
Hening.
Begitulah keadaan yang mengambarkan kondisi di sekitar Arya, saat ini pria itu sedang diliputi ketakutan yang teramat. Arya takut jika Shafa tidak bisa selamat.
Bayangan detik-detik kepergian Vidya kembali berputar di dalam benaknya, dalam diam Arya terus memunajatkan doa untuk kesembuhan Shafa yang saat ini sedang berjuang memperhankan hidupnya.
Dokter bilang Shafa menggalami banyak pendarahan, dan itu kembali mengingatkan Arya akan Vidya. Dulu Vidya juga menggalami banyak pendarahan setelah melahirkan Reilla, sehingga nyawa Vidya tak tertolong.
Rasa sesak di dalam hati membuat tubuh Arya terasa lemas, kenapa ini harus terjadi lagi? Kenapa ia harus menginjakkan kaki di rumah sakit lagi bahkan menunggu seseorang yang wajahnya mirip dengan orang yang selalu memenuhi relung hati Arya.
Berkali-kali Arya berusaha kuat meyakinkan dirinya bahwa Shafa pasti akan baik-baik saja, gadis itu harus selamat. Karna bagaimanapun Arya masih di rundung rasa penasaran akan kebenaran siapa sebenarnya gadis bernama Shafa itu yang memiliki wajah mirip Vidya.
Seorang dokter keluar dari ruangan operasi, Arya segera bangkit dan menghampiri dokter tersebut untuk dimintai keterangan keadaan Shafa saat ini.
"Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Arya menatap Dokter tersebut dengan lekat.
"Alhamdulillah operasinya lancar, namun ada sesuatu hal yang haru saya beritahu pada anda tentang pasien."
"Apa itu Dok?" Tanya Arya yang bingung sebenarnya apa yang ingin Dokter itu sampaikan padanya.
"Mari ikut saya ke ruangan saya terlebih dahulu, di sana saya akan menjelaskan semuanya pada anda."
Arya menurut, ia berjalan bersama Dokter tersebut menuju ruangan Dokter itu.
"Peluru yang bersarang di tubuh pasien sudah berhasil kami keluarkan, untung saja anda bisa segera membawanya ke sini. Namun seperti yang saya bilang sebelumnya ada sesuatu hal yang sangat penting tentang pasien yang ingin saya sampaikan pada anda."
"Apa itu Dok?" Tanya Arya yang semakin di buat penasaran, Dokter pun menghela nafasnya dan kemudian menjelaskan apa yang ingin ia jelaskan pada Arya.
Dokter itu mengatakan bahwa keadaan Shafa saat ini sudah lebih baik namun ia masih belum sadarkan diri, namun di tubuh Shafa ada sesuatu yang aneh seperti banyak luka memar di sana bahkan ada luka seperti sayatan yang sudah mengering, terdapat di punggungnya persis di dekat luka tembak.
Dokter juga menjelaskan ada kejanggalan yang mereka dapatkan, selain luka-luka di tubuh Shafa. Dokter itu sempat mengecek seluruh tubuh pasien karna khawatir ada bagian lainnya yang juga terlika, namun ia malah menemukan sebuah fakta yang mencengangkan. Ada kerusakan di bagian otak Shafa, yang dapat mempengaruhi perilaku bahkan pola fikir gadis itu.
Dokter bilang Shafa menggalami hilang ingatan, sepertinya ada traumatis yang gadis itu alami di dalam hidupnya. Entah apa yang sebenarnya sudah ia alami namun melihat dari semua bukti yang ada, Dokter itu yakin bahwa Shafa sudah menggalami siksaan yang berat.
Arya yang mendengarkan hal itu hanya bisa menghela nafasnya pelan, mendengarnya saja membuat Arya ikut membayangkan betapa berat hidup yang sudah Shafa jalani selama ini.
Namun ada satu hal yang mengganjal di fikiran Arya, jika Shafa menggalami hilang ingatan itu bisa mempersulit Arya untuk mengungkap fakta siapa sebenarnya Shafa ini.
