra mendekap tubuh Liora.


Kali ini dekapan laki-laki itu sangat erat, hingga Liora tidak bisa lepas. "Aku cinta sama kamu Ra, aku mengingikan kehadiran kalian."


"Lepasin aku!" pinta Liora dengan suara lirih, tenaganya sudah terkuras akibat berteriak dan memukul tubuh kekar Cakra.


Cakra segera melepaskan pelukannya, menghapus air mata di pipi wanita itu. "Kita balik seperti dulu ya?" pinta Cakra sekali lagi, namun Liora malah mengelengkan kepalanya.


"Nggak akan, semuanya sudah terjadi. Pergilah, cari kebahagian kamu sendiri, aku sudah bahagia disini bersama putraku!" usir Liora.


"Ra, apa lagi yang harus aku lakukan?"


"Menjauh dari kehidupan aku. Itu adalah cara terbaik. Aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya rasa rindu yang tak mampu terucap padahal hampir setiap hari kamu mendengar kabar aku."


"Jangan temui anak aku lagi!"


Liora berjalan menjauhi Cakra, menutup pintu kamar kemudian memeluk putranya yang masih menangis. Sangat sulit rasanya melupakan Cakra, menanam kebencian dalam hati juga Liora lakukan, tetapi kenapa di saat semuanya berhasil, Cakra malah muncul?


Selalu mendengar berita suaminya yang sukses di kota sangatlah menyakitkan. Dia melihat wajah Cakra di layar hampir setiap hari, tapi tidak sekalipun bisa menyentuh.


"Berhenti menanggia Nak, mama nggak suka," bujuk Liora.

__ADS_1


"Liam tatut mama malah. Liam nda mau diputul cama mama."


"Kalau nggak mau di pukul, jangan dekat-dekat sama orang tadi, dia penjahat Nak. Orang tadi mau ngambil Liam." Liora menangkup kedua pipi putranya. "Memangnya Liam mau pisah sama mama?"


Liam mengeleng, merentangkan tanganya agar kembali dipeluk. "Jangan dekat-dekat sama orang itu ya, kalau ketemu di jalan, langsung lari."


Liam mengangguk dalam pelukan Liora.


***


Sejak pertengkarannya pagi tadi bersama Liora, Cakra tidak fokus bekerja.


Dia memikirkan semua perkataan Liora. Benar, dia bodoh karena percaya begitu saja pada orang lain tanpa mencari tahu lebih dulu.


Cakra mengusap wajahnya kacas, merasa frustasi memikirkan semua masalah yang dia hadapi. Tidak ingin semakin larut. Cakra memutuskan untuk jalan-jalan di kampung Nelayan, memperhatikan apa-apa saja yang mungkin bisa dia lakukan untuk Liora.


Saat ini Cakra tidak akan memaksa Liora, biarkan wanita itu berpikir jernih lebih dulu. Senyuman Cakra mengembang melihat pria bersama anak kecil berlawan arah dengannya.


"Hay Liam?" panggil Cakra.


Bukannya menyambut, Liam malah bersembunyi di balik kaki Wildan.


Wildan beralih pada Liam yang berada di gendongannya. "Kenapa takut? Bukannya suka kalau ada yang kenal Liam?"


"Tata mama olang itu dahat," jawab Liam mengeratkan pelukannya, tidak ingin menatap Cakra sedikitpun, sebab takut mamanya marah.


"Sepertinya dia diajarin sama Liora buat nggak dekat sama kamu," ucap Wildan tertuju pada Cakra. "Saya nggak mau ikut campur urusan rumah tangga kalian. Tapi jangan egosi mentingin diri sendiri, tiba-tiba datang dan ingin kembali seperti semula. Kamu nggak tahu gimana menderitanya Liora saat kamu pergi, bahkan saat berjuang melahirkan Liam, dia hampir saja kehilangan nyawanya."


Cakra diam saja, dia ikut menglangkah di belakang Wildan, berharap bisa menatap wajah Liam, tetapi balita dua tahun itu malah menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Wildan.


"Harusnya aku," gumam Cakra.


Tidak ingin terlihat menyedihkan dan membuat Liam tambah takut jika memaksa, Cakra melanjutkan langkahnya.


"Mas Cakra, di panggil sama Abi."


Kedua laki-laki tampan itu sontak menoleh, Wildan tersenyum melihat calon istrinya. Rahma berbicara tanpa menatap lawan bicaranya.

__ADS_1


"Saya akan kesana!" jawab Cakra.


Kini tersisa Wildan, Liam dan Rahma yang ada pinggir jalan. "Kesini cuma di suruh Abi, apa sekalian mantau?" goda Wildan.


"Di suruh abi Mas, itu anaknya mbak Liora ya?" tanya Rahma menatap Liam tanpa berani menatap Wildan. Tangan itu terulur mengelus pipi Liam.


"Iya anak Liora, anak kita belum jadi. Calon ibunya nunda nikah mulu," sindir Wildan.


Kekehan kecil terdengar indah di telinga Wildan, dia terus menatap wajah Rahma tanpa sepengetahuan pemiliknya.


"Panas, kamu balik gih!" perintah Wildan di jawab anggukan oleh Rahma. Perempuan itu melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


***


Cakra mendudukkan diri di di hadapan pak Somat ayah Rahma. Kebetulan tanah yang akan di banguni adalah tanah pak Somat.


"Katanya kamu mau beli tanah saya yang ada di kampung Nelayan?" tanya pak Somat.


"Benar pak, saya ingin membelinya. Dari rumah pak Jamal sapai tanah di dekat rumah Liora."


Pak Somat mengangguk-angguk. "Saya nggak keberatan tentang hal itu, terlebih sekarang tanahnya juga nggak keurus. Tapi di sana ada rumah beberapa Warga, saya nggak enak ngusir mereka."


"Setelah saya membeli tanahnya, maka warga sudah tanggung jawab saya."


"Kalau harga di setujui kenapa nggak?" pak Somat tertawa.


"Silahkan sebutkan saja harganya pak!"


Bukan tanpa asalan Cakra ingin membeli tanah itu, selain akan membangun rumah mewah untuk Liora, dia juga ingin membalas pak Jamal karena berani menfitnahnya dulu.


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπŸ₯°πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉ


Follow untuk melihat visual


IG: Tantye005

__ADS_1


Tiktok: Istri sahnya Eunwoo


__ADS_2