Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 89


__ADS_3

Liora langsung mendorong dada Cakra yang sudah tidak terhalang apapun itu. Bisikan Cakra sungguh membuatnya merinding seketika.


"Mas jangan ngadi-ngadih deh. Aku lagi hamil kalau anak kita kenapa-napa bagaimana? Aku juga lela rasanya ...." Liora tidak dapat melanjutkan kalimatnya ketika mulutnya sudah di bungkam oleh sang suami.


Ternyata ocehan yang sejak tadi dia loncarkan sama sekali tidak di dengarkan oleh Cakra. Karena Cakra terus menuntut balasan, akhirnya Liora pasrah dan membalas ciuman dan lu*matan mengebut dari suaminya.


Ketika akan kehabisan nafas, Liora mendorong dada Cakra kemudian menolehkan wajahnya kesamping.


"Sayang?" panggil Cakra dengan suara seraknya.


"Aku sesak nafas Mas," lirih Liora mengatur nafasnya yang memburu. "Maaf, tapi aku tidak bern*afsu," lanjutnya langsung membuat Cakra merosotkan tubuhnya.


"Mas marah?" tanya Liora


Cakra hanya mengeleng sebagai jawaban, laki-laki tampan itu memeluk Liora dari samping setelah mengulingkan tubuhnya. Percayalah, naf*su Cakra sudah ada di ubun-ubun dan ingin segera menuntaskannya, tapi mendengar kalimat Liora barusan membuat Cakra sangat kecewa.


"Maaf Mas, tapi akhir-akhir ini aku memang ...."


"Sudahlah." Cakra langsung bangun dari tidurnya kemudian keluar dari kamar setelah mengambil baju kaos di dalam lemari.


Hal itu tentu saja membuat Liora sedih.


"Harusnya aku tidak mengatakan itu, harusnya aku menerima saja walau tidak ingin," lirih Liora.


Karena merasa gerah dengan gaun yang dia kenakan, Liora segera masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Tidak lupa menghapus make up yang terasa berat di wajahnya.


Liora memakai piyama tidur seperti biasa, kemudian menyusul Cakra keluar dari kamar. Dengan langkah pelan, Liora menuruni satu persatu anak tangga untuk mencari suaminya di lantai dasar.


Liora sempat melirik keruang tamu dimana kekacauan terjadi karena balon-balon belum di bereskan sama sekali.


"Mas Cakra?" panggil Liora setelah membuka pintu ruang kerja suaminya, tapi yang dia cari tidak ada di sana.

__ADS_1


Liora kembali menghela nafas, sebelum kembali ke lantai dua. Satu lagi tempat yang belum dia kunjungi, yaitu kamar putranya.


Liora perlahan-lahan membukanya dan mendapati Cakra tidur membelakangi pintu seraya memeluk Liam.


"Katanya Mas tidak marah, tapi pindah tidur di kamar Liam. Maaf, kalau memang Mas mau, aku bisa ...."


"Tidurlah Ra, sudah tengah malam. Tidak baik ibu hamil tidur terlalu larut," sahut Cakra tanpa merubah posisi tidurnya.


"Apa aku salah kalau mengatakan hal itu? Aku juga tidak mengerti Mas, aku sudah mencoba tapi tidak bisa. Entah ini hormon kehamilan atau bukan aku juga bingung menghadapinya. Aku tidak bermaksud buat ...." Liora tidak melanjutkan kalimatnya ketika melihat Cakra bangun dari tidurnya kemudian mendekati Liora.


Tanpa mengatakan apapun, Cakra langsung memeluk Liora sangat erat, mengelus rambut wanita itu sangat lembut dan penuh kasih sayang.


"Mas sama sekali tidak marah, mas mengerti apa yang kamu rasakan Ra. Mungkin itu memang hormon kehamilan jadi mas tidak bisa memaksa. Mas milih tidur di kamar Liam untuk meredamkan sesuatu yang sudah ada di ubun-ubun, karena kamu melarang mas untuk menuntaskan seorang diri," bisik Cakra panjang lebar tidak ingin membuat Liora sedih dan salah paham padanya.


"Ya sudah Mas tuntaskan saja, aku tidak apa-apa."


"Sassttttttt, mas tidak akan melakukan apapun jika kamu juga tidak bisa menikmatinya. Tidurlah Sayang, nanti mas menyusul ke kamar."


"Janji?" tanya Liora setelah pelukan Cakra terlepas.


Cup


Cakra mengecup kening Liora sebelum istrinya kembali ke kamar utama.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Liora!


...****************...


Gais, mampir di novel kakak online aku ya🤗


Judul: Rayuan sang penggoda


Napen: Poel story27


"Jika aku mencintai lelaki lain, apa itu tidak masalah bagimu, Mas? Seperti kau mencintai wanita itu?"


Bahtera rumah tangga Karina kini berada di ambang kehancuran.


Suami yang sangat ia cintai tega mengingkari janji suci yang telah terjalin selama tiga tahun.


Awalnya Karina diam, meski telah mengetahui perselingkuhan sang suami dengan sekretaris barunya.


Namun, lama-kelamaan ia pun tidak sanggup lagi menahan sakit, dan memutuskan untuk pergi.


Pada saat yang sama Karina bertemu dengan seseorang dari masa lalu.

__ADS_1


Akankah Karina menemukan kebahagiaan baru?



__ADS_2