"Apakah kita tidak bisa menggembalikan ingatannya lagi Dok?"
"Tidak bisa Pak, ingatannya perlahan akan membaik jika dirinya juga merasa baik dan tidak terus merasa tertekan karna itu bisa mempengaruhi kondisi psikologis pasien."
__ADS_1
Arya menganggukkan kepalanya, kalau begitu ia harus menjaga Shafa mulai saat ini. Dia harus menjaga gadis itu hingga ingatannya pulih kembali dan setelah itu barulah Arya bisa tau siapa sebenarnya Shafa ini.
..............................
Di lain sisi saat ini, berbeda dengan keadaan Arya yang sedang khawatir. Syabil dan Reilla saat ini semakin akrab antara satu sama lain.
Pagi ini Syabil sedang memakaikan dasi di leher Reilla, ia juga mengikatkan rambut Reilla dan mengurus segala keperluan Reilla.
Reilla sangat senang sekali ada Syabil di dekatnya, meskipun Ayahnya saat ini tidak ada tapi Reilla tidak terlalu merasa kesepian karna ada Syabil yang sedaritadi pagi selalu membantunya bersiap-siap sebelum berangkat ke sekolah. Bahkan Syabil juga sudah membuatkannya sarapan yang lezat untuk Reilla, tak lupa Syabil juga menyiapkan kotak bekal makan siang khusus untuk Reilla.
Di perlakukan seperti itu oleh Syabil membuat Reilla sangat senang, apalagi saat ini Syabil sedang mengantarnya ke sekolah. Sebelum Reilla benar-benar masuk ke dalam kelasnya, Syabil kembali merapihkan pakaian Reilla dan tak lupa memberikan kecupan di dahi Reilla.
Rasa senang kembali menyeruak ke dalam hati Reilla, ia merasa sangat senang bisa mendapatkan perlakuan seperti itu dari Syabil. Reilla merasa seperti memiliki seorang Ibu, karna apa yang Syabil lakukan itu seperti apa yang teman-temannya katakan pada Reilla bahwa Ibu mereka juga melakukan semua itu di setiap paginya.
"Belajar yang rajin ya, jangan nakal oke?"
"Siap Komandan!" Ujar Reilla mendapatkan usapan lembut di keningnya oleh Syabil.
"Rei masuk ke dalam dulu ya Kak," pamit Reilla sambil menyalimi tangan Syabil.
"Iya selamat belajar," ucap Syabil sambil memberikan senyuman lebar untuk Reilla sebelum gadis itu benar-benar masuk ke kelasnya.
"Itu siapanya Rei kok akrab banget sih?"
Langkah Syabil terhenti ketika ia mendengar bisikan dari segerombolan Ibu-Ibu yang saat ini sedang membicarakannya.
"Iya siapa sih dia? Kok muda banget gitu ya mukanya."
"Apa jangan-jangan itu Ibu barunya Reilla? Ya ampun masih muda banget, cantik lagi. Kok dia mau sih sama duda anak satu?"
"Ya pasti karna uanglah, Ayahnya Reilla kan pengusaha kaya dan tajir melintir. Udah pasti cewek itu cuma mau dapetin hartanya Ayahnya Reilla."
Tangan Syabil mengepal mendengarkan gosip murahan dari para Ibu-Ibu itu, mendadak telinganya panas mendengar ucapan-ucapan yang memojokkannya.
Syabil pun berusaha tak mengubrisnya, ia justru kembali melangkah menuju ke mobil yang saat ini sedang menunggunya.
"Jalan Pak," ujar Syabil pada Pak Rahmat, supir yang Arya pekerjakan khusus untuk mengantar Syabil dan Reilla selama Arya tidak ada di rumah.
Di perjalanan Syabil kembali memikirkan ucapan Ibu-Ibu itu, entah mengapa Syabil merasa kesal setelah mendengarnya. Ia tidak masalah jika dirinya di sebut sebagai Ibunya Reilla tapi yang membuat dirinya kesal saat Ibu-Ibu itu berkata bahwa dirinya hanya menginginkan uang Arya saja, padahal kalau mereka tau faktanya Syabil dan Arya tidak menikah sama sekali.
