
"Kenapa wajah kamu seperti itu?" tanya Rocky pada adiknya yang sedari tadi berdiri di samping brangkar.
"Di pukul Tuan Cakra, Bang," lirih Eril.
"Kamu buat kesalahan apa lagi sampai Tuan Cakra marah? Harusnya kamu tuh bekerja dengan baik bahkan tanpa di gaji sekalipun. Tanpa Tuan Lubis kita nggak mungkin hidup senyaman ini," omel Rocky pada adiknya.
Kalau saja tidak ada selang infus di tangan, mungkin Eril akan mendapat pukulan kedua darinya.
Hembusan nafaf terdengar. "Aku kira bakal di belain," gumam Eril.
"Eril kamu dengar saya Kan?"
"Iya Bang, iya. Eril salah karena lengah. Sepertinya juga sebentar lagi Eril bakal di pecat, soalnya Bang Rocky udah sadar. Kenapa sih cepat banget sadarnya? Tidur lagi sana!"
Plak
Buah yang ada di atas nakas mendarat dengan nyaman di kepala Eril. "Dasar adek durhaka, kalau bukan saya kamu nggak mungkin bisa sekolah tinggi-tinggi."
"Hilih modal uang 400 sebulan aja bangga," cibir Eril semakin menyulut emosi Rocky.
Adik satunya ini memang tidak ada sopan-sopannya jika berbicara dengannya. Yang dia khawatirkan itu juga terjadi pada Cakra.
Selama ini Rocky sangat berhati-hati dalam melangkah hanya untuk melindungi Cakra sebagai anak dari seseorang yang menolongnya.
Hidup dia tidak seberuntung anak-anak di luar sana. Di telantarkan oleh orang tuanya di panti asuhan. Untung saja ayah Cakra mengambil dirinya dan menyekolahkan setinggi-tinggi sebagai teman dan pengawal untuk Cakra.
__ADS_1
"Itu di luar uang makan dan transportasi, sukur-sukur saya masih bisa nyekolahin kamu."
Perdebatan keduanya harus terhenti karena kehadiran Cakra berserta istri dan anaknya.
"Saya nggak bakal mecat kamu," ucap Cakra duduk di sofa.
Hal tersebut tentu saja membuat Eril kaget, jangan sampai Cakra mendengar semua perdebatannya dengan Rocky, atau wibawa abangnya itu akan hancur.
"Setelah Rocky kembali bekerja, kamu akan menjadi tangan kanan Liam dan Liora. Jaminannya nyawa kamu!"
Eril meneguk ludahnya kasar, mendapat tugas baru dari Cakra. Sungguh ini lebih sulit di banding mengurus perusahaan.
"Baik Tuan," pasrah Eril.
Kini Cakra beralih pada Rocky yang sedari tadi duduk dengan tegak.
"Bisa Tuan. Saya akan menjelaskan semuanya. Semua bukti saya simpan di kamar Tuan Lubis untuk berjaga-jaga. Sebab Tuan Brian dan Nona Rissa sangat licik. Dia yang menyebabkan kematian Tuan Lubis juga kecelakaan Anda."
Rocky menjeda sejenak, dia melirik Liora yang duduk di samping Cakra.
"Eril, tolong bawa Liam dan Liora ke suatu tempat sampai saya selesai!"
Eril segera mengangguk dan mengajak Liora juga Liam meninggalkan kamar yang di tempati Rocky.
Saat itulah Rocky melerai menceritakan semuanya, tentang bagaimana ayah Cakra meninggal, hingga laki-laki itu terdampar di desa orang.
__ADS_1
"Orang yang membunuh ayah anda adalah Tuan Brian. Dia yang menyabotase rem yang di kendarai Tuan Lubis saat akan menghadiri acara peresmian cabang perusahaan yang sekarang tengah di kendalikan oleh tuan Brian. Sebenarnya anak peruhaan itu memang untuknya, tetapi Tuan Lubis tahu bahwa Brian sangat membenci Anda, itulah mengapa dia mengantinya atas nama Anda."
"Saat Anda tahu semuanya dan ingin membalas perbuatan Brian. Anda menemuinya dalam keadaan emosi tanpa di kawal satu orangpun. Hal tersebut membuat Tuan Brian berkesempatan untuk menyelenyapkan Anda dengan mendorong ke jembatan. Dia sengaja menghentikan pencarian dan menyatakan anda telah meninggal dunia hanya untuk merebut semua kekuasaan. Sayangnya, dia tidak bisa mendapatkan itu karena ahli waris Anda adalah saya."
"Semua bukti ada di kamar Tuan Lubis, segeralah mengambilnya Tuan sebelum adik Anda mengetahui hal ini." Rocky mengulang kalimat tersebut, mengatakan bahwa semua bukti ada di rumah tempat Cakra tinggal sekarang.
Dan rumah itu sekarang sedang kosong. Membuat siapa saja bisa masuk untuk mencurinya.
.
.
.
.
.
.
.
Komentar Kalian semangat Author🤗🤗🤗
Yang nanya visual Cakra
__ADS_1