Syabil juga tidak pernah berfikir untuk mengincar harta kekayaan Arya, di terima di rumahnya saja sudah membuat Syabil merasa sangat bersyukur dan merasa berhutang budi atas segala kebaikan yang Arya telah lalukan untuknya.
__ADS_1
Syabil menghela nafasnya, fikirannya beralih pada Kevin. Apa kabar pria itu? Apakah dia baik-baik saja? Apakah ia meminum obatnya atau tidak, Syabil sangat mengkhawatirkannya.
Tapi ada rasa takut di hatinya jika harus kembali bertemu dengan Kevin, ia merasa takut jika pria itu akan menyakitinya lagi untuk kesekian kalinya. Syabil berusaha untuk tetap tegar saat ini, ia berusaha menyungingkan senyumannya walaupun rasanya hatinya terasa perih.
Suara yang berasal dari gawai milik Syabil, membuat perhatian gadis itu teralihkan. Syabil segera mengangkat panggilan yang masuk ke dalam gawainya itu.
"Halo ini siapa?" Tanya Syabil, karna panggilan yang masuk berasal dari nomor yang tak ia kenal.
"Ini saya Arya," balas suara dari sebrang sana.
"Dapat nomor saya darimana kamu?" Tanya Syabil yang bingung darimana Arya bisa mendapatkan nomornya.
"Darimana itu tidak penting, saya hanya ingin bertanya bagaimana keadaan putri saya? Apakah dia baik-baik saja selama saya pergi? Apa dia marah saya tidak menemaninya pergi ke rumah Oma nya semalam?"
"Biar saya jawab satu-satu ya Om, jadi gini pertama putri anda baik-baik saja dan saya juga sudah mengantarkannya ke sekolah, kedua dia baik-baik saja selama Om pergi, dan ketiga putri Om sempat marah karna tidak mengantarkannya ke rumah Oma nya yang sedang berulang tahun. Tapi tenang saja saya sudah berhasil membujuknya."
Syabil mendengar helaan nafas lega dari sebrang sana.
"Terimakasih banyak Syabil, kamu bisa mengurus putri saya dengan sangat baik. Saya sangat berterimakasih akan hal itu."
"Saya yang justru harus berterimakasih karna kamu sudah mengizinkan saya untuk tinggal di rumah kamu."
"Ah iya saya hampir lupa, bagaimana keadaan kamu? Kamu baik-baik saja kan?"
Syabil terdiam ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Arya, mendadak pipi Syabil terasa memanas mendengar nada penuh kekhawatiran dari pertanyaan Arya.
"Lumayan baik," jawab Syabil yang berusaha bersikap biasa saja.
"Syukurlah, saya akan pulang ke rumah siang ini. Saya harap ketika saya pulang nanti kamu sudah ada di rumah, kalau begitu saya akhiri dulu panggilannya ya."
"Iy-"
Tututtttt
belum sempat Syabil meneruskan perkataannya, Arya sudah lebih dulu mengakhiri panggilan tersebut membuat Syabil berdecak kesal.
Namun tak lama Syabil kembali tersenyum, ia mengenggam gawainya erat. Sadar akan dirinya yang sedaritadi tersenyum dan bertingkah aneh Syabil malah tertawa.
Ia tidak tau apa yang sedang terjadi padanya, namun berbicara di telpon dengan Arya tadi membuat sesuatu di dalam hati Syabil terasa menghangat dan jantungnya juga terasa berdebar-debar dan terasa beda dari biasanya.
"Gue kenapa sih?" Tanya Syabil yang tak mengerti ada apa dengan dirinya sekarang, namun Syabil tak mau ambil pusing. Gadis itu malah kembali tersenyum, mendadak ia jadi merasa sangat bahagia setelah menerima telpon dari Arya pagi ini.
__ADS_1